KAWENTARAN – Masyarakat di wilayah Kecamatan Kesamben terus melestarikan tradisi Kirab Pusaka Eyang Djoego.
Di tahun ini, tradisi tersebut kembali diselenggarakan untuk memperingati Khoul yang ke–156.
Sabtu (18/4) lalu, kirab budaya tersebut kembali digelar di Desa Jugo, Kecamatan Kesamben.
Antusiasme warga yang menyaksikan kirab cukup tinggi.
Tampak masyarakat memadati sepanjang pinggir jalan yang menjadi rute kirab pusaka.
Dimulai pukul 13.00 WIB, peserta beriringan membawa pusaka dari Makam Eyang Dawud menuju Padepokan Eyang Djoego. Mereka berjalan sejauh 1,5 kilo meter di bawah terik panas matahari.
Selain membawa pusaka, mereka juga memikul tumpeng jumbo.
Usai peserta kirab tiba di Padepokan Eyang Djoego, mereka langsung disambut oleh beberapa tarian tradisional.
Lalu, pusaka diletakkan di dalam bangunan padepokan, sedangkan tumpeng atau gunungan berisi jajanan pasar dan hasil bumi diarak ke belakang padepokan untuk direbut oleh warga setempat.
Tidak sampai di situ, tokoh Padepokan Eyang Djoego membagikan air dari wadah kendi.
Masyarakat desa setempat meyakini bahwa air tersebut dapat membawa keberkahan sehingga langsung diusapkan pada wajah atau bagian tubuh lainnya.
Bahkan, ada yang sengaja membawa botol untuk mengambil air suci tersebut.
Baca Juga: Masyarakat Blitar Diminta Lebih Waspada Berat Produk tak Sesuai Label Berat di Kemasan
“Kirab ini dilakukan setahun sekali.
Setiap merayakan Khoul Eyang Djoego dan bertepatan pada bulan Selo, pada Minggu Legi malam Senin Pahing.
Memang banyak rangkaian acaranya,” ujar juru pelihara Padepokan Eyang Djoego, Arif Wicaksono.
Dia melanjutkan, dalam kirab pusaka ini para warga dan penghuni padepokan membawa berbagai pusaka.
Baca Juga: Review 6 Bulan Karimun Wagon R 2025: Irit BBM Banget Tapi Banyak Kekurangan, Worth It Dibeli?
Mulai dari keris, tombak, pedang, mata luku, alu, dan sesaji seperti nasi tumpeng, gunungan jajan pasar hingga hasil bumi.
Arif menyebut, kirab pusaka Kyai Zakaria II, nama lain Eyang Djoego, ini merupakan bagian dari melestarikan budaya Jawa.
Baca Juga: Dinamika Politik Pemilihan Ketua DPC PPP Kota Blitar, Petahana Pilih Tak Nyalon Lagi karena Hal Ini
Selain itu, juga untuk memperkenalkan sosok leluhur dari Desa Jugo tersebut agar bisa lebih dikenal masyarakat, terutama generasi muda.
“Ajaran leluhur itu luar biasa.
Seperti menujunjung sopan santun, moral, adat istiadat, dan ikhlas.
Karena Eyang Djoego pernah berkata ‘sajugo iku nyawiji kepada pangeran’, yang dimaksudkan, manusia harus punya rasa empati kepada semua makhluk hidup,” ungkapnya.
Selain diikuti oleh warga Desa Jugo, kirab pusaka ini juga dihadiri oleh paguyuban Kanoman, paguyuban Kasepuhan, keluarga Kraton Solo dan Yogyakarta. Bahkan, paguyuban Gajah Purwo yang ambil peran dengan mengadakan makan gratis dalam kegiatan ini.
Sebelumnya, rangkaian acara dimulai dengan kegiatan kidung doa Jawa yang digelar pada Kamis (16/4). Lalu dilanjutkan Khataman Alquran, tahlil, dan pengajian akbar dan pada keesokan harinya atau Sabtu (18/4), dilanjutkan kirab pusaka dan pergelaran wayang kulit.
Baca Juga: Cuci Gudang Akhir Tahun ! Mobil Bekas Murah di Mandiri Mobil, Ada Spin 2015 KM 5.000 Bikin Heboh
“Untuk puncaknya, Minggu, dilakukan penyekaran agung, kirab tumpeng ruwatan, dan tahlil akbar.
Setiap tahun, rangkaian acaranya hampir sama.
Baca Juga: Dampak Kemarau Panjang Tahun Ini di Blitar, Krisis Air hingga Diare Mengancam
Kegiatan dilanjutkan pada bulan Suro.
Ada ritual napak tilas, Satu Suro. Dari Padepokan Eyang Djoego menuju Pesarean Gunung Kawi,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar