BLITAR KAWENTAR - Dulu, Silviana hanya menghabiskan waktu luang dengan mengunjungi kafe.
Bukan untuk bekerja, melainkan sekadar bersantai dan mengabadikan gaya berpakaian.
Baca Juga: Perlintasan Sebidang KA Tanpa Palang Pintu Masih Mengancam Keselamatan di Wilayah Sanankulon Blitar
“Awalnya cuma iseng-iseng, suka ke kafe buat foto OOTD. Terus kepikiran bikin slide foto, ternyata viral,” ujar warga Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu ini.
Dari sana, permintaan mulai berdatangan. Banyak warganet meminta “spill” gaya berpakaian yang ia kenakan. Respons itu menjadi titik awal yang mengubah hobi menjadi peluang.
Baca Juga: Pemkab Blitar Sudah Siapkan Rp 6 Miliar untuk Perbaikan Jalan Rusak Penghubung Desa Karangrejo-Sumberagung
Namun, jalan yang dia pilih tidak sejalan dengan latar belakang pendidikannya.
Silviana Nova Reza Putri merupakan sarjana hukum, bidang yang secara umum jauh dari dunia kreator konten.
Baca Juga: Cegah Kecurangan Timbangan, Disperindag Blitar Mulai Gencarkan Sidang di Pasar Tradisional.
Dia sempat mencoba jalur karier yang linier dengan pendidikannya, bekerja di kantor pengacara.
Tetapi, realitas berbicara lain.
Pendapatan yang ia terima saat itu dinilai belum mampu memenuhi kebutuhannya, terlebih jika harus melanjutkan pendidikan profesi advokat yang memerlukan biaya besar.
“Waktu itu aku sudah mulai di konten juga. Aku mikir, penghasilannya lebih cukup dibanding kerja kantoran,” katanya.
Baca Juga: Kota Blitar Raih Juara 3 Nasional Kinerja Tinggi HUT Otonomi Daerah, Mas Wali: Ini Kado untuk Masyarakat
Keputusan besar pun diambil.
Dia memilih keluar dari pekerjaannya dan fokus menekuni dunia digital yang sebelumnya hanya dia jalani sebagai sampingan.
Perjalanan tersebut tidak serta-merta mulus.
Pada masa awal, Silviana menghadapi tantangan yang cukup berat, mulai dari sulitnya mendapatkan pengikut hingga membangun kepercayaan audiens.
Dia juga harus memahami cara meningkatkan performa penjualan atau gross merchandise value (GMV), yang menjadi indikator penting dalam dunia affiliate marketing.
“Sulit banget di awal, cari followers dan naikin GMV itu tidak gampang. Belum lagi akun pernah keblokir permanen,” ujarnya.
Baca Juga: Jelang Keberangkatan Haji, CJH Gandusari Blitar Mulai Jalani Vaksinasi Polio
Kondisi tersebut sempat membuatnya hampir menyerah.
Namun, ketertarikannya pada dunia konten dan tekad untuk bertahan membuatnya terus mencoba.
Risiko lain juga datang dari sisi bisnis.
Dia mengaku pernah mengalami kerugian akibat kerja sama yang tidak berjalan baik.
Baca Juga: Dilema Sistem Zonasi Sekolah di Surabaya: Antara Pemerataan Akses dan Ketimpangan Pendidikan
Beberapa pihak yang mengajukan kerja sama produk tidak memenuhi kewajiban pembayaran komisi.
Selain itu, pemblokiran akun juga berdampak langsung pada hilangnya saldo yang belum sempat ditarik.
Baca Juga: Realisasi Investasi Kota Blitar Triwulan Pertama 2026 Capai Rp109 Miliar, Sektor Apa yang Tertinggi?
Meski demikian, Silviana tetap bertahan.
Dia terus membangun ulang akunnya, bahkan hingga tiga kali pergantian.
Baca Juga: Ratusan Alat Ukur Pedagang di Blitar Lolos Uji Tera, Disperdagin Jamin Keakuratan
Konsistensi tersebut perlahan membuahkan hasil.
Dalam kurun waktu sekitar 5 tahun, dia berhasil menjadikan aktivitas kreator konten sebagai sumber penghasilan utama.
Baca Juga: TERBARU! Suzuki Karimun 2026 Makin Gahar di Indonesia, City Car Irit BBM Ini Siap Jadi Mobil Sejuta Umat!
Saat ini, kerja sama dengan berbagai brand, termasuk produk kecantikan, menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar.
Dalam satu kontrak kerja sama, dia bisa memperoleh nilai jutaan rupiah, belum termasuk komisi harian dari penjualan produk yang dia promosikan.
Jika diakumulasi, penghasilannya dalam satu bulan dapat mencapai puluhan juta rupiah.
Bagi Silviana, perjalanan ini bukan sekadar soal angka.
Dia melihatnya sebagai proses menemukan jalan sendiri, meski harus keluar dari jalur yang dianggap “aman”.
Dari sekadar foto santai di kafe, kini dia membangun identitas baru di dunia digital, membuktikan bahwa peluang bisa datang dari hal yang paling sederhana, selama dijalani dengan konsisten.(*/c1/sub)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda