BLITAR KAWENTAR - Petani di Bumi Bung Karno mulai memutar otak menghadapi ancaman fenomena El Nino di tahun ini.
Belajar dari pengalaman pahit kemarau ekstrem sebelumnya, manajemen pola tanam hingga kemandirian pupuk kini menjadi strategi utama untuk meminimalisasi gagal panen.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Setia Kawan 1 Kelurahan Ngadirejo, Endi Susilo, mengungkapkan bahwa di wilayahnya terdapat sekitar enam kelompok tani yang mengelola total lahan seluas 97 hingga 100 hektare (ha).
Khusus untuk Poktan Setia Kawan 1, luasan lahan mencapai 30-31 hektare yang kini mulai dipetakan kerawanannya.
Baca Juga: Momentum Harkitnas 2026, Wali Kota Blitar Ajak Tunas Bangsa Terus Berkarya
"Wilayah kami ada dua kategori; ada yang pernah mengalami kekeringan dan ada yang berada di daerah irigasi teknis. Meski irigasi teknis biasanya bisa mengatasi kondisi ekstrem, kami tidak mau gegabah," ujar Endi, kemarin (19/5).
Untuk menyiasati keterbatasan air, para petani di Ngadirejo kini menerapkan pola tanam variatif.
Sebagian tetap menanam padi, sementara sebagian lainnya beralih ke jagung atau hortikultura.
"Kalau semuanya padi, airnya tidak cukup karena butuh pasokan terus-menerus. Jadi kami bagi, ada yang tanaman hortikultura yang intensitas airnya tidak terlalu tinggi," imbuhnya.
Kewaspadaan ini juga dipicu oleh menurunnya pendapatan akibat perubahan musim yang mulai terasa.
Endi merinci, dari lahan 100 ru atau 1.400 meter persegi, hasil pann yang biasanya di atas 1 ton kini mulai melandai di bawah angka tersebut.
Baca Juga: Gesits Raya Motor Listrik Jadi Sorotan, Desain Modern dan Biaya Hemat Bikin Masyarakat Mulai Beralih
Padahal, biaya produksi tidak murah, yaitu mencapai Rp 2 juta per 100 ru untuk bibit dan ongkos garap.
"Makanya sekarang petani mulai masif buat pupuk organik sendiri dari limbah lingkungan. Ini kesadaran baru untuk menekan biaya operasional di tengah cuaca yang tidak menentu," tegasnya.
Kekhawatiran ini selaras dengan peringatan dini dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur.
Fenomena El Nino 2026 diprakirakan akan berdampak signifikan pada periode Juni hingga November.
Baca Juga: Momentum Harkitnas 2026, Wali Kota Blitar Ajak Tunas Bangsa Terus Berkarya
BMKG menyebut status El Nino akan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada periode Agustus hingga Oktober.
Kepala Bidang (Kabid) Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar, Dian Lukitasari, menyebutkan bahwa tahun 2024 menjadi pelajaran berharga dalam memitigasi risiko.
Saat itu, akibat El Nino, produksi padi setahun di Kota Blitar merosot tajam hanya di angka 3.000 ton, sementara saat musim bagus di 2025 bisa mencapai 8.000 ton.
"Jangan memaksakan diri jika lahan sudah tahu sulit air. Kami sarankan pilih komoditas tepat sesuai kontur lahan. Jika tetap ingin menanam padi, pilih varietas yang 'tahan banting' seperti InPago 4-13, InPari 38-49, Situbagendit, Pajajaran, atau Cakra Buana. Di Blitar sendiri, varietas InPari 42 sudah mulai masif digunakan," jelasnya.
Meski dihantui ancaman kemarau panjang, Dian mencataat tren positif pada awal tahun ini.
Produksi padi periode Januari-Maret 2026 mencapai 1.500 ton, melonjak drastis dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 420 ton.
Baca Juga: Momentum Harkitnas 2026, Wali Kota Blitar Ajak Tunas Bangsa Terus Berkarya
"Kenaikan ini karena kita punya waktu tanam yang optimal di Desember 2025 dan Januari 2026. Hasil panen awal tahun ini adalah modal penting sebelum kita memasuki masa berat El Nino pada medio tahun nanti," tandnsnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Oksania Difa Ilmada