KAWENTARAN - Rentetan peristiwa bunuh diri yang viral di media sosial (medsos) mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi.
Q. Azam Zami, dosen sosiologi yang mendalami perilaku menyimpang dan budaya populer, menilai fenomena ini merupakan potret nyata pergeseran kesadaran kolektif (collective consciousness) di tengah masyarakat saat ini.
Menurut Azam, ada perbedaan kontras antara pola pertahanan diri generasi milenial dengan Gen Z dalam menghadapi tekanan hidup.
Jika dulu masyarakat milenial cenderung memiliki kesadaran kolektif berbasis nilai keimanan dan gotong royong, kini muncul "norma baru" yang keliru dalam merespons masalah.
"Dulu, nilai pantang menyerah menjadi kesadaran bersama. Sekarang, ada fenomena FOMO (fear of missing out) yang salah arah. Kesadaran kolektif yang muncul justru negatif, di mana mengakhiri hidup seolah menjadi opsi 'logis' untuk menyelesaikan masalah," ujarnya.
Lebih lanjut, Azam menyoroti tren media sosial "Laki-laki Tidak Bercerita" yang belakangan masif.
Menurutnya, narasi ini sangat berbahaya karena menutup ruang bagi pria untuk mencari solusi. "Pria sebenarnya bisa bercerita, tetapi ada rasa malu, ditambah efek konten media sosial yang berlebihan, mereka merasa tidak punya ruang klarifikasi.
Akhirnya, beban itu dipendam sendiri hingga berujung pada keputusan yang fatal," tambahnya.
Baca Juga: Nissan Grafite 2026 Indonesia Bikin Heboh, MPV Murah Rasa SUV Ini Siap Ubah Pasar Otomotif Tanah Air
Dia menekankan masyarakat perlu merekonstruksi kembali norma-norma positif. Budaya "bercerita" dan saling menguatkan seharusnya dijadikan tren FOMO yang baru.(mg1/c1/sub)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar