BLITAR KAWENTAR - Tren lari di kalangan anak muda, khususnya Gen Z, kini semakin terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Aktivitas ini tidak lagi sekadar olahraga fisik, tetapi telah berkembang menjadi cara untuk bertahan dari tekanan hidup yang kian kompleks.
Baca Juga: Masyarakat Blitar Kudu Merogoh Kocek Lebih Dalam, Harga Plastik Melambung hingga 80 Persen
Nirwana Enjel melihat bahwa banyak Gen Z berlari bukan karena ambisi atletik, melainkan sebagai bentuk pelarian dari burnout.
“Sekarang tuh lari bukan soal cepat atau jauh, tapi lebih ke gimana kita bisa ‘napas’ lagi setelah capek sama hidup,” ujarnya.
Baca Juga: Vibes Baru Naik KA Singasari dari Stasiun Blitar: Mulai 15 April Sudah Berbahan Stainless Steel
Di sisi lain, lari juga menjelma menjadi aktivitas sosial yang santai.
Alih-alih serius mengejar performa, banyak anak muda bergabung dengan klub atau komunitas lari untuk bertemu teman baru, lalu melanjutkan aktivitas dengan nongkrong atau ngopi bersama.
Pola ini menciptakan keseimbangan antara gaya hidup sehat dan kebutuhan akan relasi sosial.
”Habis lari biasanya kita lanjut ngobrol santai, itu yang bikin lari jadi terasa ringan dan fun,” tambah Enjel.
Tak bisa dipungkiri, media sosial juga punya peran besar dalam membentuk tren ini.
Gen Z kerap menjadikan lari sebagai konten, mulai dari unggahan hasil Strava, pace, jarak tempuh, hingga outfit of the day (OOTD) saat berlari.
Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp105 Jutaan Ini Bikin Geger Pasar!
Hal ini membuat lari turut menjadi bagian dari personal branding.
Meski sering dianggap sekadar FOMO (fear of missing out, Red), Nirwana menilai ada sisi positif di baliknya.
Baca Juga: Nissan Grafit Resmi Meluncur, MPV Murah 7 Penumpang Rp105 Jutaan Ini Bikin Geger Pasar!
“Awalnya mungkin ikut-ikutan biar kelihatan healthy, tapi lama-lama jadi kebiasaan yang beneran berdampak,” pungkasnya.
Pada akhirnya, tren ini menunjukkan bahwa lari bukan sekadar tren sesaat.
Baca Juga: Kenapa Mobil Nissan Mahal dan Kurang Laku di Indonesia? Ini Jawaban Lengkap yang Jarang Dibahas!
Dia menjadi ruang bagi Gen Z untuk menggabungkan kesehatan, healing, interaksi sosial, dan eksistensi digital dalam satu aktivitas sederhana.
Sebuah fenomena yang ia sebut sebagai “pelari konten”.(bud/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada