BLITAR KAWENTAR - Kiprah dan pengabdian di dunia olahraga Blitar telah menggaungkan namanya sebagai "bapaknya atlet Blitar". Adalah Tony Andreas, putra asli Blitar ini memang belasan tahun malang melintang dalam pembinaan dan keolahragaan, sehingga atmosfer kompetisi dari level regional, nasional, hingga internasional, bukan hal asing baginya.
Kecintaan, ditambah pengalaman, dan seabrek prestasi inilah yang membuat mantan ketua cabor hingga Ketua KONI Kabupaten Blitar dua periode ini kembali terpanggil, dan kini ditetapkan sebagai bakal calon kuat Ketua KONI Kota Blitar.
Bang Tony-sapaan akrabnya, tak hanya sekedar berkecimpung, tapi juga memiliki jejaring kuat dengan berbagai kalangan, mulai tokoh politik, pemerintah, agama, hingga TNI/Polri. Tak heran sosok yang terkenal supel dan mudah bergaul ini kembali terketuk nuraninya, setelah melihat kondisi dunia olahraga Kota Blitar yang cukup minim prestasi. Panggilan pengabdian, untuk memimpin dan mengelola olah raga di kota Bung Karno yang notabene menjadi sosok yang sangat mengaspirasinya, adalah tanggungjawab moril baginya.
“Saya ini lahir di Blitar. Jadi ketika diminta membantu meningkatkan dan mendongkrak prestasi olahraga, saya merasa terpanggil dan punya beban moril yang besar untuk itu,” tuturnya kepada Koran ini.
Capaian Kota Blitar yang berada di peringkat 27 Porprov Jatim beberapa waktu lalu, jelas lulusan terbaik Magister Hukum, Universitas Jember ini, dianggapnya tidak sebanding dengan potensi dan kemampuan atlet yang tersedia, maupun kekuatan anggaran yang pemerintah daerah kucurkan untuk olahraga, khususnya pembinaan atlet peraih prestasi.
Dia membandingkan pengalamannya saat menangani KONI Kabupaten Blitar, dimana saat awal menjabat, posisi Kabupaten Blitar berada di posisi 23 besar. Namun perlahan naik hingga menembus delapan besar ajang olah raga Jawa Timur.
“Padahal waktu itu anggarannya jauh lebih kecil. Artinya pembinaan atlet harus benar-benar maksimal. Kekuatan anggaran juga punya menjadi investasi besar untuk memaksimalkan potensi atlet," ungkapnya.
Tony menilai Blitar sebenarnya memiliki modal besar dalam olahraga, khususnya di Jawa Timur. Salah satunya lewat budaya pencak dor yang selama ini melahirkan banyak atlet potensial.
Menurutnya, banyak atlet muda dari pencak dor kemudian diarahkan masuk ke cabang olahraga resmi seperti muaythai, judo, bahkan beberapa di antaranya berhasil menyumbang medali di level nasional.
“Anak-anak pencak dor itu juga memiliki potensi luar biasa. Tinggal bagaimana ditampung, diasuh dan dibina untuk menunjukkan potensi terbaik mereka,” jelasnya.
Selain fokus pembinaan atlet, Tony juga ingin mengembangkan konsep sport tourism di Blitar. Dia menilai olahraga bisa dipadukan dengan potensi wisata dan budaya yang dimiliki daerah. “Blitar ini punya potensi sport tourism besar. Event olahraga bisa sekalian mengangkat wisata dan budaya daerah,” ujarnya.
Tony menegaskan, dirinya berikhtiar maju (bursa Pemilihan Ketua KONI Kota Blitar, Red) bukan sekadar mengejar jabatan. Pasalnya, jabatan bukan untuk dicari tapi buah dari dedikasi dan prestasi yang akan mendatangkan jabatan tersebut. Beberapa daerah telah menawarkan untuk memegang amanah untuk meningkatkan prestasi olahraga daerah lain.
"Namun tawaran itu saya tolak, karena saya merasa terpanggil untuk tetap mengabdi di kampung halaman sendiri. Blitar itu gudangnya atlet potensial, sayang kalau pembinaan dan manajerial atlet ini belum maksimal," terang pria yang juga karyawan salah satu perusahaan nasional ini.
Di sisi lain, Tony memastikan persaingan dalam kontestasi ini akan tetap berjalan sehat dan fairplay. Siapapun calonnya adalah orang-orang terbaik, dan memiliki perhatian untuk memajukan olahraga menuju prestasi. Karena memang-kalah dalam pemilihan ini bukanlah sebuah kemenangan, tapi perubahan dan mampu mendongkrak prestasi Kota Blitar itulah pemenang dan juara sejatinya.
“Siapapun yang nanti terpilih bukan soal menang atau kalah. Yang penting olahraga Kota Blitar bisa naik prestasinya, itu pemenang sejati,” pungkasnya.(bud/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah