BLITAR KAWENTAR - Melukis sudah menjadi bagian hidup tak terpisahkan Rizat Arifin, sejak masih belia.
Pria yang kini 58 tahun itu, tak pernah berhenti dengan hobinya itu.
Baca Juga: Soal Status Mantan Napi Calon Ketua KONI Kota Blitar, Begini Ketentuan Kemenpora
Dunia gambar dikenalnya sejak berusia delapan tahun. Hingga kini dia terus berusaha bertahan di dunia seni itu.
Awalnya, kemampuan menggambar itu muncul karena sang ayah yang ingin menghemat biaya cetak gambar.
Baca Juga: SE Kemendikdasme Tak Berdampak di Kota Blitar, Begini Kata Dispendik
Dari situlah Rizat kecil, mulai terbiasa menggambar sendiri.
Hingga akhirnya menekuni seni lukis sampai sekarang.
“Dulu bapak saya menyuruh menggambar sendiri supaya hemat biaya. Akhirnya jadi keterusan sampai sekarang,” ujarnya.
Bakatnya mulai terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Saat SMP, Rizat pernah mengikuti lomba menggambar di Kebun Binatang Surabaya dengan juri almarhum pelukis legendari Indonesia, Tino Sidin dan berhasil meraih juara.
“Saya bangga sekali, karena saya juara, dan jurinya adalah seorang legenda dunia menggambar yang pernah hadir di negeri ini,” akunya bangga.
Puluhan tahun berkarya, berbagai lomba telah diikuti olehnya.
Mulai lomba melukis tingkat nasional hingga internasional secara daring pada 2024 pernah dilakoni.
Kebanggan tersendiri baginya, di kancah internasional bisa membawa nama Indonesia.
“Untuk yang lomba internasional, meskipun daring, saya meraih peringkat enam. Bangga sekali bisa menjadi orang Indonesia yang menang di lomba tersebut. Karena saingannya orang luar semua,” aku warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan ini.
Kini, selain aktif melukis, Rizat juga fokus membina anak-anak muda melalui lomba menggambar dan melukis.
Menurut dia, banyak anak muda di Blitar yang memiliki bakat seni yang bagus, namun masih minim wadah untuk bisa berkembang.
“Anak-anak sekarang sebenarnya bagus-bagus. Ide gambarnya juga mulai kritis, sayangnya masih minim wadah dan support saja,” bebernya.
Salah satu karya peserta lomba yang paling diingatnya adalah lukisan bertema “uang tutup mulut” yang dibuat seorang anak usia remaja asal Blitar.
Menurutnya, hal itu menunjukkan keberanian generasi muda dalam menyampaikan kritik lewat karya seni.
“Kalau sudah berani menelurkan karya yang sifatnya kritis, maka daya nalar untuk menggambar sudah bagus. Biasanya kan anak atau remaja pelukis pemula paling pemandangan yang sudah normal, tapi ada juga yang punya bakat,” tuturnya.
Dia berharap, berbagai fasilitas untuk para seniman muda bisa menjadi perhatian pemerintah daerah.
Karena lewat berbagai karya yang mereka buat, akan membuat generasi muda Blitar masa kini memiliki imajinasi untuk berkarya secara luar biasa.
“Semoga aspirasi kami didengar oleh pemerintah. Minimal, pelukis mud aini punya wadah untuk berkembang lebih jauh,” harapnya. (*/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda