KAWENTARAN - Hatinya terketuk untuk saling membantu sesama dengan ikhlas. Itulah ungkapan yang cocok untuk Umul Fata Afidah yang kini mengelola lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) di Yayasan Ibnu Mas’ud.
Bahkan, dia juga diamanahi menjadi ketua forum LKSA Kabupaten Blitar sejak bulan lalu.
Perempuan 36 tahun ini menceritakan bahwa 11 tahun lalu hanya ikut membantu untuk mengajar di pondok pesantren.
Usai ayahnya diamanihi mengasuh pesantren oleh Abah Farouk yang memiliki semangat untuk mendirikan pesantren bebas biaya.
”Saya awalnya hanya menemani Bapak dan Ibu mengasuh 16 adik-adik pertama yang datang untuk nyantri, namun kondisinya memprihatinkan dan membuat saya terus ingin mendampingi karena kondisinya trauma secara psikisnya,” ujar Fata.
Semangat mengelola LKSA dan pondok pesantren begitu tinggi. Kala itu, dia berangkat hanya sebagai pengasuh dan bukan sebagai pengurus.
Namun lambat laun, hatinya terikat dan memiliki perasaan untuk terus mendampingi anak-anak di Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud.
Bahkan, kini Fata juga mendapat amanah sebagai kepala SMP Islam di yayasan tersebut.
Baca Juga: Jadi Mesin Cuan Baru, BRILink Agen Buka Peluang Tambah Penghasilan lewat Pangkalan Gas
“Saya memimpin LKSA di Yayasan Ibnu Mas’ud itu sejak 2018. Kalau untuk amanah menjadi ketua Forum LKSA ini, baru bulan lalu, karena dijebloskan sama senior LKSA, sehingga tidak mampu untuk menolak. Saya berniat dan berusaha yang terbaik saja,” ungkapnya.
Fata menyebut, banyak teman dan beberapa pihak yang peduli terhadap anak-anak di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ibnu Mas’ud dengan menjadi donatur.
Bahkan seiring waktu, orang yang peduli dengan yayasan ini terus bertambah.
Namun, ada tantangan yang harus dilalui, yakni membangun sumber daya manusia (SDM) anak dan keluarganya.
Maka itu, dukungan dari keluarga untuk menguatkan pendidikan karakter serta mendisiplinkan anak menjadi hal penting dan wajib.
Bagi Fata, tantangan mengelola LKSA ini justru datang dari keluarga anak-anak. Menurutnya, jika dukungan dari keluarga minim membuat perkembangan anak tidak maksimal.
“Perlu pemahaman dari keluarga terkait bagaimana anak harus diajak untuk disiplin dan mandiri. Jangan sampai terjadi salah paham hingga dianggap mempekerjakan anak.
Padahal, pekerjaan yang kami berikan ke anak itu bagian dari pendidikan karakter seperti memilah sampah, atau kegiatan piket panen kebun sampai memasak di dapur,” tuturnya.
Fata ingin ilmu yang diajarkan kepada anak-anak di pondok bermanfaat untuk bekal kehidupannya kelak.
Menurutnya, pendidikan itu harus diwariskan dan ditularkan kepada orang lain agar bermainfaat. ”Bagi anak-anak baik yang masih di asrama maupun yang tidak, bisa hidup dengan mulia dan tidak lagi terjebak dalam kefakiran ilmu,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Saifullah Muhammad Jafar