BLITAR KAWENTAR - Jarang ditemui masjid atau petugas/panitia kurban yang masih memakai besek sebagai wadah daging kurban.
Namun berbeda dengan Masjid Syech Subakhir di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, yang justru masih mempertahankan gunakan wadah tradisional tersebut. Ini juga upaya merespon tingginya harga plastik.
Usai salat Idul Adha, takmir Masjid Syech Subakhir lansung bergeser ke halaman belakang. Mereka bersiap menyembelih dua kambing dan satu ekor sapi bantuan Presiden Prabowo. Namun yang menarik bukan hanya hewan kurban presiden, melainkan wadah dagingnya.
Baca Juga: Cerita Keluarga Korban Ledakan Petasan Balon Udara di Blitar, Paman: Dia Baru Pulang Merantau
Petugas takmir perempuan terlihat menyiapkan puluhan besek yang ditata rapi. Wadah itu diambil secara bergantian untuk diisi dengan daging sapi maupun kambing. Satu besek berisi sekitar setengah kilo daging.
Tradisi lama coba terus dihidupkan Takmir Masjid Syaikh Subakhir saat momentum Idul Adha tahun ini. Jika biasanya daging kurban dibagikan menggunakan kantong plastik, tahun ini panitia memilih memakai besek bambu sebagai wadah distribusi daging.
Keputusan itu bukan sekadar mengikuti tren ramah lingkungan. Di balik penggunaan besek, ada semangat mengurangi sampah plastik sekaligus memberdayakan perajin lokal di sekitar desa.
“Penggunaan besek baru pertama kali diterapkan pada pelaksanaan kurban tahun ini. Salah satu alasan utama beralih dari plastik adalah harga kantong plastik yang semakin mahal,” ujar Ketua Takmir Masjid Syech Subakhir, Habibi.
Namun lebih dari itu, panitia ingin kembali menggunakan wadah tradisional yang dinilai lebih kuat dan bermanfaat dibanding plastik sekali pakai. Baginya, untuk ketahanan lebih baik besek daripada plastik.
Besek yang digunakan juga bukan produk pabrikan besar. Seluruhnya dibeli dari warga sekitar yang selama ini masih membuat anyaman bambu secara tradisional.
Baca Juga: Cerita Keluarga Korban Ledakan Petasan Balon Udara di Blitar, Paman: Dia Baru Pulang Merantau
Maka dari itu, penggunaan besek dinilai ikut membantu menggerakkan ekonomi masyarakat kecil di sekitar kawasan Penataran. “Beberapa hari lalu, saya sempat kesusahan mencari wadah besek. Syukurnya masih ada warga yang membuat besek, jadi sekalian kami manfaatkan,” jelasnya.
Selain alasan ekonomi dan lingkungan, penggunaan besek juga disebut sejalan dengan anjuran pemerintah untuk mengurangi sampah plastik saat pembagian daging kurban. Maka dari itu, langkah ini efisien bagi proses distribusi daging kurban.
“Kalau di Desa Penataran harga setangkep besek itu Rp 2.500 lumayan melarisi dagangan warga sendiri. Tentu lebih baik dari pada menggunakan plastik,” terangnya.
Baca Juga: Geger Transfer Paulo Dybala ke Persib Bandung, Bintang Dunia Ini Siap Merapat ke Maung Bandung?
Tumpukan plastik bekas pembagian kurban selama ini memang menjadi persoalan tahunan usai Idul adha. Dalam hitungan jam, ribuan kantong plastik langsung berubah menjadi sampah rumah tangga.
Berbeda dengan plastik, besek bambu masih bisa digunakan ulang oleh warga untuk menyimpan makanan maupun kebutuhan rumah tangga lainnya.
Habibi mengaku respons masyarakat terhadap penggunaan besek cukup positif. Banyak warga justru menilai wadah tradisional itu lebih rapi dan memiliki nilai budaya dibanding kantong plastik biasa. Karena manfaatnya dinilai lebih besar, takmir masjid berencana mempertahankan penggunaan besek pada pembagian kurban tahun-tahun berikutnya.
“Insya Allah ke depan tetap pakai besek lagi karena lebih bermanfaat dan sekaligus bisa membantu pemberdayaan masyarakat,” pungkasnya.(*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah