BLITAR KAWENTAR - Mungkin belum banyak warga Blitar yang mampir atau berwisata di salah satu kompleks rumah kuno yang berada di Jalan Melati, Kota Blitar.
Padahal, rumah itu merupakan tempat tinggal tokoh penting di Blitar.
Belum lama ini, Komunitas Gang-gangan berkunjung sekaligus mendalami sejarah di rumah yang akrab dikenal dengan Pesanggrahan Djojodigdan tersebut.
Ya, gerakan kolektif dari komunitas Gang-gangan ini mengajak untuk menilisik rumah yang disebut Pesanggrahan Djojodigdan.
Bangunan rumah lawas itu diketahui merupakan hunian Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo.
Dia bukan hanya seorang Patih Blitar pada masa pemerintahan Bupati Blitar, Kanjeng Pangeran Haryo Warsokoesoemo, tetapi juga sosok yang memiliki kisah hidup yang penuh dengan nuansa magis dan heroik.
Maka dari itu, di belakang rumah tersebut terdapat komplek makam yang juga terkenal dengan Makam Gantung, milik Eyang Digdo ini.
Kawan-kawan Gang-gangan memulai perjalanan dari Jalan Anggrek lalu berjalan kaki menuju rumah legendaris itu.
Hanya kurang dari 10 menit, tiba di rumah tersebut hingga disambut hangat oleh keluarga generasi keempat dari Djojodigdo, yakni Handoyo bersama istri dan anaknya.
Usai bersalaman dengan mereka, sekelompok pemuda yang bersilaturahmi di rumahnya ini langsung diarahkan ke komplek makam gantung.
Handoyo tidak menampik bahwa pusara Djojodigdo dikenal mistik.
Bahkan ada mitos bila makam itu sengaja dibuat tidak menyentuh tanah, dan jika menempel tanah mayatnya akan hidup kembali.
”Cerita yang dikenal masyarakat dari makam gantung itu, hanya cerita rakyat saja dan mitos semata. Bisa dilihat bentuk dan kondisi kuburan dari Eyang Djojodigdo, yang terlihat Istimewa,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul.
Pusara Djojodigo berada paling barat dari kompleks makam keluarga di Jalan Melati itu.
Makamnya bernuansa putih berbahan nisan, hingga pagar yang mengelilinginya.
Menurut Handoyo diatas pusara itu terdapat seperti cungkup, yang konon tersimpan rapi pakaian dari Eyang Digdo berusia lebih 1 abad.
Handoyo yang kini berusia lebih dari 50 tahun, menceritakan sempat melihat pakaian tersebut sewaktu kecil.
Kondisinya masih rapi dan bagus, meskipun disimpan dalam kondisi tertutup.
Baca Juga: Nissan Gravit 2026 Resmi Meluncur! MPV 7 Seater Murah Rp100 Jutaan, Fitur Lengkap dan Irit BBM
Setelah itu, Kawan Gang-gangan diajak untuk mendoakan Eyang Digdo dengan hadiah surah Al-Fatihah.
”Tidak semua orang tahu, bahwa Eyang Digdo ini merupakan mertua dari Raden Ajeng Kartini. Namun mereka tidak pernah bertemu, karena belum menemukan momen yang cocok hingga Kartini lebih dulu meninggal dunia, setahun setelah menikah,” ungkapnya.
Tidak sampai disitu, Handoyo mengajak ke makam salah satu pejuang proklamasi kemerdekaan yang juga berada di kompleks tersebut.
Yakni, pusara dr Tjipto Gondoamidjojo, yang merupakan dokter tentara PETA.
Tokoh itu ikut mendampingi Bung Karno dalam membacakan proklamasi kemerdekaan di Jakarta pada 1945 silam.
Handoyo mengaku saat ini sedang mengusahakan dr Tjipto diusulkan bisa menjadi pahwalan nasional oleh pemerintah pusat.
Bahkan, tahun ini tokoh tersebut mendapatkan predikat satyalencana dari Presiden Prabowo.
”Semoga tahun ini dr Tjipto menyandang predikat pahwalan nasional. Karena jasanya cukup luar biasa untuk negara ini,” tuturnya.
Usai menelisik area makam yang terdapat hampir 200 batu nisan yang semuanya merupakan keluarga dari Djojodigdo, Handoyo lantas mengajak ke Pesanggrahan Djojodigdo untuk memamerkan beberapa barang-barang antik.
Dalam rumah tersebut, Handoyo menunjukkan koleksi buku Eyang Digdo yang berbahasa belanda.
Tentu, buku-buku tersebut terbit lebih dari 100 tahun yang lalu dan merupakan bacaan yang langka.
Tidak hanya itu, Handoyo juga memperlihatkan beberapa pakaian Djojodigo yang masih utuh.
Pakaian berwarna hitam, mirip baju bangsawan ini masih tersimpan rapi di lemari Pesanggrahan Djojodigdo.(*/c1/sub)
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly