Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tekanan Budaya Flexing Hantui Anak Muda di Era Media Sosial, Antisipasi Dampaknya

M. Subchan Abdullah • Senin, 20 April 2026 | 15:00 WIB
Fenomena quarter life crisis (QLC) di kalangan generasi muda kian menjadi perhatian. Tidak hanya muncul setelah memasuki dunia kerja, krisis ini kini mulai dirasakan bahkan sejak di bangku pendidikan.
Pengamat sosial sekaligus dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Islam Balitar, Novitasari, menilai bahwa Gen Z mengalami QLC lebih dini dibandingkan generasi sebelumnya seperti milenial maupun Gen X. “Kalau dulu krisis banyak dialami setelah bekerja, sekarang sejak masih kuliah pun sudah muncul tekanan untuk harus ‘jadi sesuatu’,” ujarnya.
Menurut dia, fenomena ini sangat dipengaruhi oleh paparan media sosial yang memperlihatkan pencapaian orang lain secara terus-menerus. Anak muda kerap melihat teman sebaya yang sudah bekerja, berpenghasilan, bahkan terlihat sukses, sehingga memicu perasaan tertinggal dan tidak percaya diri.
Namun, dia menegaskan bahwa QLC tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan individu. Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini merupakan hasil interaksi antara tekanan personal dan perubahan struktur sosial. “Tuntutan untuk sukses cepat, mandiri secara finansial, dan produktif di usia muda adalah konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya modern dan sistem ekonomi,” jelasnya.
Lebih jauh, budaya flexing di media sosial turut memperparah kondisi tersebut. Menurut Novitasari, apa yang ditampilkan di ruang digital sering kali hanyalah sisi terbaik kehidupan seseorang, bukan realitas utuh.
Akibatnya, standar kesuksesan menjadi bias dan tidak realistis, terutama bagi anak muda di daerah seperti Blitar yang memiliki keterbatasan akses dibandingkan kota besar. ”Banyak yang menjadikan konten media sosial sebagai tolok ukur keberhasilan, padahal kondisi setiap orang berbeda. Ini yang kemudian memunculkan rasa tertinggal,” katanya.
Dalam kajian sosiologi, fenomena ini berkaitan dengan konsep social comparison, di mana individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Di era digital, perbandingan ini semakin intens dan cenderung mengarah ke atas (upward comparison), yaitu membandingkan diri dengan mereka yang dianggap lebih sukses. Ditambah dengan algoritma media sosial yang terus menampilkan konten serupa, anak muda seakan terjebak dalam lingkaran perbandingan tanpa henti. “Akibatnya, kecemasan terhadap masa depan semakin meningkat karena standar yang dijadikan acuan terasa sulit dicapai,” ungkapnya.
Dia mengingatkan pentingnya kesadaran bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas sebenarnya. Menurutnya, setiap individu memiliki proses dan jalan hidup yang berbeda. “QLC bukan berarti gagal, tapi bagian dari proses. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan lebih realistis dan tidak terjebak pada standar semu,” pungkasnya. 
(Gemini AI)
Fenomena quarter life crisis (QLC) di kalangan generasi muda kian menjadi perhatian. (Gemini AI)

BLITAR KAWENTAR - Fenomena quarter life crisis (QLC) di kalangan generasi muda kian menjadi perhatian.

Tidak hanya muncul setelah memasuki dunia kerja, krisis ini kini mulai dirasakan bahkan sejak di bangku pendidikan.

Baca Juga: Solusi Hunian Murah! Menteri Nusron Wahid Hunian Vertikal dan Kota Satelit Jadi Prioritas, Siapkan Lahan Strategis di Berbagai Wilayah Indonesia

Pengamat sosial sekaligus dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Islam Balitar, Novitasari, menilai bahwa Gen Z mengalami QLC lebih dini dibandingkan generasi sebelumnya seperti milenial maupun Gen X. 

“Kalau dulu krisis banyak dialami setelah bekerja, sekarang sejak masih kuliah pun sudah muncul tekanan untuk harus ‘jadi sesuatu’,” ujarnya.

Baca Juga: Pelaku Usaha Wajib Tahu! Begini Cara Urus KKPR Online yang Cepat dan Mudah untuk Lancarkan Investasi Tanpa Ribet

Menurut dia, fenomena ini sangat dipengaruhi oleh paparan media sosial yang memperlihatkan pencapaian orang lain secara terus-menerus. 

Anak muda kerap melihat teman sebaya yang sudah bekerja, berpenghasilan, bahkan terlihat sukses, sehingga memicu perasaan tertinggal dan tidak percaya diri.

Baca Juga: Gebrakan Baru! Menteri Nusron Wahid Ingin Santri Jadi Ujung Tombak Kebijakan Bidang STEM, Begini Strategi Besarnya!

Namun, dia menegaskan bahwa QLC tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan individu. 

Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini merupakan hasil interaksi antara tekanan personal dan perubahan struktur sosial.

Baca Juga: Masyarakat Blitar Diminta Lebih Waspada Berat Produk tak Sesuai Label Berat di Kemasan

“Tuntutan untuk sukses cepat, mandiri secara finansial, dan produktif di usia muda adalah konstruksi sosial yang dibentuk oleh budaya modern dan sistem ekonomi,” jelasnya.

Lebih jauh, budaya flexing di media sosial turut memperparah kondisi tersebut. 

Baca Juga: Menteri Nusron Wahid Sidak Kawasan Industri Indramayu, Pastikan Lahan Sawah Dilindungi Tak Tergusur demi Ketahanan Pangan

Menurut Novitasari, apa yang ditampilkan di ruang digital sering kali hanyalah sisi terbaik kehidupan seseorang, bukan realitas utuh.

Akibatnya, standar kesuksesan menjadi bias dan tidak realistis, terutama bagi anak muda di daerah seperti Blitar yang memiliki keterbatasan akses dibandingkan kota besar. 

Baca Juga: Dinamika Politik Pemilihan Ketua DPC PPP Kota Blitar, Petahana Pilih Tak Nyalon Lagi karena Hal Ini

”Banyak yang menjadikan konten media sosial sebagai tolok ukur keberhasilan, padahal kondisi setiap orang berbeda. Ini yang kemudian memunculkan rasa tertinggal,” katanya.

Dalam kajian sosiologi, fenomena ini berkaitan dengan konsep social comparison, di mana individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain.

Baca Juga: Karimun Wagon R Bisa Pasang Turbo? Ini Jawaban Ahli dan Deretan Masalah Umum yang Sering Terjadi

Di era digital, perbandingan ini semakin intens dan cenderung mengarah ke atas (upward comparison), yaitu membandingkan diri dengan mereka yang dianggap lebih sukses. 

Ditambah dengan algoritma media sosial yang terus menampilkan konten serupa, anak muda seakan terjebak dalam lingkaran perbandingan tanpa henti. 

Baca Juga: Suzuki Karimun Kotak GX 2005 Diburu! Mobil Murah Irit BBM, Mesin Bandel, Interior Super Lega, Harga Cuma Segini

“Akibatnya, kecemasan terhadap masa depan semakin meningkat karena standar yang dijadikan acuan terasa sulit dicapai,” ungkapnya.

Dia mengingatkan pentingnya kesadaran bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan realitas sebenarnya. 

Baca Juga: Review 6 Bulan Karimun Wagon R 2025: Irit BBM Banget Tapi Banyak Kekurangan, Worth It Dibeli?

Menurutnya, setiap individu memiliki proses dan jalan hidup yang berbeda. 

“QLC bukan berarti gagal, tapi bagian dari proses. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan lebih realistis dan tidak terjebak pada standar semu,” pungkasnya. (sub/ady)

Editor : Riftanta Yuna Fellanda
#genz #QuarterLifeCrisis #MediaSosial #SocialComparison #KesehatanMental