Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Potret Hardiknas 2026: Ketika SLB di Blitar Terus Berjuang Hapus Stigma ABK Lewat Ketrampilan Vokasi Membatik hingga Bikin Kue Churros

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 4 Mei 2026 | 11:56 WIB
SLB NGUDI HAYU CD UNTUK RADAR PENATARAN - ‎KREATIF: Siswa SLB Ngudi Hayu CD belajar membuat keset dan batik ciprat.
SLB NGUDI HAYU CD UNTUK RADAR PENATARAN - ‎KREATIF: Siswa SLB Ngudi Hayu CD belajar membuat keset dan batik ciprat.

 

BLITAR KAWENTAR – Stigma keterbatasan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) di tengah masyarakat masih terjadi.

Sekolah luar biasa (SLB) terus berupaya keras untuk menghapusnya. 

Baca Juga: Hingga Triwulan 2026, Nilai Kerugian Kasus Kebakaran di Blitar Capai Rp3,3 Miliar, Ini yang Terparah

Salah satu upayanya dengan mengintensifkan program keterampilan vokasi seperti di SLB Ngudi Hayu CD.

Di sekolah tersebut, anak-anak istimewa ini diajarkan keterampilan tangan, mulai melukis, membatik, hingga membuat kerajinan tangan bernilai ekonomis.

Baca Juga: SPMB 2026 Mulai Sosialisasi, Dispendik Setujui 5 SMPN di Kabupaten Blitar Tambah Rombel

Lewat pengajaran tersebut, sekolah berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya mandiri secara personal, tetapi juga memiliki daya saing ekonomi di masyarakat.

Ya, kurikulum keterampilan tersebut dirancang khusus sesuai dengan hambatan dan potensi masing-masing siswa.

Baca Juga: Hingga Triwulan 2026, Nilai Kerugian Kasus Kebakaran di Blitar Capai Rp3,3 Miliar, Ini yang Terparah

Untuk siswa tingkat SMP dan SMA LB, fokus utama diarahkan pada produksi kerajinan tangan dan jasa layanan yang relevan dengan kebutuhan pasar.

"Kami membekali anak-anak dengan berbagai keterampilan, mulai dari pembuatan keset kain perca hingga batik ciprat.

Baca Juga: ⁠Cabor Bola Tangan Kabupaten Blitar Bidik Final Indoor di Kejurprov Surabaya, Ini Hasilnya

Harapannya, setelah lulus, mereka tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain, tetapi memiliki keahlian yang bisa menghasilkan nilai ekonomi," ujar Kepala Sekolah SLB Ngudi Hayu CD, Tutut Setyaningtyas, kepada koran ini. 

Program seperti pembuatan batik ciprat rutin dilaksanakan setiap Rabu bagi siswa Tuna Rungu.

Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya

"Selain itu, para siswa juga diajarkan keterampilan tata boga dengan memproduksi kudapan seperti kue churros, serta keterampilan jasa cuci sepeda motor yang dikhususkan bagi siswa tunagrahita," tuturnya.

Tutut menambahkan bahwa kemandirian ini didukung penuh oleh fasilitas yang memadai.

Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Bikin Heboh, LMPV 7 Seater Harga Rp140 Jutaan Siap Goyang Dominasi Sigra dan Calya

"Seluruh kebutuhan alat praktik, mulai dari mesin jahit hingga peralatan cuci motor, dipenuhi melalui alokasi dana BOS dan BPOPP guna memastikan proses belajar mengajar berjalan maksimal tanpa kendala sarana," paparnya.

Pemasaran produk seperti keset memang saat ini masih di lingkup wali murid dan pameran-pameran tertentu.

Baca Juga: Honda Brio 2026 Resmi Mengaspal: Tampilan Lebih Agresif dan Fitur Makin Canggih, Berapa Harga Terbarunya Sekarang?

Namun, esensi utamanya adalah membangun rasa percaya diri siswa bahwa mereka mampu berkarya.

"Kami ingin masyarakat melihat hasil karya mereka sebagai produk yang layak hargai, bukan sekadar atas dasar belas kasihan," pungkasnya.(kho/c1/sub)

Editor : Oksania Difa Ilmada
#SLB Blitar #SLB Ngudi Hayu CD #SMP dan SMA LB #anak berkebutuhan khusus (ABK)