BLITAR KAWENTAR - Produsen tempe di Kecamatan Nglegok mulai merasakan tekanan berat akibat kenaikan harga bahan baku produksi yang terus terjadi dalam setahun terakhir.
Tidak hanya harga kedelai yang melonjak, biaya pembelian plastik pembungkus juga ikut naik tajam sehingga menggerus keuntungan para perajin tempe rumahan.
Tempe menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia.
Hampir di setiap daerah terdapat produsen tempe, termasuk di Blitar.
Namun, produsen tempe kini tengah menjerit lantaran harga bahan baku kedelai dan plastik merangkak naik.
Salah satu produsen tempe di Nglegok, Nasruddin, mengeluh dengan kenaikan harga tersebut.
Baca Juga: Motor Listrik Volta Mandala Jadi Sorotan, Pakai Sistem Battery Swap dan Bisa Tempuh Hingga 180 KM
Dia mengatakan, harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp 8.800 per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp 10.400 per kilogram.
Kenaikan tersebut disebut sudah berlangsung cukup lama dan belum menunjukkan tanda penurunan.
“Kalau dulu omzet sehari bisa dapat Rp 1 juta lebih. Tapi dengan kenaikan harga kedelai dan plastik sekarang ini, sisa pendapatan berkurang kurang lebih 20 persen,” ujarnya.
Menurut Nasruddin, kondisi semakin berat setelah harga plastik pembungkus ikut melonjak hampir dua kali lipat.
Jika sebelumnya plastik dibeli sekitar Rp 17.600 per kilogram, kini harganya mencapai Rp 22 ribu per kilogram.
Padahal, usaha tempe yang dijalankannya mengalami perkembangan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Dari produksi awal hanya sekitar 5 kilogram kedelai per hari, kini kapasitas produksinya telah mencapai 80 kilogram setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar.
Namun, peningkatan produksi tidak otomatis meningkatkan keuntungan.
Biaya operasional yang terus naik membuat margin usaha semakin menipis.
Meski demikian, Nasruddin memilih tetap mempertahankan harga jual tempe di angka Rp 4 ribu per biji.
Dia mengaku khawatir pelanggan akan berkurang jika harga dinaikkan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil.
“Kalau harga dinaikkan takut pembeli berkurang. Jadi sementara ini kami memilih bertahan meski keuntungan menipis,” jelasnya.
Baca Juga: HPP Gabah di Blitar Harus Bersaing dengan Tengkulak, Begini Penjelasan Bulog
Kondisi tersebut kini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil di sektor pangan.
Para produsen berharap harga bahan baku bisa kembali stabil agar usaha rumahan seperti produksi tempe tetap mampu bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.(*/c1/sub)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda