Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Hardiknas 2026: Saat Murid Rajin Bertanya ke AI, Tapi Malas Bertanya ke Guru

Anggi Septian A.P. • Sabtu, 2 Mei 2026 | 11:20 WIB
Hardiknas 2026 jadi alarm: AI membuat belajar serba instan. Pendidikan terancam dangkal jika teknologi tak dibarengi nalar kritis.(Gemini Ai)
Hardiknas 2026 jadi alarm: AI membuat belajar serba instan. Pendidikan terancam dangkal jika teknologi tak dibarengi nalar kritis.(Gemini Ai)

SETIAP tanggal 2 Mei, kita selalu khidmat mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional. Spanduk dipasang, kutipan Ki Hajar Dewantara dibagikan, seminar digelar, dan pidato tentang mencerdaskan kehidupan bangsa kembali diputar.

Tahun ini ada satu tokoh baru yang diam-diam hadir di ruang kelas tanpa seragam, tanpa absensi, tanpa izin dinas: Artificial Intelligence.

Ya, AI.

Makhluk digital yang tidak pernah ngantuk, tidak pernah lupa PR, tidak pernah salah ejaan, dan lebih menyedihkan lagi—kadang lebih cepat menjawab soal daripada gurunya sempat membuka buku pegangan.

Hari-hari ini dunia pendidikan kita sedang lucu. Siswa diberi tugas membuat esai, yang bekerja malah chatbot. Guru memberi pekerjaan rumah, murid memberi perintah:

“Buatkan makalah 500 kata, bahasa formal, ada daftar pustaka.” Lima detik selesai. Bahkan kini yang diuji bukan lagi kemampuan berpikir, tapi kemampuan merangkai prompt.

Ironisnya, sebagian guru pun diam-diam melakukan hal serupa. Membuat RPP pakai AI, menyusun soal pakai AI, merangkum materi pakai AI, bahkan membuat sambutan Hari Pendidikan Nasional pun mungkin dibantu AI.

Jadi kalau murid dan guru sama-sama menyerahkan otak pada mesin, lalu sekolah ini sebenarnya tempat belajar atau sekadar tempat colok charger?

Inilah fase pendidikan yang tampak canggih tapi diam-diam mengkhawatirkan: manusia sibuk mencari jawaban instan, sementara proses berpikir pelan-pelan dianggap merepotkan.

Padahal pendidikan tidak pernah dibangun dari sekadar hasil akhir. Pendidikan lahir dari proses bingung, salah, membaca, merenung, berdiskusi, lalu menemukan.

Ketika semua bisa diselesaikan dalam sekali klik, ada satu otot yang berisiko mengecil: otot nalar.

Kita sedang menuju generasi yang mungkin nilai tugasnya sempurna, bahasanya rapi, presentasinya keren, tapi jika ditanya pendapat pribadi justru menatap kosong sambil mencari sinyal WiFi.

Ini bukan salah AI. Sama sekali bukan.

Menyalahkan AI sama seperti menyalahkan kalkulator karena anak tidak hafal perkalian. Teknologi hanyalah alat.

Yang bermasalah adalah ketika alat dipakai untuk menggantikan kemauan berpikir, bukan memperkuat kemampuan berpikir.

AI bisa menjadi monster kemalasan jika dipakai untuk menyontek massal. Tapi AI juga bisa menjadi guru privat paling sabar jika dipakai untuk menjelaskan pelajaran, mencari referensi, melatih bahasa, hingga membuka wawasan global yang sebelumnya tak terjangkau.

Masalahnya sederhana: apakah kita memakai AI untuk mempersingkat kerja otak, atau memperluas kerja otak?

Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya bukan hanya momentum memuji jasa guru, tetapi juga alarm bahwa pendidikan sedang masuk tikungan tajam.

Kurikulum lama yang masih sibuk menghafal definisi jelas akan pontang-panting menghadapi murid yang bisa mendapat semua definisi dari layar ponsel.

Sekolah tidak cukup lagi mengajarkan “apa jawabannya”, karena mesin lebih cepat. Sekolah harus mulai mengajarkan “mengapa jawabannya begitu”, “apakah jawaban itu benar”, dan “apa dampaknya jika salah”.

Dengan kata lain, AI justru memaksa pendidikan kembali ke inti paling jujur: melatih manusia agar tetap manusia.

Masih ada harapan?

Tentu ada. Selama guru mau berubah dari sekadar pemberi tugas menjadi pembimbing berpikir. Selama murid diajari menggunakan AI sebagai partner belajar, bukan tukang ngerjain PR.

Dan selama sekolah sadar bahwa kecerdasan bukan siapa paling cepat copy-paste, melainkan siapa paling matang memahami.

Mungkin memang zaman sudah berubah. Murid kini lebih hafal prompt daripada rumus. Tapi pendidikan belum terlambat—asal kita tidak ikut-ikutan menjadi robot yang hanya kagum pada sesuatu yang instan.

Sebab bangsa ini tidak butuh generasi yang sekadar pandai meminta jawaban.

Bangsa ini butuh generasi yang masih mau bertanya.(*)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Hari Pendidikan Nasional 2026 #AI di Pendidikan #Opini Hardiknas #Kritik Dunia Pendidikan #kecerdasan buatan