BLITAR KAWENTAR – Situasi persebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Bumi Penataran menjelang Idul Adha dilaporkan terkendali.
Program vaksinasi secara berkelanjutan dinilai efektif menekan penyebaran virus sehingga tidak terjadi lonjakan kasus baru di kalangan peternak.
Baca Juga: Pencari Ikan di Sungai Brantas yang Menantang Maut saat Flushing Bendungan Wlingi Raya Blitar
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar mencatat tingkat kesembuhan hewan ternak yang sempat terpapar PMK kini sangat tinggi.
Dari total kasus yang sebelumnya ditangani, sebagian besar ternak telah dinyatakan pulih dan hanya menyisakan beberapa ekor yang masih dalam tahap pemantauan medis.
Baca Juga: Hadapi Dampak Kemarau Panjang El Nino, Petani di Blitar Mulai Rombak Pola Tanam
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Kabupaten Blitar, drh Lusia Adityaningtyas mengatakan, kondisi PMK di wilayah Kabupaten Blitar saat ini relatif aman dan terkendali berkat percepatan vaksinasi serta kesadaran peternak dalam melaporkan gejala penyakit.
”Hingga saat ini belum ada laporan kasus baru yang signifikan ya. Kondisinya sudah teratasi. Karena kita ada program vaksinasi, jadi untuk penambahan kasus juga tidak terlalu banyak. Tingkat kesembuhannya juga sangat tinggi,” ujarnya kepada Koran ini, kemarin (19/5).
Dia menjelaskan, sebanyak 168 ekor ternak sebelumnya telah dinyatakan sembuh total dari PMK.
Saat ini, petugas kesehatan hewan hanya melakukan pemantauan terhadap tujuh ekor ternak yang masih menjalani proses penyembuhan.
“Sekarang kami hanya menyisakan tujuh ekor yang sakit, tapi tingkat kesembuhannya sudah sangat tinggi,” tambahnya.
Selain PMK, Disnakkan Kabupaten Blitar juga terus memantau potensi penyebaran lumpy skin disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol pada sapi.
Namun, menurut Lusia, kondisi LSD di Kabupaten Blitar masih terkendali dan belum menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan.
Dia menyebut penularan LSD cenderung lebih lambat dibanding PMK sehingga lebih mudah dilakukan penanganan sejak dini.
Kesadaran peternak untuk segera melapor ketika menemukan gejala bintik maupun benjolan pada kulit sapi juga membantu proses pengendalian penyakit.
“Biasanya peternak langsung menghubungi dokter hewan saat ada gejala mencurigakan, sehingga penanganannya bisa cepat dilakukan dan tidak sampai meluas,” jelasnya.
Dengan kondisi yang semakin stabil, disnakkan berharap masyarakat tidak perlu khawatir dalam mempersiapkan kebutuhan hewan kurban menjelang Idul Adha.
Pemeriksaan kesehatan ternak juga terus dilakukan untuk memastikan hewan yang beredar dalam kondisi sehat dan layak kurban.(kho/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada