BLITAR KAWENTAR - Aroma kaldu ayam yang menyeruak di sebuah gang di Jalan dr. Wahidin, Kelurahan Kepanjenlor, seolah menjadi penunjuk jalan bagi para pemburu kuliner pagi di Kota Blitar.
Meski lokasinya tersembunyi sekitar 100 meter masuk ke dalam gang, kedai Soto Ayam Jawa milik Ahmad Fauzi ini tak pernah sepi dari kepulan uap dan antrean pelanggan setia.
Pria berusia 60 tahun asal Kelurahan Kauman tersebut bukanlah pemain baru dalam khazanah kuliner Bumi Bung Karno.
Fauzi telah merints usahanya sejak tahun 1997.
Ia mengenang masa-masa awal perjuangannya selama tiga bulan pertama dengan berkeliling menjajakan soto ke berbagai sudut kota.
"Dulu tiga bulan pertama saya keliling, cari tempat yang ramai. Sempat mangkal di depan kantor Kodim 0808 Blitar, kantor PLN, sampai di Jalan Kenanga juga pernah," kenang Ahmad Fauzi sembari menyiapkan pesanan pelanggan.
Ketekunannya berbuah manis.
Setelah sempat menetap di lokasi sebelumnya selama 10 tahun, Fauzi kini telah menempati lokasinya yang sekarang selama 13 tahun terakhir.
Baca Juga: Tradisi Kirab Pusaka Eyang Djoego di Kesamben Blitar, Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi
Jarak dan lokasi yang tersembunyi nyatanya bukan penghalang bagi pelanggan.
Bahkan, banyak di antara mereka yang sudah menjadi saksi perjalanan rasa soto ini sejak masa muda.
"Banyak pelanggan tetap yang datang ke sini. Ada yang cerita kalau dulu ke sini waktu masih zaman pacaran, sekarang tahu-tahu sudah bawa anak bahkan cucunya ke sini," ujarnya.
Kekuatan utama soto racikan Fauzi terletak pada konsistensi rasa yang dijaga selama hampir tiga dekade.
Berbeda dengan kebanyakan soto di Jawa Timur yang terkadang menggunakan santan atau kemiri yang pekat, soto ini hadir dengan karakter kuah bening yang ringan di lidah.
Sejak awal, ia memang enggan mengubah resep meskipun tren kuliner terus berganti.
"Yang membedakan itu soto saya kuahnya tidak pakai santan. Karakter bening seperti ini memang jarang ditemui di tempat lain. Selain kuah, saya pakai ayam kampung asli. Dari pertama dagang sampai sekarang tidak pernah ganti, harus ayam kampung," tegas pria ramah tersebut.
Tekstur kuahnya bersih, tanpa genangan minyak yang berlebih, namun tetap kaya akan rasa gurih yang berasal murni dari kaldu rebusan ayam kampung.
Dalam satu porsi mangkuk ukuran sedang, pelanggan akan mendapati perpaduan nasi, irisan ayam kampung, sayuran segar, hingga taburan serbuk koya.
Fauzi mengaku tidak memiliki rahasia khusus selain menjaga kualitas bahan baku.
"Cara saya bertahan ya hanya konsisten. Menjaga rasa bumbu yang tetap orisinal sesuai resep awal saya berjualan dulu," tambahnya.
Bagi masyarakat yang ingin mencicipi kesegaran soto ini, kedai yang berlokasi 100 meter ke arah barat dari kantor Polisi Militer ini mulai melayani pelanggan setiap hari sejak pukul 06.00 hingga 14.00 WIB.
Baca Juga: Mobil Bekas Rp40 Jutaan Minim Perbaikan, Ini 5 Pilihan Paling Bandel dan Murah Dirawat !
Kesederhanaan tempat dan autentisitas rasa tampaknya menjadi resep abadi mengapa soto ayam jawa ini tetap bertahan di tengah gempuran tren kuliner modern. (mg1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda