BLITAR KAWENTAR - Sektor pertanian di Bumi Bung Karno harus bersiap menghadapi El Nino 2026 dengan ancaman kekeringan irigasi dan gagal panen.
Meski petani berikhtiar membuat pupuk organik dari kotoran hewan (kohe), upaya itu tak cukup jika air benar-benar kering.
Di tengah biaya tanam yang kian menjepit hulu, limpahan 75 ribu ton beras Bulog pun belum menjamin hilangnya risiko inflasi.
SIANG itu, di hamparan sawah Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, sebagian petak tampak menghijau oleh padi, sementara sisanya dipadati barisan jagung.
Di sudut petak sawah, tanah-tanah gembur memperlihatkan usaha keras para petani yang mulai masif beralih membuat pupuk organik dari kotoran hewan dan sekam untuk menjaga kelembapan tanah.
Pemandangan kontras serta siasat penyelamatan lahan ini merupakan strategi petani demi menyiasati alarm dini El Nino 2026.
Baca Juga: Minat Penari Tradisional di Blitar Turun, Disbudpar Siapkan Strategi khusus Bagi Generasi Muda
"Kalau semuanya nekat tanam padi, airnya jelas tidak cukup. Akhirnya kami sepakat bagi komoditas agar irigasi tidak jebol," ungkap Endi Susilo, Ketua Kelompok Tani 'Setia Kawan 1' Kelurahan Ngadirejo.
Memimpin lahan seluas 30 hektare dari total 100 hektare hamparan di Ngadirejo, Endi bersama rekan sejawat berjuang menekan potensi gagal panen (fuso) massal akibat kemarau.
Kekeringan kala itu juga terjadi pada 2023-2024 silam. Sebagian petani juga mengalami puso.
Endi bercerita, dampak anomali cuaca kini mulai terasa.
Produktivitas lahan per 100 ru (1.400 meter persegi) yang biasanya menghasilkan di atas 1 ton gabah mulai susut di bawahnya.
Padahal, ongkos produksi mandiri rata-rata mencapai Rp 2 juta per 100 ru.
Baca Juga: PGRI Kota Blitar Nilai Pola Belajar Siswa Perlu Menyesuaikan Era Digital, Ini Alasannya
"Puncak El Nino diprediksi Juli-Agustus. Ketakutan terbesar kami adalah krisis air darurat yang memicu puso. Untuk menjaga kelembapan tanah, kami menyiasatinya dengan memproduksi pupuk organik sendiri dari campuran kotoran hewan dan sekam padi," keluh Endi.
Kecemasan di tingkat petani turut direspons oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar.
Baca Juga: Dishub Kabupaten Blitar Ungkap Temuan selama Uji Kir Kendaraan hingga April, Ini Hasilnya
Kepala Bidang Pertanian DKPP Dian Lukitasari menegaskan, kemarau 2026 diprediksi BMKG lebih kering dan panjang.
"Tahun 2024 jadi pelajaran berharga. Saat itu kondisi sangat berat. Produksi padi Kota Blitar setahun ambruk hingga 3.000 ton, sebelum bangkit ke angka 8.000 ton pada 2025," beber Dian.
Memutus risiko, DKPP gencar mengarahkan petani di lahan minim air beralih ke palawija.
Sementara wilayah irigasi aman diwajibkan memakai varietas genjah yang tahan kekeringan seperti InPari 42.
"Petani juga mulai masif membikin pupuk organik mandiri dari kotoran hewan dan sekam. Ini ampuh memperbaiki struktur tanah agar kuat menahan air di cuaca terik," tambahnya.
Langkah preventif ini membuahkan hasil.
Data DKPP mencatat produksi padi Kota Blitar triwulan pertama, selama Januari hingga Maret 2026, melonjak ke angka 1.500 ton.
Melesat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 420 ton berkat optimalnya masa tanam akhir tahun lalu.
Namun, ketahanan pangan lokal tak bisa berdiri sendiri.
Pengamat Pertanian sekaligus Dosen Agroteknologi Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, Palupi Puspitorini mengingatkan, El Nino adalah ancaman sistemik yang rawan memicu inflasi beras akibat penurunan produksi di sentra pangan Pulau Jawa.
"Bulog tidak boleh sekadar jadi lembaga logistik tukang simpan. Bulog harus menjadi jangkar manajemen risiko dengan melakukan penyerapan gabah lebih awal sebelum puncak kemarau, menetapkan HPP yang adil, serta memprioritaskan distribusi ke daerah rawan pangan," terangnya.
Perempuan berkacamata ini juga menyoroti tantangan diversifikasi pangan nasional.
Ketergantungan terhadap beras dinilai masih terlalu akut karena minimnya regulasi yang memaksa peralihan konsumsi secara bertahap ke jagung atau singkong.
“Kalau soal diversifikasi pangan, agak repot sepertinya. Harus dengan kebijakan dari pemerintah mungkin ya. Kalau mau diversifikasi pangan nasional, supaya gak ketergantungan dengan beras,” jelasnya.
Kalkulasi risiko itu ditanggapi dengan kesiapan stok oleh Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Tulungagung yang membawahi Tulungagung, Blitar Raya, dan Trenggalek.
Kepala Bulog KC Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, memastikan pasokan cadangan beras pemerintah (CBP) dalam kondisi surplus.
"Per Mei 2026, stok beras di gudang kami menembus 75 ribu ton. Dengan asumsi bantuan pangan gratis dan intervensi beras SPHP jalan terus, ketahanan stok aman hingga 12 bulan ke depan. Fase kritis El Nino tahun ini sudah terkunci," tegas Yonas optimistis.
Melimpahnya stok ini berkat serapan dini sepanjang Januari-Mei 2026 yang berhasil menghimpun 45.000 ton setara beras dari penggilingan lokal.
Blitar menjadi tulang punggung dengan menyumbang 20.000 ton beras.
Langkah ini selaras dengan program kedaulatan pangan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, di mana target serapan Bulog KC Tulungagung tahun ini dinaikkan menjadi 4 juta ton.
Konsekuensinya, Bulog harus memaksimalkan ruang simpan (space management).
Kapasitas lima gudang induk, termasuk Gudang Bence dan Pojok di Blitar yang hanya 65.000 ton, disiasati proaktif dengan menyewa gudang swasta.
"Total kapasitas tampung kami terkerek menjadi 95.000 ton. Tidak hanya untuk beras, tapi juga mengamankan minyak goreng dan 9.500 ton jagung pipil pakan ternak," jelas Yonas.
Menyimpan 75 ribu ton beras setahun penuh diantisipasi Bulog dengan protokol Pengendalian Hama Gudang Terpadu (PHGT).
Baca Juga: HP 3 Jutaan Kamera Bagus 2026, Hasil Foto Tajam dan Fitur Lengkap, Samsung hingga Vivo Masuk Daftar
Pintu gudang dibuka setiap pagi untuk sistem aerasi (sirkulasi udara) guna membuang panas dan menekan kelembapan.
Selain itu, tindakan spraying sebulan sekali, fumigasi berkala, serta sistem FIFO (first in first out) diterapkan agar beras di gudang tetap berumur muda dan tidak apek.
Baca Juga: Rekomendasi HP 3 Jutaan Kamera Bagus 2026, Kamera 108 MP hingga OIS Siap Hasilkan Foto Berkualitas
Di sektor hilir, harga beras medium di pasar tradisional dipastikan stabil melalui guyuran beras SPHP kemasan 5 kg seharga Rp 11.800-Rp 12.000 per kg, berada di bawah HET Rp 12.500 per kg.
Kebijakan HPP Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kg juga terbukti memberikan margin keuntungan yang membahagiakan bagi petani sekaligus membentengi harga di tingkat konsumen agar tidak melompat liar.
Baca Juga: HP 4 Jutaan Performa Tinggi 2026, Poco X8 Pro Jadi Raja Kecepatan, Infinix dan Redmi Tak Mau Kalah
"Stok pangan melimpah dan kualitasnya harus terjaga," pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda