BLITAR KAWENTAR - Hesti Retno Satuti menjaga denyut tradisi anyaman bambu yang diwariskan keluarganya sejak puluhan tahun lalu.
Di rumah sederhana di Dusun Tumpuk, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, dia tetap semangat melestarikan produk anyaman bambu secara tradisional di tengah gempuran teknologi pabrikan.
Perempuan itu tampak telaten menyusun besek dan hamper bambu di sudut ruang kerjanya.
Tangannya bergerak cepat, sesekali merapikan anyaman yang belum sempurna.
Bagi Hesti, setiap helai bambu bukan sekadar bahan baku, melainkan bagian dari warisan budaya yang harus tetap hidup.
Usaha anyaman bambu tersebut mulai dia tekuni secara serius sejak 2017.
Baca Juga: Harga Material Naik, Pemkot Blitar Pastikan Anggaran Bantuan RTLH tak Berubah
Saat itu, Hesti mengikuti pelatihan kerajinan yang digelar Disperindag Kabupaten Blitar dan Surabaya.
Dari pelatihan itu, dia mulai memahami teknik produksi, desain, hingga peluang pasar yang lebih luas.
“Mulai 2017, saya ikut pelatihan dari Disperindag Kabupaten Blitar dan Surabaya,” kenangnya.
Kini, hampir satu dekade berjalan, usaha kecil itu berkembang perlahan.
Baca Juga: Terima Keluhan Pedagang, Pemkot Blitar Bakal Evaluasi Sistem Sewa Ruko Stadion Soepriadi
Bersama tiga pekerja tetap dan dua tenaga tambahan, Hesti mampu memproduksi sekitar 50 anyaman bambu per hari.
Jumlah itu bisa bertambah ketika pesanan sedang ramai.
“Biasanya 50 anyaman per hari. Tapi kalau pesanan banyak bisa produksi lebih banyak,” ujarnya.
Produk yang dibuat pun beragam. Mulai dari besek, bakul nasi, tas bambu, kap lampu, hamper, hingga tempat sampah.
Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah
Semuanya dikerjakan secara manual dengan ketelitian tinggi. Hesti mengaku kualitas menjadi hal paling penting dalam usahanya.
“Yang paling susah itu mencari orang yang bisa kerja sesuai standar saya. Harus halus, rapi, dan kuat,” tuturnya.
Tak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar.
Saat pesanan meningkat, Hesti melibatkan tenaga tambahan dari lingkungan setempat untuk membantu proses produksi.
Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah
Dalam sebulan, omzet yang diperoleh berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 8 juta tergantung jumlah pesanan.
Produk anyamannya dipasarkan secara offline ke sejumlah wilayah seperti Blitar, Talun, hingga Malang.
Selain itu, pemasaran online membuat produknya menjangkau konsumen luar daerah, bahkan hingga Batam.
Harga produknya bervariasi.
Baca Juga: Harga Material Naik, Pemkot Blitar Pastikan Anggaran Bantuan RTLH tak Berubah
Besek kecil dijual mulai Rp 2.500, sementara produk seperti tudung saji bambu dibanderol sekitar Rp 150 ribu.
Untuk rak displai lima tingkat, harganya bisa mencapai Rp 250 ribu.
Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah
Menjelang Ramadan dan Lebaran, pesanan biasanya melonjak tajam.
Hamper bambu menjadi salah satu produk paling banyak dicari.
Baca Juga: Terima Keluhan Pedagang, Pemkot Blitar Bakal Evaluasi Sistem Sewa Ruko Stadion Soepriadi
“Kalau musim Lebaran, bisa sampai enggak tidur. Pesanan hamper ratusan,” katanya sambil tersenyum.
Meski sempat mendapat tawaran ekspor, Hesti belum mampu memenuhi permintaan produksi dalam jumlah besar.
Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah
Keterbatasan tenaga kerja menjadi kendala utama.
Namun, di balik keterbatasan itu, semangatnya tetap terjaga.
Baca Juga: Terima Keluhan Pedagang, Pemkot Blitar Bakal Evaluasi Sistem Sewa Ruko Stadion Soepriadi
Dari rumah kecil di Srengat, Hesti terus membuktikan bahwa anyaman bambu bukan sekadar kerajinan tradisional, melainkan karya bernilai ekonomi yang ikut menjaga identitas budaya lokal.(*/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada