BLITAR KAWENTAR - Kondisi sedimentasi di Bendungan Wlingi dan Lodoyo kian mengkhawatirkan.
Kapasitas tampungan air di dua bendungan di Blitar itu kini tinggal sekitar 40 persen dari kapasitas awal.
Karena itu, Perum Jasa Tirta (PJT) I melakukan flushing atau penggelontoran sedimen mulai Senin (18/5) hingga 22 Mei 2026.
Kepala Divisi Jasa Asa Wilayah Sungai Brantas PJT I, Agung Nugroho mengatakan, kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan untuk menjaga fungsi waduk tetap optimal.
Baca Juga: Sekda Kabupaten Blitar Cuti Haji, Bupati Tunjuk Inspektur Daerah Jadi Pj, Ini Pertimbangannya
Sebab, sedimentasi menjadi ancaman serius bagi operasional waduk, terutama untuk layanan irigasi dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
”Flushing ini dilakukan untuk pemeliharaan waduk agar layanan irigasi dan PLTA tetap berjalan. Kalau tidak dilakukan flushing rutin, kapasitas waduk akan terus turun karena sedimentasi,” ujarnya.
Dia melanjutkan, Bendungan Wlingi dan Lodoyo memiliki fungsi vital bagi pasokan listrik PLTA serta suplai air irigasi Lodagung yang mengairi 12.200 hektare sawah di wilayah Blitar hingga Tulungagung.
Hal ini dilakukan untuk memastikan layanan irigasi dan PLTA tetap berjalan optimal.
Dalam flushing tahun ini, total sedimen yang ditargetkan tergelontor mencapai sekitar 600 ribu meter kubik.
Rinciannya, sekitar 350 ribu meter kubik berasal dari Bendungan Wlingi dan 250 ribu meter kubik dari Waduk Lodoyo.
Baca Juga: Sekda Kabupaten Blitar Cuti Haji, Bupati Tunjuk Inspektur Daerah Jadi Pj, Ini Pertimbangannya
Angka tersebut hampir sama dengan volume sedimentasi yang digelontorkan pada tahun sebelumnya.
”Petugas juga melakukan pengerukan di area inlet PLTA dan saluran irigasi agar distribusi air tetap lancar. Harapannya, PLTA bisa kembali berfungsi sesuai kapasitas terpasang dan layanan irigasi tetap aman,” ungkapnya
Agung mengungkapkan, sedimentasi menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan bendungan.
Saat pertama dibangun, Bendungan Wlingi memiliki kapasitas tampungan sekitar 5,2 juta meter kubik.
Kini, kapasitas efektifnya tinggal sekitar 2,2 juta meter kubik atau hanya sekitar 43 persen.
Sementara kapasitas Waduk Lodoyo juga terus menyusut hingga tersisa sekitar 46 persen dari kondisi awal.
Baca Juga: Sekda Kabupaten Blitar Cuti Haji, Bupati Tunjuk Inspektur Daerah Jadi Pj, Ini Pertimbangannya
”Penurunan kapasitas ini murni karena sedimentasi,” tegasnya.
Menurutnya, sedimentasi berasal dari material vulkanik Gunung Kelud yang terbawa aliran sungai menuju Sungai Brantas.
Namun sejak dibangunnya bendungan, sabo dam dan kantong pasir, sebagian besar sedimen akhirnya tertahan di waduk ini.
Akibatnya, endapan terus menumpuk di Wlingi dan Lodoyo, sementara suplai sedimen alami ke wilayah Brantas tengah dan hilir justru berkurang.
Karena itu, flushing juga dianggap penting untuk mengalirkan kembali sedimen ke hilir sungai guna mengurangi degradasi dasar Sungai Brantas akibat penambangan pasir di wilayah tengah dan hilir.
“Selama proses flushing berlangsung, operasional PLTA dan layanan irigasi akan dihentikan sementara hingga 22 Mei 2026. Operasional normal dijadwalkan kembali berjalan mulai 23 Mei mendatang. Kami upayakan sedimentasi tetap terkendali dengan flushing rutin setiap tahun,” pungkasnya.(jar/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada