BLITAR KAWENTAR - Di balik kesibukan mengurus dan memimpin Kantor Imigrasi Blitar, Aditya Nursanto ternyata memiliki hobi yang tidak biasa, yakni memelihara ikan akuarium air laut.
Bahkan, ada dua akuarium yang menghiasi kantornya.
Satu di ruang depan dan satu di ruangannya. Ini menjadi penghilang penat di tengah kerja kantor yang sibuk.
Ikan warna-warni berenang tenang di sudut ruang kerja Kepala Kantor Imigrasi Blitar.
Sesekali seekor lionfish bergerak pelan di antara terumbu karang dan anemon laut, sementara ikan nemo dan dori bersembunyi di sela karang hidup.
“Saya memang suka ikan, terutama ikan laut. Spesiesnya lebih unik dibanding ikan air tawar. Tapi memang, kesulitan memelihara ikan laut ini lebih sulit daripada air tawar,” ungkapnya.
Bagi Aditya, akuarium itu bukan sekadar pajangan.
Sebab, ada ketenangan yang dia temukan dari gemericik air dan gerak ikan-ikan laut di ruang kerjanya.
Kecintaan terhadap dunia akuarium sebenarnya sudah cukup lama. “Tapi saya punya akuarium ini sejak setahun lalu,” akunya.
Baca Juga: Harus Rela Antre hingga 27 Tahun, Jumlah Pendaftar Haji di Blitar Terus Meningkat
Sebelum menekuni akuarium air laut, dia pernah memelihara berbagai jenis ikan air tawar, mulai arwana, koi, hingga ikan koki.
Namun, menurutnya, akuarium air laut memberikan sensasi dan tantangan yang berbeda.
Aditya menjelaskan detail yang harus diperhatikan.
Mulai menjaga kadar pH, suhu air, sirkulasi, hingga kebersihan filter akuarium.
Belum lagi keberadaan terumbu karang hidup yang membutuhkan perhatian ekstra agar tetap tumbuh baik.
“Saya tidak hanya memelihara ikan, namun juga merawat air, seperti PH, suhu, dan rotasi air hingga kebersihan akuarium. Sebab di akuarium air laut itu tidak hanya ikan. Ada karang, anemon, bintang laut, kerang laut, sampai ikan buntal. Semua harus dijaga keseimbangannya,” jelasnya.
Baca Juga: Digitalisasi Desa Bukan Sekedar Tren, Melainkan Keharusan Tata Kelola
Akuarium berukuran besar itu memang sengaja ditempatkan di ruang kerja.
Di tengah tekanan pekerjaan, pemandangan bawah laut mini tersebut menjadi pelepas penat dan agar menjadi sumber inspirasinya.
Baginya, air selalu identik dengan ketenteraman.
Baca Juga: 5 HP 2 Jutaan Terbaik 2026 Buat Upgrade Akhir Tahun, Poco M7 hingga Infinix Hot 60 Pro Jadi Rebutan
Bahkan, dia mengaku terinspirasi dari gambaran sungai dan air mengalir yang sering disebut dalam Alquran.
Isi akuarium pun tidak main-main. Selain lionfish, terdapat ikan nemo, dori, ikan buntal sapi, ikan duri, bintang laut, anemone, hingga berbagai jenis karang laut.
Semua dikumpulkan dan dirawat sedikit demi sedikit selama hampir setahun terakhir.
“Saat pertama kali datang ke Blitar, itu akuarium telantar sebenarnya dan terbengkalai. Lalu, saya rehab, saya servis, saya perbaiki, dan saya niatkan membuat akuarium air laut,” kenangnya.
Proses membangun ekosistem laut mini itu tidak instan.
Bahkan, menurutnya, akuarium membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum benar-benar siap dihuni ikan.
Baca Juga: Tatanan Ekonomi Meningkat, Pengangguran Dan Harga Kebutuhan Pokok Menjadi Isu Prioritas
Akuarium miliknya ini tiga bulan baru bisa ditempati ikan sehingga memang tidak mudah.
Untuk kebutuhan air laut dan perlengkapan akuarium, Aditya biasa mendapatkannya dari Tulungagung.
Dia dibantu seorang ahli akuarium laut untuk berbagai keperluan, juga menerjemahkan konsep yang diinginkannya.
“Biasanya untuk air dan aksesori lainnya, saya dapat dari Tulungagung,” tuturnya.
Namun justru di situlah letak kepuasannya. Semakin rumit perawatan akuarium air laut, semakin besar pula rasa puas ketika melihat ekosistem kecil itu hidup dengan indah di sudut ruang kerjanya.
“Memelihara ikan laut di akuarium itu tidak bisa hari ini mau, besok langsung jadi. Semua butuh proses. Kalau ingin hasil yang baik, ya harus effort luar biasa juga,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Baca Juga: Rekomendasi HP 2 Jutaan Terbaik Mei 2026, Ada AMOLED 144 Hz, Baterai 7000 mAh hingga Kamera 108 MP
Editor : Muhammad Adib Falih Rifly