Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠⁠Kisah Sosok Guru SLB Negeri Kota Blitar Tak Mengira Harus Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus: Ternyata Mereka Punya Kelebihan Tersembunyi

Oksania Difa Ilmada • Senin, 4 Mei 2026 | 13:30 WIB
Riftanta Yuna Fellanda/RADAR BLITAR - EKSTRA SABAR: Megarani Rosnadia menjadi pengajar di SLBN 3 Kota Blitar untuk jenjang TK dan SD. 
Riftanta Yuna Fellanda/RADAR BLITAR - EKSTRA SABAR: Megarani Rosnadia menjadi pengajar di SLBN 3 Kota Blitar untuk jenjang TK dan SD. 

 

BLITAR KAWENTAR - Menjadi guru di lembaga sekolah luar biasa (SLB) tak pernah ada dalam angan Megarani Rosnadia sebelumnya.

Namun, garis takdir berkata lain. Kini, dia harus berhadapan dengan anak-anak istimewa dengan beragam karakter dan kelebihan yang tersembunyi. 

Baca Juga: Musim Kemarau Panjang, DKPP Kabupaten Blitar Imbau Petani Tanam Padi Tahan Kering

Suasana kelas itu tak selalu dipenuhi suara. Di salah satu ruang belajar SLB Negeri 3 Kota Blitar, komunikasi terjalin lewat isyarat, tatapan, dan kesabaran yang panjang.

Di sanalah Megarani Rosnadia menapaki perannya sebagai guru, menghidupkan harapan di ruang yang sering kali luput dari perhatian.

Baca Juga: Potret Hardiknas 2026: Ketika SLB di Blitar Terus Berjuang Hapus Stigma ABK Lewat Ketrampilan Vokasi Membatik hingga Bikin Kue Churros

Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi pengingat bahwa pendidikan tak selalu berjalan dalam ritme yang sama.

Bagi Mega, pendidikan adalah proses mendampingi, bukan sekadar mengajar.

Baca Juga: Potret Hardiknas 2026: Ketika SLB di Blitar Terus Berjuang Hapus Stigma ABK Lewat Ketrampilan Vokasi Membatik hingga Bikin Kue Churros

Perjalanannya dimulai dari ketidaktahuan.

Dia mengaku awalnya tak memahami dunia pendidikan luar biasa.

Baca Juga: SPMB 2026 Mulai Sosialisasi, Dispendik Setujui 5 SMPN di Kabupaten Blitar Tambah Rombel

“Dulu saya sempat bertanya, kenapa harus jadi guru SLB,” ujar perempuan warga Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok itu.

Namun, dorongan dari lingkungan membawanya menempuh studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Universitas Negeri Malang.

Baca Juga: SPMB 2026 Mulai Sosialisasi, Dispendik Setujui 5 SMPN di Kabupaten Blitar Tambah Rombel

Keraguan sempat muncul saat pertama kali berhadapan langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

Rasa iba bercampur dengan ketidakpastian.

Baca Juga: ⁠Cabor Bola Tangan Kabupaten Blitar Bidik Final Indoor di Kejurprov Surabaya, Ini Hasilnya

“Saya sempat merasa, apakah saya mampu,” kenangnya. 

Hingga akhirnya, pengalaman praktik mengajar membuka perspektif baru.

Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya

Dia mulai memahami bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan kehadiran yang tulus.

Di ruang kelas, Mega menghadapi dinamika yang tak sederhana.

Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya

Setiap anak datang dengan kondisi dan kebutuhan yang berbeda.

Ada kalanya proses belajar harus tertunda karena kondisi emosional siswa yang belum stabil.

Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya

“Kadang anak datang dengan perasaan yang kurang baik dari rumah seperti tantrum, jadi di kelas butuh waktu untuk menenangkan dulu,” jelas perempuan 28 tahun ini.

Situasi tersebut menuntut kesabaran ekstra sekaligus kepekaan.

Baca Juga: Daihatsu Sigra 1.2 R AT MC 2025 Resmi Jadi Sorotan, MPV Murah 7 Penumpang Kini Makin Mewah dengan Lampu LED dan Fitur Modern

Mega pun membangun komunikasi intens dengan orang tua agar proses pendampingan berjalan selaras.

“Sebagai pengajar, kami tidak bisa sendiri. Harus ada kerja sama dengan keluarga,” tegasnya.

Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Bikin Heboh, LMPV 7 Seater Harga Rp140 Jutaan Siap Goyang Dominasi Sigra dan Calya

Di balik tantangan, tersimpan momen-momen yang menguatkan.

Dia menceritakan seorang siswanya yang awalnya belum menunjukkan minat tertentu, kemudian berkembang dalam seni tari setelah mendapat pendampingan.

Baca Juga: Daihatsu Sigra Lebih Laris dari Toyota Calya? Ini Alasan MPV Murah Favorit Keluarga Indonesia Sulit Dikalahkan

“Ternyata dia punya bakat menari dan sekarang kemampuannya terus berkembang,” ujarnya.

Bagi Mega, setiap perkembangan adalah langkah berarti.

Baca Juga: Daihatsu Sigra 1.2 R AT MC 2025 Resmi Jadi Sorotan, MPV Murah 7 Penumpang Kini Makin Mewah dengan Lampu LED dan Fitur Modern

Dia meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik meski sering kali tidak langsung terlihat.

Di sisi lain, stigma masyarakat masih menjadi tantangan. Anak-anak SLB kerap dipandang terbatas, padahal mereka memiliki kemampuan yang bisa diasah.

Baca Juga: Potret Hardiknas 2026: Ketika SLB di Blitar Terus Berjuang Hapus Stigma ABK Lewat Ketrampilan Vokasi Membatik hingga Bikin Kue Churros

“Mereka hanya butuh ruang dan kesempatan,” katanya.

Menjelang Hardiknas, Mega berharap perhatian terhadap pendidikan inklusif semakin luas, termasuk dalam menyiapkan masa depan siswa setelah lulus.

Baca Juga: Musim Kemarau Panjang, DKPP Kabupaten Blitar Imbau Petani Tanam Padi Tahan Kering

Dia menilai penting adanya wadah yang dapat menghubungkan mereka dengan dunia kerja. 

“Banyak yang sebenarnya mampu, tapi belum ada tempat yang mengarahkan. Termasuk di Blitar,” ujarnya.

Baca Juga: Nissan Grafit 2026 Bikin Heboh, LMPV 7 Seater Harga Rp140 Jutaan Siap Goyang Dominasi Sigra dan Calya

Dia juga berpesan kepada orang tua untuk tidak ragu dan malu.

“Jangan malu dan jangan takut. Semakin cepat didampingi, perkembangan anak juga akan semakin optimal,” pungkasnya.(*/c1/sub)

Editor : Oksania Difa Ilmada
#Megarani Rosnadia #SLB Negeri 3 Kota Blitar #Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) #sekolah luar biasa (slb)