BLITAR KAWENTAR - Fenomena mencari ikan saat flushing menjadi bagian yang dinanti oleh masyarakat.
Sebab, peluang mendapat ikan lumayan besar, meskipun nyawa taruhannya.
Debit Sungai Brantas yang tinggi jadi ancaman serius.
Sejak Senin (18/5) pagi, bantaran Sungai Brantas di kawasan Bendungan Wlingi Raya sudah dipenuhi warga.
Sebagian membawa jaring, serok, hingga karung.
Mereka bukan sedang memancing biasa, melainkan berburu “ikan mabuk” yang muncul saat proses flushing bendungan berlangsung.
Warga menceburkan diri di sepanjang tepi Sungai Brantas, juga ada beberapa yang menunggu di aliran sungai Lodagung.
Mereka sudah mempersiapkan kegiatan musiman ini sejak sebulan lalu usai Perum Jasa Tirta (PJT) I mengumumkan adanya flushing pada 18 Mei.
Baca Juga: Gesits Raya Motor Listrik Jadi Sorotan, Desain Modern dan Biaya Hemat Bikin Masyarakat Mulai Beralih
Hal serupa terlihat di Sungai Bogel yang merupakan aliran dari Lodagung.
Puluhan warga mencari ikan dengan jaring di sungai tersebut.
Baca Juga: Gesits Raya Motor Listrik Jadi Sorotan, Desain Modern dan Biaya Hemat Bikin Masyarakat Mulai Beralih
Salah satunya, Sunarno yang tampak sibuk mengangkat alat jebaknya dari aliran sungai.
Sesekali pria warga Kecamatan Sutojayan itu tersenyum melihat ikan-ikan hasil tangkapannya menggeliat di dalam karung.
”Saya memang setiap tahun mencari ikan ketika flushing seperti ini. Saya datang di Sungai Bogel mulai jam setengah 10 pagi dan pulang Duhur ini. Rencananya ikan yang saya dapat ini untuk konsumsi keluarga,” katanya, sambil membersihkan lumpur di tangannya.
Sejak pukul 09.30 WIB, Sunarno sudah turun ke sungai membawa alat sederhana berupa jebak dan serok.
Caranya pun tidak rumit.
Alat dimasukkan ke dalam air, lalu diangkat perlahan mengikuti arus sungai.
Bagi Sunarno, momentum flushing Bendungan Wlingi Raya memang sudah menjadi “musim panen” dadakan bagi sebagian warga Kabupaten Blitar.
Saat pintu bendungan dibuka dan sedimen digelontor ke hilir, banyak ikan diduga mengalami kondisi lemas atau mabuk akibat perubahan arus dan lumpur yang mendadak deras.
Kondisi itulah yang dimanfaatkan warga untuk menangkap ikan dengan lebih mudah.
Karena ikan yang mabuk itu tidak usah memakai alat pancing, hanya tinggal langsung dijaring dan diserok.
Hasilnya lumayan.
Dalam beberapa jam saja, satu karung ikan berhasil dibawanya pulang.
Beratnya diperkirakan lebih dari lima kilogram.
Menurut Sunarno, mencari ikan saat flushing gampang-gampang susah.
Baca Juga: Gesits Raya Motor Listrik Jadi Sorotan, Desain Modern dan Biaya Hemat Bikin Masyarakat Mulai Beralih
Sebab, pencari harus jeli melihat ikan dan mencari lokasi yang dangkal agar aman tidak terbawa arus sungai.
Rasa takut tentu menyelimuti.
Makanya, dia harus ekstra hati-hati karena arus sungai lumayan deras disertai lumpur.
Ikan yang diperoleh Sunarno beragam jenisnya.
Mulai nila, bader, hingga kutuk memenuhi karung.
Hasil tangkapan tahun ini bahkan jauh lebih banyak dibanding tahun lalu.
”Tahun lalu, saya hanya dapat beberapa kilo saja,” ungkapnya.
Fenomena berburu ikan saat flushing memang selalu menarik perhatian warga sekitar Sungai Brantas.
Selain menjadi tontonan tahunan, kegiatan itu juga kerap dianggap membawa berkah bagi sebagian masyarakat.
Namun di balik rezeki dadakan tersebut, bahaya tetap mengintai.
Debit air Sungai Brantas meningkat drastis selama flushing berlangsung.
Bahkan, pada hari yang sama, sejumlah warga dilaporkan hanyut saat mencari ikan di aliran sungai.
Meski demikian, warga tetap nekat turun ke sungai demi mendapatkan ikan yang bermunculan akibat derasnya arus dan sedimentasi dari Bendungan Wlingi Raya.(jar/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada