KAWENTARAN - Pemicu tekanan mental remaja sangatlah kompleks, mulai dari isu bullying (perundungan), cyberbullying, pengucilan, hingga masalah percintaan yang mendalam.
Masalah sering kali memuncak karena anak tidak menemukan ruang yang nyaman di rumah untuk bercerita. Banyak orang tua yang cenderung menghakimi atau terburu-buru memberikan solusi tanpa benar-benar mendengarkan perasaan anak secara mendalam.
Padahal, kebutuhan dasar remaja saat mengalami krisis adalah diterima dan didengar tanpa rasa takut disalahkan.
Masyarakat dan keluarga diminta untuk waspada terhadap tanda-tanda peringatan atau red flags yang muncul.
Indikator utama yang sering muncul adalah perubahan perilaku yang drastis, seperti menurunnya semangat belajar secara tiba-tiba, menarik diri dari pergaulan sosial, hingga perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm).
Sering kali tanda-tanda ini dianggap sebagai fase kenakalan biasa, padahal itu merupakan bentuk komunikasi minta tolong.
Selain dukungan dari keluarga, keterlibatan psikolog sangat dianjurkan jika kondisi emosional menunjukkan sinyal yang mengkhawatirkan.(kho/c1/sub)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar