BLITAR KAWENTARAN – Kasus leptospirosis di Bumi Penataran menjadi perhatian serius.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat ada enam kasus yang ditemukan dengan tiga di antaranya berujung kematian.
Baca Juga: Tolak Alih Fungsi Hutan Tretes, Alam Bukan Untuk Dikorbankan Demi Real Estate
Dinkes menyebut Kabupaten Blitar menjadi daerah dengan fatalitas tinggi di Jawa Timur (Jatim) terhadap penyakit tersebut.
Sebab, tingkat kematian di Blitar tergolong tinggi.
Baca Juga: Data BPS Ungkap IPM 2025 Kota Blitar Naik, Pengeluaran Warga Ikut Terkerek
”Kalau jumlah kasus, daerah lain juga ada. Tapi di Kabupaten Blitar ini proporsi meninggalnya cukup tinggi, 50 persen dari enam kasus, tiga orang meninggal,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati.
Dia menjelaskan, tingginya angka kematian disebabkan rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap gejala awal penyakit tersebut.
Baca Juga: Satu Rumah, Satu Saluran Air: Langkah Nyata Menuju Surabaya Bersih dan Bebas Banjir
Pasalnya, pada fase awal, leptospirosis sulit dibedakan dengan penyakit lain seperti demam berdarah.
Pada empat hari pertama itu gejalanya mirip demam biasa, seperti demam, nyeri otot, dan sakit kepala.
Bahkan kalau diperiksa, trombositnya bisa turun sehingga masyarakat sering mengira hal itu merupakan tanda-tanda DBD.
“Gejala khas baru mulai terlihat pada hari kelima hingga ketujuh, yakni munculnya jaundice atau kondisi tubuh menguning. Pada fase ini, barulah diagnosis bisa lebih mengarah ke leptospirosis melalui pemeriksaan lanjutan,” ungkapnya.
Baca Juga: Suzuki Wagon R 2026 Meluncur! City Car Hybrid Irit BBM, Desain Futuristik, Harga Mulai Rp150 Jutaan
Untuk itu, dinkes mengimbau masyarakat agar lebih waspada, terutama mereka yang beraktivitas di lingkungan berisiko tinggi seperti sawah dan ladang.
Penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi langkah penting pencegahan.
Baca Juga: Suzuki Karimun Wagon R Jadi Mobil Paling Irit di Indonesia! BBM Tembus 57 Km/L, Kalahkan Motor?
“Kami sarankan pekerja di sawah atau ladang menggunakan sepatu bot. Memang tidak nyaman, tapi itu jauh lebih aman untuk melindungi dari penularan,” tegasnya.
Christine menjelaskan, penularan leptospirosis umumnya berasal dari urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus.
Di Kabupaten Blitar, hasil pemeriksaan terhadap tikus di sekitar lokasi kasus menunjukkan adanya bakteri leptospira.
Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan serta melindungi tubuh dari paparan air atau tanah yang terkontaminasi menjadi kunci utama pencegahan.
Dinkes berharap masyarakat lebih waspada agar kasus serupa tidak kembali memakan korban jiwa.
“Leptospirosis ini bukan dari gigitan tikus, tapi dari air kencingnya. Kami tidak tahu tikus kencing di mana. Kalau ada luka kecil di kaki, bakteri bisa masuk dan menjadi potensi penyakit,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda