BLITAR KAWENTAR - Menjadi guru di lembaga sekolah luar biasa (SLB) tak pernah ada dalam angan Megarani Rosnadia sebelumnya.
Namun, garis takdir berkata lain. Kini, dia harus berhadapan dengan anak-anak istimewa dengan beragam karakter dan kelebihan yang tersembunyi.
Baca Juga: Musim Kemarau Panjang, DKPP Kabupaten Blitar Imbau Petani Tanam Padi Tahan Kering
Suasana kelas itu tak selalu dipenuhi suara. Di salah satu ruang belajar SLB Negeri 3 Kota Blitar, komunikasi terjalin lewat isyarat, tatapan, dan kesabaran yang panjang.
Di sanalah Megarani Rosnadia menapaki perannya sebagai guru, menghidupkan harapan di ruang yang sering kali luput dari perhatian.
Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi pengingat bahwa pendidikan tak selalu berjalan dalam ritme yang sama.
Bagi Mega, pendidikan adalah proses mendampingi, bukan sekadar mengajar.
Perjalanannya dimulai dari ketidaktahuan.
Dia mengaku awalnya tak memahami dunia pendidikan luar biasa.
Baca Juga: SPMB 2026 Mulai Sosialisasi, Dispendik Setujui 5 SMPN di Kabupaten Blitar Tambah Rombel
“Dulu saya sempat bertanya, kenapa harus jadi guru SLB,” ujar perempuan warga Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok itu.
Namun, dorongan dari lingkungan membawanya menempuh studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Universitas Negeri Malang.
Baca Juga: SPMB 2026 Mulai Sosialisasi, Dispendik Setujui 5 SMPN di Kabupaten Blitar Tambah Rombel
Keraguan sempat muncul saat pertama kali berhadapan langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus.
Rasa iba bercampur dengan ketidakpastian.
Baca Juga: Cabor Bola Tangan Kabupaten Blitar Bidik Final Indoor di Kejurprov Surabaya, Ini Hasilnya
“Saya sempat merasa, apakah saya mampu,” kenangnya.
Hingga akhirnya, pengalaman praktik mengajar membuka perspektif baru.
Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya
Dia mulai memahami bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan kehadiran yang tulus.
Di ruang kelas, Mega menghadapi dinamika yang tak sederhana.
Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya
Setiap anak datang dengan kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Ada kalanya proses belajar harus tertunda karena kondisi emosional siswa yang belum stabil.
Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya
“Kadang anak datang dengan perasaan yang kurang baik dari rumah seperti tantrum, jadi di kelas butuh waktu untuk menenangkan dulu,” jelas perempuan 28 tahun ini.
Situasi tersebut menuntut kesabaran ekstra sekaligus kepekaan.
Mega pun membangun komunikasi intens dengan orang tua agar proses pendampingan berjalan selaras.
“Sebagai pengajar, kami tidak bisa sendiri. Harus ada kerja sama dengan keluarga,” tegasnya.
Di balik tantangan, tersimpan momen-momen yang menguatkan.
Dia menceritakan seorang siswanya yang awalnya belum menunjukkan minat tertentu, kemudian berkembang dalam seni tari setelah mendapat pendampingan.
“Ternyata dia punya bakat menari dan sekarang kemampuannya terus berkembang,” ujarnya.
Bagi Mega, setiap perkembangan adalah langkah berarti.
Dia meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi yang unik meski sering kali tidak langsung terlihat.
Di sisi lain, stigma masyarakat masih menjadi tantangan. Anak-anak SLB kerap dipandang terbatas, padahal mereka memiliki kemampuan yang bisa diasah.
“Mereka hanya butuh ruang dan kesempatan,” katanya.
Menjelang Hardiknas, Mega berharap perhatian terhadap pendidikan inklusif semakin luas, termasuk dalam menyiapkan masa depan siswa setelah lulus.
Baca Juga: Musim Kemarau Panjang, DKPP Kabupaten Blitar Imbau Petani Tanam Padi Tahan Kering
Dia menilai penting adanya wadah yang dapat menghubungkan mereka dengan dunia kerja.
“Banyak yang sebenarnya mampu, tapi belum ada tempat yang mengarahkan. Termasuk di Blitar,” ujarnya.
Dia juga berpesan kepada orang tua untuk tidak ragu dan malu.
“Jangan malu dan jangan takut. Semakin cepat didampingi, perkembangan anak juga akan semakin optimal,” pungkasnya.(*/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada