BLITAR KAWENTAR - Kartini bukan hanya milik mereka yang beruntung secara fisik dan intelektual.
Di Jalan DR Sutomo, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, perayaan itu berubah menjadi panggung keberanian bagi mereka yang sering kali dipandang sebelah mata.
Tak ada jarak, tak ada beda. Semua merayakan asa di Hari Kartini dengan penuh semangat.
“Aku anak laki-laki, aku ingin belajar dan berani. Seperti Kartini yang hebat, aku juga ingin kuat”. Bait-bait puisi berjudul Aku Juga Bisa, Seperti Kartini itu menggema di aula sederhana SLB Negeri 4 Kota Blitar, Senin (21/4) kemarin.
Suara itu milik Azril. Seorang siswa kelas III SD. Di depan barisan guru dan teman-temannya, Azril berdiri tegak.
Meski ia merupakan penyandang tunagrahita ringan, keraguan seolah lenyap dari raut wajahnya.
Dia membaca tiap bait dengan saksama, menutup penampilannya dengan sebuah kalimat yang menyentuh sanubari.
“Terima kasih, Kartini. Aku akan terus mencoba menjadi anak yang hebat dan berguna,” tutupnya.
Perayaan Hari Kartini di sekolah ini memang tak biasa. Di sini, semangat Kartini tidak diterjemahkan sebagai sekadar lomba, tetapi perayaan atas hak untuk setara.
Usai pembacaan puisi, aula tersebut disulap menjadi catwalk dadakan.
Satu per satu siswa melenggang dengan busana jadul ala Kartini bagi yang perempuan, serta lurik dan batik bagi laki-laki.
Pemandangan di atas karpet hijau itu sangat jujur.
Ada anak yang melangkah kaku, namun ada pula yang begitu luwes bergaya bak model profesional.
Ekspresi yang muncul pun beragam.
Ada yang tersenyum lebar hingga memamerkan gigi, ada yang memasang wajah lucu, hingga ada yang tampak murung karena malu.
Namun, di mata para pendidik, tiap langkah kecil itu adalah sebuah revolusi besar.
Kepala SLB Negeri 4 Kota Blitar, Luluil Chinajah, menatap bangga ke arah 52 anak didiknya.
Baginya, setiap anak yang berani tampil adalah juara.
“Akhirnya semua menang. Anak berkebutuhan khusus itu harus dimenangkan menurut saya,” ujar perempuan berusia 57 tahun tersebut.
Luluil memahami betul dinamika batin anak-anak spesial ini.
Itulah sebabnya, pihak sekolah memutuskan untuk memberikan hadiah alat tulis kepada seluruh siswa tanpa terkecuali.
Dia tak ingin ada satu pun anak yang pulang dengan rasa sedih hanya karena tidak mendapatkan label juara.
Baca Juga: Suzuki Karimun 2026 Resmi Meluncur! City Car Paling Irit dan Modern, Harga Mulai 160 Jutaan
“Kita apresiasi semua siswa meskipun ada pemenang terbaik nantinya. Kalau ada yang tidak diberi, biasanya mereka menangis. Kami harus jaga rasa percaya diri mereka,” tambahnya.
Sekolah ini menaungi siswa dengan berbagai latar belakang keistimewaan.
Mulai dari hambatan penglihatan (tuna netra), rungu wicara, hingga hambatan intelektual.
Dari total 52 siswa, sebarannya mencakup 11 siswa TK, 32 siswa SD, 8 siswa SMP, dan 1 siswa SMA.
Mayoritas dari mereka adalah anak-anak dengan spektrum autis dan hiperaktif.
Bagi Luluil dan para pengajar, indikator kesuksesan tidak melulu soal angka-angka akademik.
Pasalnya, bagi anak dengan intelektual di bawah rata-rata, logika akademik sering kali menemui jalan terjal.
“Mau berangkat sekolah dan berani masuk gerbang tanpa menangis saja sudah perkembangan luar biasa bagi mereka dan orang tua,” kenangnya.
Peringatan Hari Kartini ini juga menjadi media edukasi bagi para wali murid.
Pihak sekolah menekankan kolaborasi, termasuk soal penggunaan baju adat.
Meski merupakan arahan dinas, tidak ada kewajiban penggunaan kebaya mewah.
Baginya, kondisi ekonomi wali murid yang beragam harus tetap dihargai.
Yang utama adalah bagaimana anak-anak meniru semangat sosok Kartini dalam membela kaumnya dan memperjuangkan masa depan.
Setiap hari, sekolah ini menjadi laboratorium pembiasaan.
Para guru mencari celah kelebihan di balik kekurangan masing-masing anak.
Dia percaya, suatu saat nanti, kemandirian itu akan datang jika mereka terus dibiasakan sejak dini.
“Di balik ketidakmampuan, pasti ada kelebihan. Tugas kita adalah mengasah keterampilannya untuk bekal mereka setelah sekolah nanti,” pungkasnya.
Perayaan sederhana itu berakhir dengan tawa dan sorak sorai.
Di balik balutan kebaya dan lurik yang mereka kenakan, Azril dan kawan-kawannya telah membuktikan bahwa api semangat Kartini tetap menyala terang, bahkan di dalam sunyi dan keterbatasan. (*/c1/ady)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly