Fenomena FOMO Olahraga di Mata Anak Muda Blitar: Jadi Gaya Hidup, Tambah Relasi Sosial

M. Subchan Abdullah • Dipublikasikan Kamis, 16 April 2026 | 15:00 WIB
Jadi Gaya Hidup, Tambah Relasi Sosial
Jadi Gaya Hidup, Tambah Relasi Sosial

 

BLITAR KAWENTAR - Tren lari di kalangan anak muda, khususnya Gen Z, kini semakin terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Aktivitas ini tidak lagi sekadar olahraga fisik, tetapi telah berkembang menjadi cara untuk bertahan dari tekanan hidup yang kian kompleks. 

Baca Juga: Masyarakat Blitar Kudu Merogoh Kocek Lebih Dalam, Harga Plastik Melambung hingga 80 Persen

Nirwana Enjel melihat bahwa banyak Gen Z berlari bukan karena ambisi atletik, melainkan sebagai bentuk pelarian dari burnout.

“Sekarang tuh lari bukan soal cepat atau jauh, tapi lebih ke gimana kita bisa ‘napas’ lagi setelah capek sama hidup,” ujarnya.

Baca Juga: Vibes Baru Naik KA Singasari dari Stasiun Blitar: Mulai 15 April Sudah Berbahan Stainless Steel

Di sisi lain, lari juga menjelma menjadi aktivitas sosial yang santai.

Alih-alih serius mengejar performa, banyak anak muda bergabung dengan klub atau komunitas lari untuk bertemu teman baru, lalu melanjutkan aktivitas dengan nongkrong atau ngopi bersama.

Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Rp80 Jutaan 2025: Adu Kuat Avanza, Xenia, Livina, Ertiga, hingga Confero, Mana Paling Worth It?

Pola ini menciptakan keseimbangan antara gaya hidup sehat dan kebutuhan akan relasi sosial.

”Habis lari biasanya kita lanjut ngobrol santai, itu yang bikin lari jadi terasa ringan dan fun,” tambah Enjel.

Baca Juga: Nissan Gravite 2026 Siap Hantam Avanza, MPV Murah 7 Penumpang Ini Tawarkan Desain Modern dan Fitur Canggih!

Tak bisa dipungkiri, media sosial juga punya peran besar dalam membentuk tren ini.

Gen Z kerap menjadikan lari sebagai konten, mulai dari unggahan hasil Strava, pace, jarak tempuh, hingga outfit of the day (OOTD) saat berlari.

Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp105 Jutaan Ini Bikin Geger Pasar!

Hal ini membuat lari turut menjadi bagian dari personal branding.

Meski sering dianggap sekadar FOMO (fear of missing out, Red), Nirwana menilai ada sisi positif di baliknya.

Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp105 Jutaan Ini Bikin Geger Pasar!

“Awalnya mungkin ikut-ikutan biar kelihatan healthy, tapi lama-lama jadi kebiasaan yang beneran berdampak,” pungkasnya.

Pada akhirnya, tren ini menunjukkan bahwa lari bukan sekadar tren sesaat.

Baca Juga: Kenapa Mobil Nissan Mahal dan Kurang Laku di Indonesia? Ini Jawaban Lengkap yang Jarang Dibahas!

Dia menjadi ruang bagi Gen Z untuk menggabungkan kesehatan, healing, interaksi sosial, dan eksistensi digital dalam satu aktivitas sederhana.

Sebuah fenomena yang ia sebut sebagai “pelari konten”.(bud/c1/sub)

Editor : Oksania Difa Ilmada
komunitas olahraga blitar komunitas lari blitar trenn olahraga lari olahraga ala anak muda tren olahraga