BLITAR KAWENTAR - Fenomena WFA belakangan lagi menjamur di kalangan anak muda.
Pergeseran pola kerja dari kantor konvensional ke kedai-kedai kopi ini disoroti langsung oleh akademisi sekaligus sosiolog muda, Novitasari.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP berusia 25 tahun tersebut menilai, WFA merupakan bentuk perubahan sosial yang nyata akibat penetrasi teknologi.
Menurutnya, produktivitas generasi muda atau milenial akhir dan Gen Z saat ini sering kali bergantung pada kenyamanan lokasi kerja yang mereka pilih sendiri.
"WFA memberikan peluang kerja lintas daerah bahkan negara yang fleksibel. Ini sangat memicu peluang bagi Gen Z yang kerjaannya kerap bercabang. Selain itu, jelas lebih efisien dari segi biaya bensin dan waktu," ujarnya.
Meski berdampak positif, sosiolog ini mengingatkan adanya konsekuensi negatif.
Baca Juga: Daftar Mobil 50 Jutaan yang Masih Layak Dipakai Tahun Ini, Harga Murah Tapi Cocok untuk Harian
Salah satunya adalah menurunnya interaksi sosial secara langsung dan kaburnya batasan waktu pribadi.
"Kerja offline biasanya dibatasi 8 jam. Kalau WFA, jika tidak disiplin, anak muda justru rentan terjebak kerja overtime atau lembur," jelasnya.
Dia menegaskan bahwa tidak semua jenis pekerjaan bisa dilakukan secara remote.
Bagi anak muda yang kini menjalankan WFA, Novitasari berpesan agar tetap menjaga disiplin waktu, bertanggung jawab, serta mengasah kemampuan komunikasi jarak jauh agar kerja tetap efektif.(mg1/c1/sub)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda