BLITAR KAWENTAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar memberikan atensi serius terhadap tren peningkatan penyakit tidak menular (PTM) yang kini berdampak signifikan pada beban biaya kesehatan negara.
Sebagai langkah preventif yang konkret, dinkes mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan sistem label gizi Nutri Level dalam setiap konsumsi pangan siap saji guna menekan risiko penyakit kronis di masa depan.
Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati mengungkapkan, kebijakan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan (KMK) Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 ini bertujuan agar masyarakat lebih bijak dalam mengontrol konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).
Hal ini menjadi sangat krusial mengingat tingginya beban finansial yang harus ditanggung negara akibat pengobatan penyakit kronis yang sebenarnya bisa dicegah.
”Salah satu bukti nyata tingginya beban kesehatan adalah lonjakan biaya pengobatan penyakit gagal ginjal yang naik lebih dari 400 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, konsumsi GGL berlebih secara jangka panjang meningkatkan risiko obesitas, hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke dan diabetes tipe 2," tegasnya.
Melalui sistem Nutri Level, konsumen kini dipermudah dalam memahami kualitas gizi suatu produk secara instan.
Kode label tersebut diklasifikasikan mulai dari Level A (paling direkomendasikan dengan kandungan GGL rendah) hingga Level D (kandungan GGL tinggi).
Penentuan level ini didasarkan pada hasil uji laboratorium yang ketat, terutama untuk kategori minuman populer seperti boba, kopi susu, teh tarik, dan aneka jus.
"Kami mengajak masyarakat Blitar untuk lebih waspada dan selektif sebelum membeli. Pilihlah produk dengan label Level A atau B, serta sebisa mungkin batasi atau hindari konsumsi produk Level C dan D. Ini adalah langkah sederhana namun sangat berdampak untuk memutus rantai peningkatan PTM di wilayah kita," pungkasnya.
Dengan kesadaran kolektif ini, diharapkan derajat kesehatan masyarakat Blitar dapat meningkat sekaligus mengurangi ketergantungan pada layanan pengobatan kuratif yang mahal.
”Hal ini tentu saja diharapkan dapat menekan angka penyakit tidak menular di Kabupaten Blitar," tutupnya.(kho/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada