Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ketersediaan Gas Elpiji Subsidi Sering Langka, Pemuda Blitar Ini Ciptakan Kompor Berbahan Bakar Oli Bekas, Emang Bisa?

M. Subchan Abdullah • Jumat, 17 April 2026 | 13:30 WIB
Kelangkaan gas elpiji yang belakangan dikeluhkan masyarakat mendorong munculnya inovasi alternatif bahan bakar rumah tangga
Kelangkaan gas elpiji yang belakangan dikeluhkan masyarakat mendorong munculnya inovasi alternatif bahan bakar rumah tangga

BLITAR KAWENTAR - Kelangkaan gas elpiji yang belakangan dikeluhkan masyarakat mendorong munculnya inovasi alternatif bahan bakar rumah tangga.

Salah satunya datang dari Dusun Dawung, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, melalui tangan dingin seorang warga bernama Andi.

Baca Juga: Harga Mobil Diesel 2026 Terjun Bebas? Intip Stok Pajero Dakar dan Fortuner di William Mobilindo CBD Bekasi yang Bikin Ngiler!

Di tengah kondisi sulitnya mendapatkan gas elpiji, warga Kesamben ini berhasil menciptakan kompor dengan bahan bakar dari limbah, yakni oli bekas dan minyak goreng bekas.

Inovasi ini menjadi solusi praktis sekaligus ekonomis bagi warga yang terdampak kelangkaan.

Baca Juga: Harga Mobil Diesel 2026 Terjun Bebas? Intip Stok Pajero Dakar dan Fortuner di William Mobilindo CBD Bekasi yang Bikin Ngiler!

Meski menggunakan bahan bakar dari limbah, performa kompor buatan pria ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Nyala api yang dihasilkan tampak stabil dan berwarna biru, menyerupai api pada kompor gas elpiji pada umumnya.

Baca Juga: Nasib Pasar Kuliner di Kota Blitar yang Sepi Pengunjung, Ini Kata Disperindag

Secara bentuk, kompor tersebut memiliki desain sederhana berupa rangka besi yang kokoh.

Di bagian tengah terdapat tungku sebagai tempat pembakaran, serta wadah khusus untuk menampung oli dan minyak goreng bekas sebagai bahan bakar utama.

Baca Juga: Intip Stok Mobil Bekas Murah di Blitar: Mulai DP 7 Juta, Ada Innova Venturer hingga Civic Turbo Kondisi Like New!

Andi menjelaskan, dalam sekali pengisian bahan bakar, kompor buatannya mampu menyala hingga kurang lebih setengah hari.

Ketahanan ini dinilai cukup efisien untuk kebutuhan memasak rumah tangga sehari-hari.

Baca Juga: Suzuki Victaris Siap Masuk Indonesia! Intip Spesifikasi SUV Mewah Bermesin Strong Hybrid yang Bikin Kompetitor Ketar-Ketir

"Kalau untuk kebutuhan memasak, sekali kita isi bahan bakar nyalanya bisa tahan kurang lebih setengah hari," ujarnya.

Menurutnya, ide pembuatan kompor ini muncul dari keresahan pribadi saat kesulitan mendapatkan gas elpiji.

Baca Juga: Depresi, Perempuan Muda di Blitar Akhiri Hidup dengan Gantung Diri

Ia kemudian mencoba memanfaatkan limbah yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai alternatif bahan bakar.

Tak disangka, inovasi tersebut justru mendapat respons positif dari masyarakat.

Baca Juga: Perbaikan Jalan Rusak Penghubung Desa Kedawung-Sumberasri di Blitar Bakal Ditangani BBWS, Bagaimana dengan Titik-titik Kerusakan yang Lain?

Banyak warga yang mulai melirik kompor buatannya sebagai solusi di tengah kelangkaan gas.

Bahkan, pesanan kompor tidak hanya datang dari wilayah Blitar dan sekitarnya.

Baca Juga: Bingung Pilih Mobil Bekas Rp 100 Jutaan? Simak Panduan Memilih Mobil Eropa vs Jepang Agar Tidak Menyesal

Sejumlah pembeli dari luar pulau, seperti Kalimantan Timur, turut memesan kompor buatan Andi karena dinilai lebih hemat dan mudah dioperasikan.

"Ada beberapa yang pesan justru dari luar pulau. Dari Kalimantan Timur. Jadi, saya kirim ke sana," imbuhnya.

Baca Juga: Daftar Mobil Bekas Harga di Bawah 100 Juta Tahun Muda: Ada Renault Hingga Wuling, Murah Tapi Mewah!

Di pasaran, kompor alternatif ini dijual dengan harga sekitar Rp 450 ribu per unit.

Harga tersebut dianggap sebanding dengan manfaat yang ditawarkan, terutama di tengah tingginya kebutuhan akan bahan bakar yang terjangkau.

Baca Juga: Kesempatan Langka! Warga Wonorejo Serbu Program PTSL 2026, Cara Mudah Dapat Sertifikat Tanah Resmi Tanpa Ribet dan Biaya Mahal

Dengan adanya inovasi ini, Andi berharap masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada gas elpiji.

Selain menjadi solusi atas kelangkaan, penggunaan limbah sebagai bahan bakar juga dinilai lebih ramah lingkungan dan mampu mengurangi pencemaran. (*/c1/ady)

Editor : Muhammad Adib Falih Rifly
#kelangkaan gas #lpg #alternatif #inovasi