BLITAR KAWENTAR - Kuliner tempo dulu di Blitar kembali mencuri perhatian setelah sebuah warung makan legendaris dekat bekas Stasiun Gebang ramai dibahas pecinta wisata kuliner. Warung sederhana yang disebut sudah berdiri sejak 1981 itu dikenal menyajikan masakan rumahan khas Jawa dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau.
Warung tersebut berada di kawasan bekas Stasiun Gebang, Kota Blitar, tepat di sekitar area yang dekat dengan Istana Gebang. Meski lokasinya sederhana dan berada di pinggir jalan, tempat makan ini tetap ramai didatangi pelanggan setia maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana kuliner lawas khas Blitar.
Keberadaan kuliner tempo dulu di Blitar memang masih menjadi daya tarik tersendiri. Banyak warung legendaris tetap bertahan puluhan tahun dengan mempertahankan resep tradisional dan suasana klasik yang sulit ditemukan di restoran modern.
Warung Legendaris Dekat Bekas Stasiun Gebang
Dalam video yang beredar, suasana pagi di sekitar bekas Stasiun Gebang terlihat masih tenang ketika pemilik warung mulai menyiapkan aneka lauk untuk pelanggan. Menu-menu sederhana dipajang di etalase, mulai dari ayam lodho, daging, tahu, tempe, hingga sayur lodeh dan gudangan khas Jawa.
Pemilik warung menyebut tempat makan tersebut mulai beroperasi sejak awal 1980-an dan terus bertahan sampai sekarang. Pada masa itu, kereta api masih berhenti di Stasiun Gebang sebelum akhirnya jalur tersebut tidak lagi aktif seperti sekarang.
Warung ini dikenal luas oleh warga Blitar karena menawarkan masakan rumahan dengan rasa khas tempo dulu. Proses memasaknya pun masih mempertahankan cara tradisional sehingga menghadirkan cita rasa autentik yang sulit berubah meski zaman terus berkembang.
Sajikan Masakan Sederhana dengan Rasa Khas
Salah satu menu favorit di warung ini adalah ayam lodho, masakan khas Jawa Timur berbahan ayam berbumbu santan dengan rasa gurih dan sedikit pedas. Selain itu tersedia pula berbagai lauk pendamping seperti tempe goreng, tahu, telur, ikan patin, hingga sayur lodeh.
Pemilik warung mengatakan menu yang dijual memang sederhana, tetapi justru itu yang membuat pelanggan terus datang kembali. Banyak pengunjung disebut lebih menyukai masakan rumahan tradisional dibanding menu modern.
“Masakan sederhana malah enak,” ujar pemilik warung dalam percakapan di video tersebut.
Keunikan lain dari warung ini adalah suasananya yang masih sangat klasik. Bangunan sederhana di dekat rel kereta lama menghadirkan nuansa nostalgia yang membuat pengunjung seolah kembali ke masa lalu.
Jadi Tujuan Wisata Kuliner Blitar
Kuliner tempo dulu di Blitar kini semakin diminati wisatawan, terutama mereka yang mencari pengalaman makan khas daerah dengan nuansa tradisional. Lokasi warung yang berada dekat bekas Stasiun Gebang juga menambah daya tarik tersendiri karena memiliki nilai sejarah.
Pengunjung yang datang tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga suasana lawas yang masih terasa kuat di kawasan tersebut. Banyak pelanggan sengaja datang pagi hari untuk menikmati sarapan sambil melihat aktivitas sekitar bekas stasiun.
Selain wisata sejarah dan wisata makam Bung Karno, Kota Blitar memang dikenal memiliki banyak tempat kuliner ikonik. Mulai dari pecel, lodho ayam, es pleret, hingga warung-warung tradisional yang masih mempertahankan resep turun-temurun.
Harga Murah Jadi Daya Tarik
Faktor harga yang relatif murah juga menjadi alasan warung-warung lawas di Blitar tetap bertahan. Dengan menu sederhana dan porsi rumahan, pengunjung bisa menikmati makanan khas Jawa tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Hal ini membuat wisata kuliner Blitar cocok untuk berbagai kalangan, mulai dari wisatawan keluarga hingga anak muda yang ingin berburu tempat makan unik dan legendaris.
Di tengah menjamurnya restoran modern dan kafe kekinian, keberadaan warung tempo dulu seperti ini justru menjadi magnet tersendiri. Banyak orang merasa rasa makanan tradisional memiliki kehangatan dan kenangan yang tidak tergantikan.
Warung legendaris dekat bekas Stasiun Gebang itu menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Blitar masih memiliki tempat di hati masyarakat dan tetap eksis di tengah perkembangan zaman.
Editor : Gita Dwi Nuraini