BLITAR KAWENTAR – Kolaborasi antara Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang (Polkesma) Kampus 3 Blitar bersama Pemerintah Desa Karangrejo dalam upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus (DM) memasuki tahun kedua pelaksanaan. Tahun ini, program difokuskan pada penguatan pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok keluarga peduli diabetes.
Koordinator Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Malang, Mujito, menjelaskan bahwa program tahun 2026 diarahkan untuk memperkuat keberlanjutan kegiatan yang telah dimulai sejak tahun sebelumnya. Desa Karangrejo kembali dipilih sebagai wilayah binaan karena tingginya kasus penyakit tidak menular, khususnya diabetes dan hipertensi.
“Tahun pertama fokus pada pemberdayaan keluarga. Tahun ini, kami memperkuat program agar kegiatan yang sudah berjalan tidak berhenti di tengah jalan,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Baca Juga: Korupsi Dana Kredit Ratusan Juta, Eks Dirut BPR Kota Blitar Resmi Ditahan Kejaksaan
Dalam program tersebut, Poltekkes Malang Kampus 3 Blitar membentuk dua kelompok keluarga peduli diabetes lengkap dengan kader pendamping.
Para kader kemudian diberikan pelatihan kesehatan berbasis keluarga, mulai dari pemeriksaan kesehatan mandiri, kampanye perilaku CERDIK, hingga pelatihan teknik relaksasi napas dalam KOGERTA Versi 2 yang bertujuan membantu pengendalian kadar gula darah.
Menurut Mujito, pendekatan keluarga menjadi strategi penting agar masyarakat mampu melakukan pemantauan kesehatan secara mandiri di lingkungan rumah.
Baca Juga: Motor Listrik Zongsen IS5 Meluncur, Jarak Tempuh Tembus 300 Km dan Isi Daya 40 Menit Jadi Sorotan
Selain edukasi kesehatan, program juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi kesehatan masyarakat melalui pelatihan pembuatan herbal pendamping bagi penderita diabetes.
Meski demikian, Mujito menegaskan bahwa herbal tersebut bukan pengganti terapi medis.
“Obat tetap nomor satu. Herbal ini hanya bersifat komplementer yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai terapi pendamping,” tegasnya.
Program pengabdian masyarakat tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat dan tenaga kesehatan setempat. Kader Posyandu Desa Karangrejo, Ni’mah Hanim, menyampaikan bahwa antusiasme warga cukup tinggi sejak program dimulai tahun lalu.
“Banyak warga yang mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan setelah rutin mendapat pendampingan kader dan kegiatan kesehatan dari Poltekkes,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Penanggung Jawab Program Penyakit Tidak Menular (PTM) Puskesmas Garum, Nenie Vivi Narulita. Dia menilai program tersebut sangat membantu penguatan pengelolaan pasien diabetes di tingkat keluarga. “Kegiatan ini sangat bagus karena keluarga penderita diabetes jadi bisa belajar mengelola penyakitnya secara mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Perawat Pustu Karangrejo, Ekanda Rahman Yusuf mengatakan, keberadaan kader kesehatan sangat membantu tenaga medis desa dalam melakukan skrining dan deteksi dini penyakit diabetes. “Dengan penguatan kader, penanganan pasien diabetes menjadi lebih maksimal,” katanya.
Dia menambahkan, jumlah penderita diabetes dan hipertensi di Desa Karangrejo tergolong cukup tinggi sehingga diperlukan pendampingan berbasis keluarga untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Karangrejo. Kasi Pemerintahan Desa Karangrejo, Iwan Fitriono, menilai program pengabdian masyarakat Poltekkes memberikan manfaat nyata bagi warga, khususnya kelompok lansia.
“Sebelumnya masih banyak warga yang enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan karena keterbatasan akses dan kurangnya kesadaran. Sekarang masyarakat mulai terbiasa melakukan pemeriksaan gula darah dan kontrol kesehatan secara berkala,” ungkapnya.
Dia berharap program pendampingan kesehatan berbasis keluarga tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi peningkatan kesehatan masyarakat desa. “Warga jadi lebih sadar pentingnya cek kesehatan sejak dini. Manfaatnya sangat terasa untuk masyarakat,” pungkasnya.(jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah