BLITAR KAWENTAR - Kenaikan harga plastik mulai terjadi di Kota Blitar. Pasca-Lebaran, sejumlah jenis kemasan tercatat mengalami kenaikan antara 50 hingga 80 persen.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Parminto mengatakan, kenaikan paling tinggi terjadi pada kantong plastik kresek.
Baca Juga: Puluhan Warga di Kota Blitar Terserang Demam Dengue, Dinkes: Ini Versi Ringan dari DBD
Harga yang sebelumnya Rp 28 ribu per kilogram, naik menjadi Rp 42 ribu, dan kini mencapai Rp 58 ribu.
“Kenaikan paling tinggi terjadi pada kresek. Sementara jenis lain juga ikut naik,” ujarnya kepada Koran ini kemarin (15/4).
Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kemasan lain seperti twin wall atau kotak plastik bening yang rata-rata naik Rp 1.000 per 10 pack serta gelas plastik yang naik sekitar Rp 1.500 per 50 biji.
Kertas dan tisu juga dilaporkan mengalami kenaikan harga.
Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Resmi Hadir, MPV Murah 7 Penumpang dengan Fitur Lengkap dan Harga Ramah Kantong!
Menurut Parminto, kenaikan harga plastik dipengaruhi bahan baku yang masih bergantung pada impor sehingga menjadi kewenangan pemerintah pusat.
“Karena bahan dasarnya impor, ini menjadi domain pemerintah pusat. Di daerah kami lebih pada bagaimana menyikapi kondisi ini,” katanya.
Baca Juga: Kenapa Mobil Nissan Mahal dan Kurang Laku di Indonesia? Ini Jawaban Lengkap yang Jarang Dibahas!
Sebagai langkah respons, Pemkot Blitar mengacu pada Perwali 21 Tahun 2023 terkait pembatasan penggunaan plastik sekali pakai.
Melalui program diet plastik, pemerintah terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami mengimbau pedagang bisa menggunakan bahan non plastik untuk membungkus jualannya,” ujar Parminto.
Dia juga mendorong masyarakat mulai mengubah kebiasaan saat berbelanja dengan membawa wadah sendiri dari bahan nonplastik.
“Termasuk para pembeli juga diharapkan membawa tas atau wadah belanja nonplastik,” tambahnya.
Pemerintah berharap upaya tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap plastik di tengah kenaikan harga yang terjadi.
“Kami berharap kondisi ini bisa menjadi momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di masyarakat,” pungkasnya. (bud/c1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda