STERIL: Petugas PMI menyiapkan stok darah di laboratorium penyimpanan untuk memenuhi permintaan darah.
BLITAR KAWENTAR – Bertambahnya layanan cuci darah atau hemodialisis di sejumlah rumah sakit di Blitar berdampak pada meningkatnya kebutuhan darah.
Meski belum signifikan, kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Palang Merah Indonesia (PMI) setempat dalam menjaga ketersediaan stok darah.
Kepala UDD PMI Kabupaten Blitar, dr Pravita Rinanti, mengatakan perkembangan kebutuhan darah di wilayahnya sejauh ini masih relatif stabil. Namun, dia mencermati adanya tren peningkatan layanan hemodialisis di berbagai rumah sakit.
Baca Juga: Volta Mandala Jadi Motor Listrik Favorit Baru, Desain Retro dan Fitur Modern Bikin Pengguna Kepincut
“Sekarang beberapa rumah sakit di Blitar sudah membuka layanan cuci darah. Dulu hanya rumah sakit tertentu atau harus ke luar daerah, sekarang rumah sakit swasta juga sudah melayani,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Dengan bertambahnya fasilitas tersebut, kebutuhan darah otomatis ikut meningkat. Pasalnya, pasien hemodialisis kerap membutuhkan transfusi darah, khususnya jenis packed red cell (PRC) atau sel darah merah.
“Kebutuhan darah memang bertambah, tapi tidak terlalu signifikan. Yang paling banyak dibutuhkan tetap jenis PRC, biasanya untuk pasien cuci darah dan anemia,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan, PMI Kabupaten Blitar terus melakukan penyesuaian antara stok dan permintaan darah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengatur intensitas kegiatan donor darah.
“Kalau permintaan naik, kami tingkatkan kegiatan donor darah. Tapi kalau permintaan menurun, kegiatan donor juga kami kurangi,” katanya.
Hal tersebut dilakukan karena darah memiliki masa simpan terbatas sehingga tidak bisa disimpan terlalu lama. Jika stok berlebih dan tidak terpakai, darah berisiko kedaluwarsa dan menjadi mubazir.
“Kami harus benar-benar menyesuaikan agar tidak ada darah yang terbuang percuma,” imbuhnya.
Selain itu, PMI Kabupaten Blitar juga menerapkan sistem koordinasi antarwilayah untuk menjaga ketersediaan stok. Jika terjadi kekurangan pada jenis darah tertentu, pihaknya akan berkoordinasi dengan PMI daerah lain, termasuk Kota Blitar.
Baca Juga: Jumlah Warga Miskin di Kota Blitar Capai 9 Ribu Jiwa Lebih, Apa Langkah Pemkot?
“Prinsipnya saling melengkapi. Kalau di sini kosong, kami bisa meminta ke PMI Kota Blitar, begitu juga sebaliknya,” terangnya.
Dengan adanya peningkatan layanan kesehatan seperti hemodialisis, PMI Kabupaten Blitar mengimbau masyarakat untuk tetap aktif mendonorkan darah secara rutin.
“Dukungan masyarakat tetap dibutuhkan, salah satunya dengan ikut mendonor. Perlu diketahui, kegiatan donor darah itu juga menyehatkan. Karena ketika darah berkurang karena donor, tubuh secara alami akan kembali memproduksi darah baru,” pungkasnya.(sub/c1)
Editor : M. Subchan Abdullah