BLITAR KAWENTAR - Haul Eyang Jugo ke-156 berlangsung meriah dengan rangkaian kirab pusaka, pertunjukan seni budaya, hingga pagelaran wayang kulit yang dipadati ribuan warga. Acara yang digelar di pelataran agung Padepokan Eyang Jugo pada 18 April 2026 itu menjadi magnet budaya masyarakat dari berbagai daerah.
Sejak siang hari, suasana di kawasan padepokan sudah dipenuhi pengunjung yang datang untuk menyaksikan langsung prosesi kirab pusaka Haul Eyang Jugo. Sejumlah pembawa acara menyambut para tamu undangan, tokoh masyarakat, hingga rombongan seni yang ikut memeriahkan agenda budaya tahunan tersebut.
Haul Eyang Jugo ke-156 tidak hanya menjadi kegiatan spiritual dan budaya, tetapi juga ajang silaturahmi masyarakat. Berbagai elemen hadir dalam acara tersebut, mulai dari jajaran Muspika Kecamatan Kesamben, perangkat desa, tokoh agama, hingga komunitas seni dan budaya dari berbagai wilayah.
Prosesi kirab pusaka menjadi puncak perhatian warga. Rombongan pusaka bersama gunungan hasil bumi diarak menuju padepokan dengan iringan tari tradisional, karawitan, serta barisan budaya. Masyarakat tampak antusias memadati area pelataran untuk menyaksikan jalannya prosesi sakral tersebut.
Panitia beberapa kali mengingatkan pengunjung agar menjaga ketertiban karena area karpet merah harus steril untuk jalannya kirab pusaka dan penampilan seni. Tim keamanan dari berbagai unsur juga diterjunkan guna memastikan acara berlangsung aman dan lancar.
Selain kirab pusaka, rangkaian Haul Eyang Jugo juga diisi berbagai pertunjukan budaya. Sanggar seni karawitan Klampis Ireng tampil menghibur pengunjung dengan alunan gamelan dan tembang Jawa. Penampilan tersebut menjadi pembuka sebelum rombongan kirab memasuki area utama padepokan.
Tidak hanya itu, komunitas WBI Wanita Bersanggul Indonesia turut tampil membawakan tarian tradisional. Kehadiran lebih dari seratus anggota komunitas tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para penonton yang memadati area panggung kehormatan.
Paguyuban Bina Nada juga ikut memeriahkan acara dengan penampilan musik dan tari tradisional. Sementara sejumlah kontingen dari dusun dan sekolah dasar di Desa Jugo tampil membawakan berbagai pertunjukan seni budaya, mulai tari Bali hingga drumband.
Kirab Pusaka dan Gunungan Hasil Bumi Jadi Sorotan
Kirab pusaka Haul Eyang Jugo menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas berkah dan hasil bumi yang melimpah. Gunungan hasil bumi yang diarak menuju padepokan disebut sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam prosesi tersebut, sejumlah tokoh adat dan abdi dalem Keraton Surakarta Hadiningrat wilayah Jawa Timur turut hadir mengenakan pakaian adat Jawa. Kehadiran mereka menambah nuansa sakral dalam rangkaian acara budaya tersebut.
Masyarakat juga disuguhkan penampilan bantengan dan kelompok kesenian tradisional lainnya. Beberapa peserta bahkan datang dari luar daerah untuk ikut meramaikan haul tahunan tersebut.
Panitia acara menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut mendukung kegiatan budaya itu. Dukungan datang dari sponsor, komunitas seni, pelaku UMKM, hingga relawan keamanan yang membantu kelancaran acara sejak awal hingga akhir.
Wayang Kulit dan Rangkaian Acara Hingga Besok
Tidak berhenti pada kirab pusaka, Haul Eyang Jugo ke-156 masih berlanjut hingga malam hari dengan pagelaran wayang kulit. Dalang Ki Rendra dijadwalkan tampil membawakan pertunjukan semalam suntuk yang menjadi hiburan utama masyarakat.
Sementara pada hari berikutnya, panitia juga menyiapkan agenda penyekaran agung, kirab tumpeng ambengan, ruat nusantara, hingga tahlil akbar. Seluruh rangkaian acara dipusatkan di kawasan Padepokan Eyang Jugo.
Di sisi lain, pelaku UMKM dan pedagang lokal turut merasakan dampak positif dari ramainya pengunjung. Area sekitar padepokan dipenuhi stan makanan, minuman, hingga produk lokal yang diburu masyarakat.
Panitia berharap Haul Eyang Jugo dapat terus menjadi agenda budaya tahunan yang menjaga tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Antusiasme ribuan pengunjung menjadi bukti bahwa tradisi budaya Jawa masih mendapat tempat di tengah masyarakat modern.
Editor : Gita Dwi Nuraini