BLITAR KAWENTAR - Isu fenomena kelangkaan minyak goreng kemasan MinyaKita di tingkat pedagang pasca-Lebaran memicu perbedaan keterangan antara kondisi lapangan dan keterangan pemerintah.
Meski beberapa waktu terakhir sejumlah pelaku usaha mengeluhkan kekosongan stok, Pemkot Blitar menyebut alokasi barang sebenarnya tetap tersalurkan secara berkala ke pasar-pasar tradisional.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Blitar, Parminto mengatakan, informasi mengenai hilangnya MinyaKita dari pasaran perlu diluruskan karena pasokan terpantau masih mengalir di titik distribusi utama.
Dia menegaskan, berdasarkan pantauan timnya, produk tersebut masih dapat ditemui di beberapa lokasi kunci.
Baca Juga: Sering Mati Lampu? Simak Keunggulan BYD Atto 1 Premium yang Bisa Jadi Genset Darurat di Rumah
“Terkait adanya informasi yang katanya MinyaKita kosong di pasaran, perlu kami tegaskan bahwa barang tersebut masih tersedia, baik di pasar tradisional seperti Pasar Templek, Pasar Pon, maupun Pasar Legi,” ujarnya kepada Koran ini, kemarin (23/4).
Kondisi ini terjadi di tengah tren kenaikan harga minyak goreng nonsubsidi yang mulai membebani konsumen.
Saat ini, harga minyak kemasan di Kota Blitar rata-rata melonjak sekitar 5 persen menjadi Rp 25 ribu per liter, sementara minyak goreng curah merangkak naik ke angka Rp 20 ribu per kilogram.
Lonjakan harga pada merek lain inilah yang ditengarai memicu masyarakat beralih secara masif ke MinyaKita yang harganya jauh lebih ekonomis.
Parminto menjelaskan, pemerintah memiliki jaringan distribusi yang terdiri dari 47 pedagang yang sudah masuk dalam data Bulog sebagai penerima resmi.
Jaringan tersebut mencakup 15 pedagang di Pasar Templek, 13 di Pasar Pon, dan 9 lainnya di Pasar Legi.
Dia mengungkapkan bahwa pengiriman terbaru baru saja dilakukan pada Selasa (21/4) lalu. Setiap pedagang menerima alokasi pasokan untuk menjaga ketersediaan di lapak.
“Selasa kemarin sudah dikirim. Per pedagang dapat 5 dus MinyaKita. Setiap dusnya berisi kemasan 2 literan,” jelasnya.
Terkait fenomena stok yang sering terlihat kosong di tingkat pengecer, Parminto menilai hal tersebut sebagai dampak dari tingginya minat pembeli.
Menurutnya, perbedaan harga yang mencolok dengan produk lain membuat stok yang ada di pedagang sangat cepat terserap oleh konsumen.
“Memang di pasaran banyak dicari pembeli, karena harga lebih murah dibanding minyak medium yang lain. Tapi stoknya masih ada. Memang di pedagang eceran sudah mulai habis atau tinggal beberapa saja, karena pengiriman seminggu sekali,” tambahnya.
Meski begitu, dia menjamin bahwa selama jadwal pengiriman rutin dari Bulog tetap berjalan, kebutuhan masyarakat akan tetap terpenuhi.
Dia pun meminta warga untuk tidak melakukan aksi borong agar distribusi barang tetap merata di pasaran.
“Kami harap masyarakat tidak panik. Barang masih ada dan tersedia karena Bulog kirim setiap seminggu sekali,” tandasnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly