BLITAR KAWENTAR - Tren olahraga di kalangan anak muda kini mengalami pergeseran makna.
Tidak lagi sekadar untuk menjaga kesehatan, tapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas diri.
Di samping itu, terbukanya akses media sosial (medsos) sering dimanfaatkan anak muda sebagai ajang validasi diri serta personel branding.
Mereka hampir selalu membagikan aktivitas olahraganya di sejumlah platform medsos seperti Instagram dan Strava.
Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Resmi Hadir, MPV Murah 7 Penumpang dengan Fitur Lengkap dan Harga Ramah Kantong!
Pengamat sosial sekaligus dosen sosiologi Universitas Islam Balitar (UNISBA) Blitar, Novitasari, menyebut fenomena ini sebagai bentuk dualitas fungsi olahraga.
”Sekarang olahraga tidak hanya soal sehat, tapi juga menjadi simbol gaya hidup. Anak muda ingin menunjukkan citra diri yang aktif, modern, dan produktif,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.
Baca Juga: Kenapa Mobil Nissan Mahal dan Kurang Laku di Indonesia? Ini Jawaban Lengkap yang Jarang Dibahas!
Menurutnya, perubahan ini tidak lepas dari pengaruh budaya populer dan media sosial yang membentuk standar baru dalam beraktivitas.
Bahkan, penggunaan outfit olahraga bermerek hingga perangkat seperti smartwatch turut memperkuat citra tersebut.
Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Bikin Heboh! MPV Murah 7 Penumpang Rp140 Jutaan Siap Goyang Sigra-Calya
“Dalam sosiologi, ini bisa dilihat sebagai conspicuous consumption, di mana konsumsi dilakukan untuk menunjukkan status sosial,” jelasnya.
Akibatnya, motivasi olahraga tidak sepenuhnya murni dari kesadaran kesehatan, tetapi juga dorongan untuk terlihat mengikuti tren di medsos.
Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp100 Jutaan Ini Bikin Pasar Otomotif Heboh!
Meski demikian, fenomena ini memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang.
“Validasi digital seperti like dan komentar bisa meningkatkan semangat olahraga karena ada pengakuan dari orang lain,” ujarnya.
Namun, ketergantungan terhadap respons tersebut justru bisa menurunkan konsistensi.
Apalagi, konten tersebut juga menampilkan hasil tubuh ideal yang tidak realistis bagi sebagian orang.
“Kalau tidak mendapat perhatian sesuai harapan, motivasi bisa turun. Sebagian anak muda bisa merasa minder dan enggan memulai olahraga,” jelasnya.(sub/c1)
Editor : Oksania Difa Ilmada