Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Semangat Warga Desa Purwokerto Blitar Menjaga Usaha Anyaman Bambu secara Tradisional

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 11 Mei 2026 | 12:12 WIB
AKHMAD NUR KHOIRI/RADAR BLITAR - JAGA WARISAN: Hesti Retno Satuti mengerjakan anyaman bambu pesanan konsumen beberapa waktu lalu.
AKHMAD NUR KHOIRI/RADAR BLITAR - JAGA WARISAN: Hesti Retno Satuti mengerjakan anyaman bambu pesanan konsumen beberapa waktu lalu.

 

BLITAR KAWENTAR - Hesti Retno Satuti menjaga denyut tradisi anyaman bambu yang diwariskan keluarganya sejak puluhan tahun lalu.

Di rumah sederhana di Dusun Tumpuk, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, dia tetap semangat melestarikan produk anyaman bambu secara tradisional di tengah gempuran teknologi pabrikan.

Baca Juga: Hasil Balapan Veda Ega Moto3 Prancis 2026: Dahsyat! Sempat Tercecer ke Posisi 12 di Trek Basah, Rider Indonesia Finish P4 dan Tembus 5 Besar Dunia

‎Perempuan itu tampak telaten menyusun besek dan hamper bambu di sudut ruang kerjanya.

Tangannya bergerak cepat, sesekali merapikan anyaman yang belum sempurna.

Baca Juga: Gaya Balap Brutal Feda Ega Pratama Moto3 2026 di Q2 Le Mans: Aksi Cornering Presisi Bikin Garasi Honda Tegang, Sinyal Ancaman Rider Indonesia!

Bagi Hesti, setiap helai bambu bukan sekadar bahan baku, melainkan bagian dari warisan budaya yang harus tetap hidup.

‎Usaha anyaman bambu tersebut mulai dia tekuni secara serius sejak 2017.

Baca Juga: Harga Material Naik, Pemkot Blitar Pastikan Anggaran Bantuan RTLH tak Berubah

Saat itu, Hesti mengikuti pelatihan kerajinan yang digelar Disperindag Kabupaten Blitar dan Surabaya.

Dari pelatihan itu, dia mulai memahami teknik produksi, desain, hingga peluang pasar yang lebih luas. ‎

Baca Juga: ⁠Perbaikan Jembatan CR Sukandar Butuh Tahapan, Wali Kota Blitar: Tak Bisa Cepat karena ada Prosedurnya

“Mulai 2017, saya ikut pelatihan dari Disperindag Kabupaten Blitar dan Surabaya,” kenangnya.

‎Kini, hampir satu dekade berjalan, usaha kecil itu berkembang perlahan.

Baca Juga: Terima Keluhan Pedagang, Pemkot Blitar Bakal Evaluasi Sistem Sewa Ruko Stadion Soepriadi

Bersama tiga pekerja tetap dan dua tenaga tambahan, Hesti mampu memproduksi sekitar 50 anyaman bambu per hari.

Jumlah itu bisa bertambah ketika pesanan sedang ramai.

Baca Juga: Starting Grid Moto2 Prancis 2026: Izan Guevara Raih Pole Position, Mario Aji Siap Berjuang dari Barisan Belakang di Le Mans

‎“Biasanya 50 anyaman per hari. Tapi kalau pesanan banyak bisa produksi lebih banyak,” ujarnya.

‎Produk yang dibuat pun beragam. Mulai dari besek, bakul nasi, tas bambu, kap lampu, hamper, hingga tempat sampah.

Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah

Semuanya dikerjakan secara manual dengan ketelitian tinggi. Hesti mengaku kualitas menjadi hal paling penting dalam usahanya.

‎“Yang paling susah itu mencari orang yang bisa kerja sesuai standar saya. Harus halus, rapi, dan kuat,” tuturnya.

Baca Juga: Drama Wet Race Moto3 Le Mans 2026: Veda Pratama Tampil Gila! Sempat Tercecer ke Posisi 14, Mentalitas Baja Bawa Rider Indonesia Finish Ke-4

‎Tak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar.

Saat pesanan meningkat, Hesti melibatkan tenaga tambahan dari lingkungan setempat untuk membantu proses produksi.

Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah

‎Dalam sebulan, omzet yang diperoleh berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 8 juta tergantung jumlah pesanan.

Produk anyamannya dipasarkan secara offline ke sejumlah wilayah seperti Blitar, Talun, hingga Malang.

Baca Juga: Hasil Balapan Veda Ega Moto3 Prancis 2026: Dahsyat! Sempat Tercecer ke Posisi 12 di Trek Basah, Rider Indonesia Finish P4 dan Tembus 5 Besar Dunia

Selain itu, pemasaran online membuat produknya menjangkau konsumen luar daerah, bahkan hingga Batam.

‎Harga produknya bervariasi.

Baca Juga: Harga Material Naik, Pemkot Blitar Pastikan Anggaran Bantuan RTLH tak Berubah

Besek kecil dijual mulai Rp 2.500, sementara produk seperti tudung saji bambu dibanderol sekitar Rp 150 ribu.

Untuk rak displai lima tingkat, harganya bisa mencapai Rp 250 ribu.

Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah

‎Menjelang Ramadan dan Lebaran, pesanan biasanya melonjak tajam.

Hamper bambu menjadi salah satu produk paling banyak dicari.

Baca Juga: Terima Keluhan Pedagang, Pemkot Blitar Bakal Evaluasi Sistem Sewa Ruko Stadion Soepriadi

 ‎“Kalau musim Lebaran, bisa sampai enggak tidur. Pesanan hamper ratusan,” katanya sambil tersenyum.

Meski sempat mendapat tawaran ekspor, Hesti belum mampu memenuhi permintaan produksi dalam jumlah besar.

Baca Juga: Cabdindik Ungkap Faktor Siswa SMK di Blitar Cenderung Lebih Memilih PKL di Luar Daerah

Keterbatasan tenaga kerja menjadi kendala utama.

‎Namun, di balik keterbatasan itu, semangatnya tetap terjaga.

Baca Juga: Terima Keluhan Pedagang, Pemkot Blitar Bakal Evaluasi Sistem Sewa Ruko Stadion Soepriadi

Dari rumah kecil di Srengat, Hesti terus membuktikan bahwa anyaman bambu bukan sekadar kerajinan tradisional, melainkan karya bernilai ekonomi yang ikut menjaga identitas budaya lokal.(*/c1/sub)

Editor : Oksania Difa Ilmada
#Hesti Retno Satuti #kerajinan anyaman bambu #tradisi keluarga #umkm kreatif