BLITAR KAWENTAR – Hasil pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar pada triwulan pertama 2026 mengungkap fakta medis yang mengkhawatirkan terkait tren penyakit tidak menular (PTM).
Dari puluhan ribu warga yang berpartisipasi, obesitas sentral atau penumpukan lemak berlebih di area perut menjadi temuan masalah kesehatan yang paling dominan di Bumi Penataran.
Baca Juga: Sarpras Minim, TKA Jenjang SD di Kota Blitar Pinjam 62 Komputer Milik SMP
Berdasarkan data laporan CKG periode Januari hingga Maret, terdapat 22.459 orang yang terdeteksi mengalami obesitas sentral.
Angka signifikan ini diperoleh dari total 72.468 warga yang menjalani pengukuran lingkar perut secara mendalam melalui berbagai posko layanan kesehatan terpadu.
Baca Juga: Peminat Selalu Tinggi, Dispendik Kabupaten Blitar Tambah Rombel Baru di Beberapa SMPN Ini
"Data ini harus menjadi alarm serius bagi kita semua.
Obesitas sentral bukan sekadar masalah estetika atau penampilan, melainkan pintu masuk utama bagi berbagai penyakit degeneratif yang mematikan, seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, hingga gagal jantung," tegas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto, kemarin.
Baca Juga: Puluhan Pikap KDMP Tiba di Blitar untuk Tahap Pertama, Begini Respon Kades Penerima
Selain pengukuran lingkar perut, tren pemeriksaan di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat sangat antusias memanfaatkan layanan cek tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat.
Anggit menyebut, meski kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri mulai meningkat, sering kali mereka baru menyadari adanya risiko kesehatan tinggi setelah hasil tes laboratorium keluar.
"Banyak warga yang merasa sehat secara fisik namun ternyata memiliki kadar gula darah atau tekanan darah yang melonjak tinggi.
Inilah urgensi dari program CKG, agar kita bisa melakukan intervensi medis sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi komplikasi kronis yang sulit disembuhkan," tambahnya.
Dinkes mengimbau masyarakat untuk segera melakukan perbaikan pola hidup dengan menerapkan prinsip gizi seimbang serta membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
"Melalui deteksi dini yang masif dan rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, diharapkan angka penderita penyakit tidak menular di Kabupaten Blitar dapat ditekan secara signifikan demi tercapainya kualitas hidup masyarakat yang lebih baik," tutupnya.(kho/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada