Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Sang Ajudan Menjadi Wali Kota Blitar, Jejak 15 Tahun Pengabdian Mas Ibbin yang Kini Memimpin Kota Proklamator

Anggi Septian A.P. • Kamis, 30 April 2026 | 19:19 WIB
Potret Mas Ibbin (batik ungu) saat menjadi ajudan Sekretaris Jenderal KPU RI periode 2013-2016, Arif Rahman Hakim.(DOK. PRIBADI)
Potret Mas Ibbin (batik ungu) saat menjadi ajudan Sekretaris Jenderal KPU RI periode 2013-2016, Arif Rahman Hakim.(DOK. PRIBADI)

 KOTA BLITAR - Tak banyak yang tahu, di balik sosok tenang dan sederhana Syauqul Muhibbin alias Mas Ibbin, tersimpan perjalanan panjang yang tak biasa.

Sebelum duduk di kursi Wali Kota Blitar, pria yang kini memimpin Kota Proklamator itu ternyata pernah menghabiskan 15 tahun 5 bulan hidupnya sebagai ajudan sekaligus protokoler empat pimpinan penting di Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia.

Sebuah fase yang oleh banyak orang disebut hanya sebagai “orang belakang layar”, namun justru dari belakang layar itulah Mas Ibbin belajar bagaimana melihat negara bekerja, bagaimana pemimpin mengambil keputusan, hingga bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan untuk rakyat.

“15 tahun 5 bulan saya menjadi ajudan empat pimpinan,” ungkap Mas Ibbin saat menceritakan perjalanan hidupnya.

Empat tokoh nasional yang pernah ia dampingi bukan nama sembarangan. Mulai dari Abdul Aziz pada 2009-2011, lalu Arief Budiman pada 2011-2013, Arif Rahman Hakim pada 2013-2016, hingga Hasyim Asy'ari pada 2016-2024.

Selama belasan tahun itu, Mas Ibbin menjadi saksi dekat denyut birokrasi nasional. Ia melihat langsung bagaimana pemimpin bekerja dalam tekanan, menyusun strategi, dan menjaga amanah jabatan.

Namun jauh sebelum hidup di lingkungan elite ibu kota, Mas Ibbin hanyalah anak desa biasa. Masa kecilnya tumbuh dalam kesederhanaan tanpa gaya hidup berlebihan. Ia dikenal tak neko-neko, hidup apa adanya, dan terbiasa dekat dengan masyarakat bawah.

Karakter itu kemudian ditempa lebih keras ketika ia merantau kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kampus inilah yang membentuk jiwa aktivismenya.

Dunia organisasi, diskusi, dan pergerakan mahasiswa memperluas cara pandangnya bahwa hidup bukan sekadar mencari aman, melainkan harus memberi manfaat.

Usai menyelesaikan pendidikan, Mas Ibbin sempat memilih jalur aman dengan mendaftar aparatur sipil negara.

Ia lolos dan diterima di Sekretariat KPU RI. Karier birokratnya berjalan mapan. Gaji tetap, masa depan terjamin, dan posisi strategis sudah di tangan.

Tetapi hati kecilnya sebagai aktivis rupanya tak pernah benar-benar padam.

Setelah 15 tahun mengabdi sebagai ASN, pada 2024 ia mengambil keputusan yang bagi sebagian orang dianggap nekat: meninggalkan dunia abdi negara untuk terjun ke politik praktis dan maju dalam kontestasi Wali Kota Blitar.

Baginya, politik adalah puncak ikhtiar seorang aktivis.

“Goals utama aktivis adalah politik. Karena di sanalah keputusan besar untuk masyarakat bisa diambil,” tuturnya.

Keputusan itu bukan tanpa bekal nilai. Mas Ibbin mengaku pernah mendapat wejangan mendalam dari sang guru tentang kaidah fikih kepemimpinan: Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah, yang berarti kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus didasarkan pada kemaslahatan atau kepentingan umum.

Wejangan itulah yang hingga kini ia pegang erat.

“Artinya, pemimpin itu tidak boleh membuat kebijakan untuk dirinya sendiri. Semua harus berpijak pada kemanfaatan rakyat,” ujarnya.

Dari seorang ajudan yang terbiasa mengiring langkah para pejabat nasional, kini Mas Ibbin justru berada di garis depan sebagai pengambil keputusan.

Dari orang yang dulu membukakan pintu untuk pimpinan, kini ia sendiri yang membuka pintu harapan bagi warga Kota Blitar.

Perjalanan itu menjadi bukti bahwa jabatan besar tidak selalu lahir dari panggung megah. Kadang, ia ditempa dari lorong-lorong sunyi pengabdian, dari kesetiaan menjadi pelayan, sebelum akhirnya dipercaya menjadi pemimpin.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Mas Ibbin #Inspiratif Blitar #Perjalanan Hidup Mas Ibbin #Syauqul Muhibbin #wali kota blitar