BLITAR KAWENTAR - Istilah "Pemuda Jompo" kini kian populer di kalangan generasi Z.
Keluhan pegal linu, pusing, hingga penggunaan koyo dan minyak angin di usia muda dianggap sebagai hal biasa.
Baca Juga: Nissan Gravity 2026 Resmi Meluncur, MPV 7 Penumpang Murah Ini Dibekali Fitur Premium dan Irit BBM!
Namun, di balik tren tersebut, tersimpan ancaman kesehatan mental yang nyata jika pola hidup ini terus dibiarkan.
Psikolog, Yeni Rofiqoh menjelaskan, fenomena ini berakar dari perubahan gaya hidup yang serbadigital.
Baca Juga: Mengurai Akar Banjir Sidoarjo: Saat Kebijakan Belum Berpihak pada Pencegahan
Kemudahan akses teknologi membuat banyak anak muda terjebak dalam zona nyaman yang minim aktivitas fisik atau mager (malas gerak).
Lulusan S-2 Profesi Psikologi Universitas Airlangga ini menekankan bahwa aktivitas fisik bagi anak usia sekolah hingga mahasiswa bukan sekadar urusan otot, melainkan kunci dari regulasi emosi yang sehat.
Baca Juga: Terungkap! Konsumsi BBM 2000 CC Matic Ternyata Segini, Tenaga Nendang Tapi Tetap Irit?
"Sebenarnya di usia mereka, mulai dari kelas 5 SD hingga bangku kuliah, tubuh tetap butuh kegiatan fisik yang intens. Bukan hanya buat otot, tapi secara mental, gerak tubuh itu membantu stabilitas mood dan membantu regulasi emosi," ujar perempuan 46 tahun ini.
Keseimbangan aktivitas fisik, lanjut dia, secara langsung memengaruhi kualitas tidur.
Baca Juga: Nissan Gravit 2026 Resmi Meluncur, MPV 7 Penumpang Harga Rp100 Jutaan Siap Tantang Calya dan Sigra?
"Bedanya jauh sekali dengan mereka yang hanya berdiam diri," imbuhnya.
Bagi Yeni, label "Pemuda Jompo" sebenarnya adalah hasil dari logika pola hidup atau lifestyle yang keliru.(mg1/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada