Pandangan Pengamat Sosial Blitar Tentang Tren Komunitas Olahraga di Kalangan Anak Muda

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 14:00 WIB

 

 

 

Tren Olahraga di Kalangan Anak Muda - Bukan Sekadar Kebutuhan Sehat, melainkan Juga Ajang Validasi
Tren Olahraga di Kalangan Anak Muda - Bukan Sekadar Kebutuhan Sehat, melainkan Juga Ajang Validasi

 

BLITAR KAWENTAR - Tren olahraga di kalangan anak muda kini mengalami pergeseran makna.

Tidak lagi sekadar untuk menjaga kesehatan, tapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas diri.

Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Rp80 Jutaan 2025: Adu Kuat Avanza, Xenia, Livina, Ertiga, hingga Confero, Mana Paling Worth It?

Di samping itu, terbukanya akses media sosial (medsos) sering dimanfaatkan anak muda sebagai ajang validasi diri serta personel branding.

Mereka hampir selalu membagikan aktivitas olahraganya di sejumlah platform medsos seperti Instagram dan Strava.

Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Resmi Hadir, MPV Murah 7 Penumpang dengan Fitur Lengkap dan Harga Ramah Kantong!

Pengamat sosial sekaligus dosen sosiologi Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar, Novitasari, menyebut fenomena ini sebagai bentuk dualitas fungsi olahraga.

”Sekarang olahraga tidak hanya soal sehat, tapi juga menjadi simbol gaya hidup. Anak muda ingin menunjukkan citra diri yang aktif, modern, dan produktif,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Baca Juga: Kenapa Mobil Nissan Mahal dan Kurang Laku di Indonesia? Ini Jawaban Lengkap yang Jarang Dibahas!

Menurutnya, perubahan ini tidak lepas dari pengaruh budaya populer dan media sosial yang membentuk standar baru dalam beraktivitas.

Bahkan, penggunaan outfit olahraga bermerek hingga perangkat seperti smartwatch turut memperkuat citra tersebut.

Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Bikin Heboh! MPV Murah 7 Penumpang Rp140 Jutaan Siap Goyang Sigra-Calya

“Dalam sosiologi, ini bisa dilihat sebagai conspicuous consumption, di mana konsumsi dilakukan untuk menunjukkan status sosial,” jelasnya.

Akibatnya, motivasi olahraga tidak sepenuhnya murni dari kesadaran kesehatan, tetapi juga dorongan untuk terlihat mengikuti tren di medsos.

Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp100 Jutaan Ini Bikin Pasar Otomotif Heboh!

Meski demikian, fenomena ini memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang.

“Validasi digital seperti like dan komentar bisa meningkatkan semangat olahraga karena ada pengakuan dari orang lain,” ujarnya.

Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Siap Guncang Avanza, MPV Murah 7 Penumpang Ini Bisa Jadi Game Changer di Indonesia!

Namun, ketergantungan terhadap respons tersebut justru bisa menurunkan konsistensi.

Apalagi, konten tersebut juga menampilkan hasil tubuh ideal yang tidak realistis bagi sebagian orang.

Baca Juga: Nissan Grafite Resmi Diumumkan, MPV Murah 7 Penumpang Ini Siap Tantang Triber dan Bikin Pasar Otomotif Panas!

“Kalau tidak mendapat perhatian sesuai harapan, motivasi bisa turun. Sebagian anak muda bisa merasa minder dan enggan memulai olahraga,” jelasnya.(sub/c1)

Editor : Oksania Difa Ilmada
pengamat sosial olahraga gen z validasi digital tren olahraga