KAWENTARAN – Di tengah ancaman cuaca panas ekstrem atau fenomena "El Nino Godzilla", Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar meminta masyarakat tidak lengah terhadap ancaman penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Suhu udara yang meningkat secara signifikan berpotensi mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga penularan dapat terjadi lebih cepat dari biasanya.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto menjelaskan, suhu panas yang ekstrem memengaruhi metabolisme nyamuk.
Nyamuk cenderung menjadi lebih aktif menggigit dan proses inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk berlangsung lebih singkat saat suhu udara tinggi.
Baca Juga: Jelang Keberangkatan Haji, CJH Gandusari Blitar Mulai Jalani Vaksinasi Polio
“Meskipun saat ini kita sedang menghadapi krisis air dan suhu panas, masyarakat harus tetap waspada terhadap DBD. Suhu panas justru membuat nyamuk lebih cepat berkembang biak.
Hal ini menjadi alarm bagi kita semua agar tetap disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan," katanya.
Selain faktor suhu, keterbatasan air bersih akibat kemarau sering kali memicu masyarakat untuk menampung air dalam wadah-wadah besar dalam waktu lama.
Jika tidak tertutup rapat atau jarang dikuras, wadah penampungan air tersebut akan menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang ideal. Maka itu, menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah antisipatif untuk pencegahan.
Baca Juga: Dilema Sistem Zonasi Sekolah di Surabaya: Antara Pemerataan Akses dan Ketimpangan Pendidikan
Dinkes mengimbau masyarakat untuk tetap menjalankan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang).
Masyarakat juga diminta segera memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) jika merasakan gejala demam tinggi yang tidak kunjung turun.
“Jangan menunggu parah. Segera periksakan diri ke puskesmas terdekat. Kami sudah menyiagakan petugas di berbagai titik keramaian dan layanan rawat jalan untuk mendeteksi dini temuan kasus agar tidak terjadi komplikasi yang fatal," tutupnya.(kho/c1/sub)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar