BLITAR KAWENTAR – Upaya pengembangbiakan rusa Maliran di Penangkaran Rusa Jatilengger, Kecamatan Ponggok, dilakukan dengan pendekatan alami tanpa intervensi khusus dari manusia.
Metode ini dipilih sebagai bagian dari strategi konservasi agar siklus reproduksi rusa tetap berlangsung secara normal sesuai habitat aslinya.
Baca Juga: Sarpras Minim, TKA Jenjang SD di Kota Blitar Pinjam 62 Komputer Milik SMP
Penjaga Penangkaran Rusa Jatilengger, Hermanto, menjelaskan bahwa pengelola tidak menerapkan teknik pembiakan buatan dalam proses breeding.
Seluruh proses perkembangbiakan dibiarkan berlangsung secara alami di dalam kawasan penangkaran.
Baca Juga: Peminat Selalu Tinggi, Dispendik Kabupaten Blitar Tambah Rombel Baru di Beberapa SMPN Ini
“Kalau untuk perkembangbiakan, kami biarkan secara alami, jadi tidak ada metode khusus,” ujarnya, kemarin (14/4).
Menurutnya, metode ini dinilai lebih aman bagi kondisi fisiologis rusa sekaligus meminimalisasi risiko stres pada satwa.
Baca Juga: Puluhan Pikap KDMP Tiba di Blitar untuk Tahap Pertama, Begini Respon Kades Penerima
"Lingkungan penangkaran diupayakan menyerupai habitat alami, sehingga rusa dapat berkembang biak dengan nyaman tanpa tekanan berlebihan dari aktivitas manusia," katanya.
Selain faktor lingkungan, keberhasilan breeding juga ditunjang oleh pola perawatan yang konsisten, terutama dalam pemenuhan pakan dan pengawasan kesehatan.
Pakan utama rusa Maliran berupa hijauan seperti rumput dan daun-daunan, yang dilengkapi dengan tambahan nutrisi seperti ketela dan kulit kedelai untuk menjaga keseimbangan gizi.
“Biasanya kangkung dan rumput, tapi untuk pemenuhan nutrisi, kami berikan ketela dan kulit kedelai,” jelas Hermanto.
Baca Juga: Toyota Avanza 2012-2014 Disebut Paling Bandel! Ini Alasan Mesin VVT-i Jadi Favorit di 2025
Pengelola juga rutin memantau kondisi kesehatan rusa, mulai dari perilaku, nafsu makan, hingga kondisi fisik seperti kulit dan kuku.
"Jika ditemukan tanda-tanda gangguan kesehatan, petugas segera berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut," sambungnya.
Di sisi lain, interaksi antara pengunjung dan rusa turut diatur guna mendukung keberhasilan pengembangbiakan.
Pengunjung diimbau tidak memberi pakan sembarangan agar tidak mengganggu pola makan maupun kesehatan satwa.
Saat ini, populasi rusa Maliran di penangkaran tersebut diperkirakan mencapai sekitar 100 ekor.
Pendataan terus dilakukan sebagai dasar evaluasi keberhasilan breeding alami sekaligus penentuan pola perawatan ke depan.
Dengan metode ini, pengelola berharap populasi rusa Maliran dapat terus bertambah secara sehat dan berkelanjutan.(kho/c1/sub)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly