BLITAR KAWENTAR - Memasuki Rumah Ibu, pengunjung langsung disambut suasana menenangkan.
Gemericik air dari bambu yang mengalir ke kolam kecil berisi ikan menghadirkan kesan damai sejak langkah pertama.
Baca Juga: Pemotor di Blitar Nekat Naik Trotoar Siap-siap Kena Tilang
Interior bangunan lawas sekira 1953 tetap dipertahankan, lengkap dengan plafon tinggi dan perabotan jadul yang memberi nuansa hangat sekaligus unik.
Konsep kehangatan itu bukan tanpa cerita.
Nama “Rumah Ibu” diambil dari makna rumah sebagai tempat pulang yang selalu dirindukan, sekaligus terinspirasi dari sosok ibu yang identik dengan ketulusan dan kenyamanan.
Kafe ini juga menjadi bentuk perhatian sang owner, Septina Candrasari, warga Kelurahan Karangsari yang kini menetap di Jakarta Selatan, kepada ibunya.
Baca Juga: Pemkab Gelontorkan Rp1,5 Miliar untuk Terangi Sejumlah Ruas Jalan di Kabupaten Blitar
Rumah yang awalnya dibeli untuk kepentingan pribadi kemudian dihidupkan menjadi ruang yang bisa dinikmati banyak orang.
”Kami ingin setiap orang yang datang merasakan suasana seperti pulang ke rumah sendiri,” ujar Yudha Barito Hermawan, manajer operasional.
Konsep ini diwujudkan lewat suasana ruang yang santai tanpa sekat kaku serta pelayanan yang lebih akrab.
“Karyawan ngobrol dengan pengunjung seperti sama teman, biar pengunjung betah,” tambahnya.
Menariknya, kafe ini tidak direncanakan sejak awal.
Tempat ini semula akan dijadikan lembaga pelatihan kerja (LPK) bahasa Jepang.
Namun, seiring adanya program kampung tematik Jepang di kawasan tersebut, konsepnya berkembang menjadi kafe bernuansa Jepang.(mg3/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada