KAWENTARAN - Dampak inflasi tampaknya mulai dirasakan oleh masyarakat, khususnya di Kota Blitar dan sekitarnya. Salah satu buktinya, kenaikan harga minyak goreng yang terjadi sejak awal April lalu.
Pantauan Koran ini, sejumlah pelaku usaha mengaku tidak hanya harga yang naik, tetapi juga pasokan yang mulai tersendat, terutama untuk minyak subsidi.
Baca Juga: Nissan Gravity Resmi Meluncur, MPV 7 Penumpang Harga Rp 5,65 Jutaan Ini Siap Tantang Renault Triber!
Pemilik Toko Bali Jaya, Budi Setiawan mengatakan, hampir semua merek minyak goreng kemasan mengalami kenaikan harga pasca-Lebaran beberapa waktu silam.
Ini mungkin dampak dari beberapa harga komoditas lain yang naik. “Semua naik untuk berbagai merek minyak goreng kemasan. Mulainya awal April setelah Lebaran. Mungkin ini sinyal awal dari inflasi,” ujarnya.
Dia menyebutkan, kenaikan harga berkisar sekitar 5 persen. Misalnya, untuk kemasan 1 hingga 2 liter, harga yang sebelumnya sekitar Rp 24 ribu kini naik menjadi sekitar Rp 25 ribu atau ada kenaikan hingga Rp 1.000.
Selain itu, minyak curah juga mengalami kenaikan. “Saat ini minyak curah dijual sekitar Rp 20 ribu per kilogram (kg), dari sebelumnya Rp 19.500 sebelum Lebaran,” ujarnya.
Namun, persoalan tak berhenti di harga saja. Tapi yang menghawatirkan, jelas Budi, stok minyak subsidi MinyaKita di tokonya justru kosong sejak bulan puasa. Dia tidak mengerti, tetapi mengakui tersendatnya distribusi minyak subsidi tersebut.
“MinyaKita kosong. Sudah dari puasa sampai sekarang belum dapat. Apa memang distribusinya yang tersendat, saya tidak paham juga,” katanya.
Berbeda dengan kondisi di tingkat toko, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar memastikan ketersediaan minyak goreng masih aman di pasaran. Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto, mengaku stok MinyaKita masih tersedia di pasar tradisional dan distribusi tetap berjalan melalui dukungan Bulog.
“Tidak benar kalau barang tidak ada. Aman kok. Di pasar tradisional terpantau masih ada, kemarin juga baru didistribusikan dari Bulog,” terangnya.
Baca Juga: Cerita di Balik Kakak-Beradik CJH asal Kota Blitar yang Berangkat Haji Tahun Ini
Dia menegaskan, proses distribusi dari Bulog kepada pedagang telah dilakukan beberapa hari lalu dengan alokasi lima dus untuk setiap pelaku usaha.
“Dari Bulog itu memang dibagi, satu pedagang rata-rata mendapat maksimal lima dus,” bebernya. (bud/c1/ady)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar