BLITAR KAWENTAR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar memperketat pengawasan terhadap penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
Meski kasus demam berdarah dengue (DBD) di awal 2026 ini tercatat nihil, masyarakat diminta tidak lengah, mengingat kondisi cuaca pancaroba yang rentan menjadi siklus kembang biak nyamuk.
Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Resmi Hadir, MPV Murah 7 Penumpang dengan Fitur Lengkap dan Harga Ramah Kantong!
Plt Kepala Dinkes Kota Blitar, Dissie Laksmonowati Arlini, mengungkapkan bahwa berdasarkan data tahun 2025 tercatat ada 49 kasus DBD.
Sementara itu, untuk kasus demam dengue (DD), pada tahun 2025 ditemukan sebanyak 280 kasus.
Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp105 Jutaan Ini Siap Tantang Sigra-Calya!
"Untuk tahun 2026 hingga awal April, kasus DBD saat ini masih nol. Yang ditemukan adalah demam dengue (DD) sebanyak 32 kasus," ujar Dissie kepada Koran ini kemarin (15/4).
Dia menjelaskan, secara klinis terdapat perbedaan antara DD dan DBD meski keduanya berasal dari virus yang sama.
DD cenderung lebih ringan, sedangkan DBD memiliki derajat kesakitan yang lebih berat dan memerlukan penanganan cepat agar tidak berakibat fatal.
"Sebenarnya virusnya sama, tapi derajat kesakitannya (DD) lebih rendah. Secara prosedur, DD tidak menjadi pantauan khusus dalam laporan ke kementerian, namun kami di daerah tetap memantau keduanya secara intensif," imbuhnya.
Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp100 Jutaan Ini Bikin Pasar Otomotif Heboh!
Memasuki masa transisi dari musim hujan ke kemarau (pancaroba), risiko penularan tetap tinggi.
Genangan air sisa hujan yang tidak terurus menjadi tempat ideal bagi nyamuk untuk bertelur.
Ditambah lagi, suhu hangat dan kelembapan tinggi saat pancaroba mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.
Sebagai langkah antisipasi, dia menekankan pentingnya kegiatan berbasis lingkungan.
Salah satu program unggulan yang terus digalakkan adalah gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).
"Ini program yang sangat efektif dan minim biaya. Intinya adalah kemandirian masyarakat. Setiap rumah bertanggung jawab terhadap kondisi jentik di lingkungannya masing-masing," tegas Dissie.
Selain mengandalkan kesadaran warga, para kader di posyandu juga dikerahkan untuk masif melakukan sosialisasi.
Menurutnya, dengan memutus rantai jentik, maka mata rantai penularan virus ke tubuh manusia secara otomatis akan terhenti.
Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp105 Jutaan Ini Bikin Geger Pasar!
"Kami harap masyarakat rutin melakukan pembersihan lingkungan secara mandiri. Hal sederhana seperti memastikan tidak ada jentik di bak mandi atau wadah air adalah kunci utama pencegahan," pungkasnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda