Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ikhtiar Cerdas Petani Blitar Hadapi Dampak Fenomena El Nino 2026

M. Luki Azhari • Selasa, 26 Mei 2026 | 14:00 WIB
Ikhtiar Petani Hadapi Dampak El Nino 2026
Siasat Pupuk Kohe-Sekam Tak Cukup Redam Ancaman Keleringan
Ikhtiar Petani Hadapi Dampak El Nino 2026 Siasat Pupuk Kohe-Sekam Tak Cukup Redam Ancaman Keleringan

BLITAR KAWENTAR - Sektor pertanian di Bumi Bung Karno harus bersiap menghadapi El Nino 2026 dengan ancaman kekeringan irigasi dan gagal panen.

Meski petani berikhtiar membuat pupuk organik dari kotoran hewan (kohe), upaya itu tak cukup jika air benar-benar kering.

Baca Juga: Daftar Mobil Bekas Murah di Bogor Bikin Heboh, Nissan Evalia Matic hingga Camry 2008 Dijual Mulai Rp49 Jutaan

Di tengah biaya tanam yang kian menjepit hulu, limpahan 75 ribu ton beras Bulog pun belum menjamin hilangnya risiko inflasi.

SIANG itu, di hamparan sawah Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, sebagian petak tampak menghijau oleh padi, sementara sisanya dipadati barisan jagung.

Baca Juga: Toyota Camry Hybrid 2019 Dijual Rp315 Juta, The Brother Garage Bongkar Deretan Mobil Bekas Premium Jelang Lebaran

Di sudut petak sawah, tanah-tanah gembur memperlihatkan usaha keras para petani yang mulai masif beralih membuat pupuk organik dari kotoran hewan dan sekam untuk menjaga kelembapan tanah. 

Pemandangan kontras serta siasat penyelamatan lahan ini merupakan strategi petani demi menyiasati alarm dini El Nino 2026.

Baca Juga: Minat Penari Tradisional di Blitar Turun, Disbudpar Siapkan Strategi khusus Bagi Generasi Muda

"Kalau semuanya nekat tanam padi, airnya jelas tidak cukup. Akhirnya kami sepakat bagi komoditas agar irigasi tidak jebol," ungkap Endi Susilo, Ketua Kelompok Tani 'Setia Kawan 1' Kelurahan Ngadirejo.

Memimpin lahan seluas 30 hektare dari total 100 hektare hamparan di Ngadirejo, Endi bersama rekan sejawat berjuang menekan potensi gagal panen (fuso) massal akibat kemarau.

Baca Juga: Mobil Bekas Murah Lebaran 2026 Diserbu Pembeli, Navara 4x4 sampai Innova Matic Dijual Mulai Rp70 Jutaan

Kekeringan kala itu juga terjadi pada 2023-2024 silam. Sebagian petani juga mengalami puso.

Endi bercerita, dampak anomali cuaca kini mulai terasa.

Baca Juga: Mobil Bekas Rp100 Jutaan Makin Diburu, Nissan Serena hingga Alphard Dijual Murah, Ada yang Selisih Rp30 Juta dari Pasaran

Produktivitas lahan per 100 ru (1.400 meter persegi) yang biasanya menghasilkan di atas 1 ton gabah mulai susut di bawahnya. 

Padahal, ongkos produksi mandiri rata-rata mencapai Rp 2 juta per 100 ru.

Baca Juga: PGRI Kota Blitar Nilai Pola Belajar Siswa Perlu Menyesuaikan Era Digital, Ini Alasannya

"Puncak El Nino diprediksi Juli-Agustus. Ketakutan terbesar kami adalah krisis air darurat yang memicu puso. Untuk menjaga kelembapan tanah, kami menyiasatinya dengan memproduksi pupuk organik sendiri dari campuran kotoran hewan dan sekam padi," keluh Endi.

Kecemasan di tingkat petani turut direspons oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Blitar.

Baca Juga: Dishub Kabupaten Blitar Ungkap Temuan selama Uji Kir Kendaraan hingga April, Ini Hasilnya

Kepala Bidang Pertanian DKPP Dian Lukitasari menegaskan, kemarau 2026 diprediksi BMKG lebih kering dan panjang.

"Tahun 2024 jadi pelajaran berharga. Saat itu kondisi sangat berat. Produksi padi Kota Blitar setahun ambruk hingga 3.000 ton, sebelum bangkit ke angka 8.000 ton pada 2025," beber Dian.

Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Rp70 Jutaan, dari Mitsubishi Mirage sampai Grand Vitara, Irit dan Cocok Buat Pemula

Memutus risiko, DKPP gencar mengarahkan petani di lahan minim air beralih ke palawija. 

Sementara wilayah irigasi aman diwajibkan memakai varietas genjah yang tahan kekeringan seperti InPari 42.

Baca Juga: Bajaj Qute 2026 Resmi Tampil Lebih Canggih, Mobil Mini Irit 50 Km Ini Disebut Solusi Baru Kemacetan Kota

"Petani juga mulai masif membikin pupuk organik mandiri dari kotoran hewan dan sekam. Ini ampuh memperbaiki struktur tanah agar kuat menahan air di cuaca terik," tambahnya.

Langkah preventif ini membuahkan hasil.

Baca Juga: Bajaj Qute 2026 Muncul dengan Wajah Baru, Mobil Mini Irit 45 Km Ini Disebut Cocok untuk Pembeli Mobil Pertama

Data DKPP mencatat produksi padi Kota Blitar triwulan pertama, selama Januari hingga Maret 2026, melonjak ke angka 1.500 ton. 

Melesat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 420 ton berkat optimalnya masa tanam akhir tahun lalu.

Baca Juga: Bajaj Qute 2026 Resmi Jadi Sorotan, Mobil Mini Irit 50 Km Ini Disebut Cocok untuk Kota Padat dan Jalan Sempit

Namun, ketahanan pangan lokal tak bisa berdiri sendiri. 

Pengamat Pertanian sekaligus Dosen Agroteknologi Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar, Palupi Puspitorini mengingatkan, El Nino adalah ancaman sistemik yang rawan memicu inflasi beras akibat penurunan produksi di sentra pangan Pulau Jawa.

Baca Juga: Bajaj Qute 2026 Makin Diburu, Mobil Mini Irit 43 Km dengan Harga Rp40 Jutaan Ini Disebut Lebih Praktis dari Motor

"Bulog tidak boleh sekadar jadi lembaga logistik tukang simpan. Bulog harus menjadi jangkar manajemen risiko dengan melakukan penyerapan gabah lebih awal sebelum puncak kemarau, menetapkan HPP yang adil, serta memprioritaskan distribusi ke daerah rawan pangan," terangnya.

Perempuan berkacamata ini juga menyoroti tantangan diversifikasi pangan nasional.

Baca Juga: Harga Bajaj Qute 2026 Cuma Rp50 Jutaan? Mobil Mikro Irit 35 Km per Liter Ini Jadi Solusi Baru di Kota Besar

Ketergantungan terhadap beras dinilai masih terlalu akut karena minimnya regulasi yang memaksa peralihan konsumsi secara bertahap ke jagung atau singkong.

“Kalau soal diversifikasi pangan, agak repot sepertinya. Harus dengan kebijakan dari pemerintah mungkin ya. Kalau mau diversifikasi pangan nasional, supaya gak ketergantungan dengan beras,” jelasnya.

Baca Juga: Rekomendasi HP 4 Jutaan Performa Tinggi 2026, Snapdragon 7s Gen 4 hingga Dimensity 8500 Ultra Siap Libas Game Berat

Kalkulasi risiko itu ditanggapi dengan kesiapan stok oleh Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Tulungagung yang membawahi Tulungagung, Blitar Raya, dan Trenggalek. 

Kepala Bulog KC Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, memastikan pasokan cadangan beras pemerintah (CBP) dalam kondisi surplus.

Baca Juga: HP 5 Jutaan Terbaik 2026, Performa Mendekati Flagship hingga Kamera Periskop, Ini 5 Pilihan Paling Worth It

"Per Mei 2026, stok beras di gudang kami menembus 75 ribu ton. Dengan asumsi bantuan pangan gratis dan intervensi beras SPHP jalan terus, ketahanan stok aman hingga 12 bulan ke depan. Fase kritis El Nino tahun ini sudah terkunci," tegas Yonas optimistis.

Melimpahnya stok ini berkat serapan dini sepanjang Januari-Mei 2026 yang berhasil menghimpun 45.000 ton setara beras dari penggilingan lokal.

Baca Juga: 5 HP 5 Jutaan Terbaik 2026, Performa Kencang dan Fitur Flagship, Poco F7 hingga Galaxy A37 5G Jadi Sorotan

Blitar menjadi tulang punggung dengan menyumbang 20.000 ton beras. 

Langkah ini selaras dengan program kedaulatan pangan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, di mana target serapan Bulog KC Tulungagung tahun ini dinaikkan menjadi 4 juta ton.

Baca Juga: HP 3 Jutaan Kamera Bagus 2026, Redmi Note 15 5G hingga Samsung Galaxy A26 Jadi Pilihan Terbaik untuk Foto dan Konten

Konsekuensinya, Bulog harus memaksimalkan ruang simpan (space management).

Kapasitas lima gudang induk, termasuk Gudang Bence dan Pojok di Blitar yang hanya 65.000 ton, disiasati proaktif dengan menyewa gudang swasta.

Baca Juga: Rekomendasi HP 3 Jutaan Kamera Bagus 2026, iQOO Z10 hingga Poco X6 Pro Siap Bersaing untuk Konten dan Fotografi

"Total kapasitas tampung kami terkerek menjadi 95.000 ton. Tidak hanya untuk beras, tapi juga mengamankan minyak goreng dan 9.500 ton jagung pipil pakan ternak," jelas Yonas.

Menyimpan 75 ribu ton beras setahun penuh diantisipasi Bulog dengan protokol Pengendalian Hama Gudang Terpadu (PHGT).

Baca Juga: HP 3 Jutaan Kamera Bagus 2026, Hasil Foto Tajam dan Fitur Lengkap, Samsung hingga Vivo Masuk Daftar

Pintu gudang dibuka setiap pagi untuk sistem aerasi (sirkulasi udara) guna membuang panas dan menekan kelembapan. 

Selain itu, tindakan spraying sebulan sekali, fumigasi berkala, serta sistem FIFO (first in first out) diterapkan agar beras di gudang tetap berumur muda dan tidak apek.

Baca Juga: Rekomendasi HP 3 Jutaan Kamera Bagus 2026, Kamera 108 MP hingga OIS Siap Hasilkan Foto Berkualitas

Di sektor hilir, harga beras medium di pasar tradisional dipastikan stabil melalui guyuran beras SPHP kemasan 5 kg seharga Rp 11.800-Rp 12.000 per kg, berada di bawah HET Rp 12.500 per kg. 

Kebijakan HPP Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 6.500 per kg juga terbukti memberikan margin keuntungan yang membahagiakan bagi petani sekaligus membentengi harga di tingkat konsumen agar tidak melompat liar.

Baca Juga: HP 4 Jutaan Performa Tinggi 2026, Poco X8 Pro Jadi Raja Kecepatan, Infinix dan Redmi Tak Mau Kalah

"Stok pangan melimpah dan kualitasnya harus terjaga," pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : Riftanta Yuna Fellanda
#El Nino 2026 #kekeringan irigasi #petani Blitar #cuaca