BLITAR KKAWENTAR – Ancaman El Nino Godzilla menjadi atensi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar telah menyiapkan anggaran Rp 80 juta untuk kebutuhan air bersih sebanyak 90 rit.
Jumlah kebutuhan air tersebut menurun dari proyeksi awal usai adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada April lalu.
”Awalnya diproyeksikan sebanyak 133 rit air. Namun karena ada kenaikan harga BBM, anggaran yang ada hanya cukup untuk sekitar 90 rit,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi.
Baca Juga: Musim Kemarau Panjang, DKPP Kabupaten Blitar Imbau Petani Tanam Padi Tahan Kering
Dia menjelaskan, anggaran penanganan kekeringan tahun ini sebenarnya disusun sejak 2025 sebelum adanya prediksi kuat fenomena El Nino dan kenaikan harga BBM.
Akibatnya, alokasi yang tersedia belum mengakomodasi kebutuhan riil di lapangan.
Maka dari itu, BPBD Kabupaten Blitar mulai memetakan kebutuhan air bersih untuk menghadapi potensi kekeringan tahun ini.
Meski demikian, ketersediaan air saat ini dinilai masih jauh dari cukup.
Baca Juga: Hingga Triwulan 2026, Nilai Kerugian Kasus Kebakaran di Blitar Capai Rp3,3 Miliar, Ini yang Terparah
Kenaikan harga BBM yang mencapai lebih dari 50 persen tentu memengaruhi operasional BPBD.
BPBD mengaku harus menyesuaikan strategi penanganan agar kebutuhan air bisa mencukupi saat kekeringan.
Baca Juga: Cabor Bola Tangan Kabupaten Blitar Bidik Final Indoor di Kejurprov Surabaya, Ini Hasilnya
Saat ini, stok 90 rit air menjadi cadangan awal yang akan digunakan ketika laporan kekeringan mulai masuk.
Meski demikian, jelas dia, jumlah tersebut tidak akan mencukupi jika kekeringan berlangsung dalam jangka panjang.
Baca Juga: Hingga Triwulan 2026, Nilai Kerugian Kasus Kebakaran di Blitar Capai Rp3,3 Miliar, Ini yang Terparah
Apalagi untuk wilayah terdampak yang diperkirakan meliputi tujuh kecamatan.
”Kalau untuk kekeringan jangka panjang jelas tidak cukup. Maka dari itu, kami telah mengajukan tambahan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengantisipasi kekurangan stok,” ungkapnya.
Wahyudi menyebut total tambahan air yang diajukan mencapai 600 rit air.
Dia berharap bantuan itu mendapatkan lampu hijau dari pemprov dan BNPB.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana menggandeng berbagai pihak, termasuk dunia usaha untuk membantu penanganan kekeringan melalui skema kolaborasi.
Terkait kemungkinan penggunaan anggaran belanja tidak terduga (BTT), Wahyudi menyebut kewenangan tersebut berada di badan pengelolaan keuangan dan aset daerah (BPKAD).
Maka dari itu, dia belum bisa merencanakan dengan anggaran dari BTT tersebut karena tidak memiliki kewenangan.
Dengan kondisi yang ada, BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan segera melaporkan jika mengalami kesulitan air bersih agar penanganan bisa dilakukan secara cepat dan tepat.
Baca Juga: Perjuangan Sosok Perempuan Muda dari Relawan kini Penggerak LKSA Kabupaten Blitar, Ini Kiprahnya
Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto mengatakan berdasarkan hasil pemetaan terbaru, sebanyak 7 kecamatan dan 21 desa di Kabupaten Blitar kini ditetapkan dalam status Zona Merah atau sangat rawan kekeringan.
Dua wilayah yang menjadi perhatian utama adalah Kecamatan Panggungrejo ada lebih dari 36 ribu jiwa terancam krisis air.
Kemudian, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, ada sekitar 20 ribu jiwa menghadapi ancaman serupa.
“Ini merupakan jumlah yang sangat besar dan menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengantisipasi dan menanggulangi sejak dini,” Kata Rijanto.
Baca Juga: Musim Kemarau Panjang, DKPP Kabupaten Blitar Imbau Petani Tanam Padi Tahan Kering
Untuk memitigasi dampak tersebut, Pemkab Blitar telah bersinergi dengan pemerintah pusat melalui bantuan infrastruktur dan benih tahan kekeringan.
Beberapa dukungan dari Kementerian Pertanian meliputi pembangunan 128 unit irigasi perpompaan dan 23 unit irigasi perpipaan.
Baca Juga: Hingga Triwulan 2026, Nilai Kerugian Kasus Kebakaran di Blitar Capai Rp3,3 Miliar, Ini yang Terparah
”Kami telah mengalokasikan anggaran APBD 2026 untuk rehabilitasi saluran irigasi senilai Rp 6,2 miliar di 11 kecamatan serta rehabilitasi bendung senilai Rp 1,1 miliar.
Selain itu, menyiapkan cadangan pangan sebesar 45,585 ton beras yang siap disalurkan saat masa tanggap darurat,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada