BLITAR KAWENTAR - Di sela kesibukannya mengurus rumah tangga dan membesarkan anak, Cinta Wahyu Al Istiqomah Sugiarti memilih jalan yang tak banyak dilakoni ibu rumah tangga lainnya.
Warga Desa Bacem, Kecamatan Ponggok, itu justru menghabiskan sebagian waktunya untuk menumbuhkan budaya membaca di Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Wali Kota Blitar Sebut Tarif Parkir Rp 5 Ribu Tak Rasional, Begini Katanya
Kegemaran Cinta-sapaan akrabnya, terhadap dunia literasi bermula dari peran barunya sebagai seorang ibu.
Setelah pindah dari Bogor ke Blitar pada 2021, dia mulai mencari lingkungan yang memiliki minat serupa terhadap buku dan pendidikan anak.
Awalnya sederhana.
Dia membuka usaha kecil-kecilan menjual buku anak secara daring dengan nama Toko Buku Si Cumil pada 2022. Dari usaha tersebut, kedekatannya dengan buku semakin tumbuh, terutama setelah memiliki anak pertama.
“Saya ingin anak saya dekat dengan buku. Tapi saya sadar tidak mungkin melakukannya sendirian,” ujar ibu dua anak ini.
Pencarian itu membawanya bertemu komunitas Blitar Read Aloud, cabang dari gerakan membaca nyaring yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui komunitas tersebut, Cinta mulai belajar teknik membaca nyaring dan aktif turun ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan budaya membaca kepada anak-anak.
Sejak bergabung pada 2023, kegiatannya semakin padat.
Dia rutin berbagi pengalaman kepada guru, orang tua, hingga siswa mengenai pentingnya membacakan buku sejak dini.
Baginya, membaca bukan sekadar mengenalkan huruf, tetapi juga membangun kedekatan emosional dan imajinasi anak.
Perjalanan panjang itu kemudian membawanya meraih penghargaan sebagai Aktivis Literasi Kabupaten Blitar pada 2025.
Penghargaan yang diberikan Disperpusip Kabupaten Blitar tersebut menjadi pintu bagi dirinya untuk melangkah lebih jauh.
“Alhamdulila, pada 2026 ini saya juga dipercaya menjadi delegasi Kabupaten Blitar sebagai Relawan Literasi Masyarakat yang difasilitasi Perpustakaan Nasional,” ungkapnya.
Meski aktivitasnya menyita waktu, tenaga, bahkan biaya pribadi, perempuan tersebut mengaku tidak pernah merasa terbebani.
Justru dari kegiatan sosial dan literasi itulah dia menemukan energi baru.
“Banyak yang bertanya untuk apa melakukan semua ini. Tapi bagi saya ini cara sederhana untuk berkontribusi kepada masyarakat,” katanya.
Semangat pengabdian itu ternyata sudah tumbuh sejak remaja.
Saat SMA, Cinta aktif mengikuti program community service yang mengharuskannya turun langsung ke masyarakat setiap akhir pekan.
Pengalaman serupa juga dia jalani saat kuliah melalui berbagai program pengabdian masyarakat hingga kegiatan sosial di luar negeri.
Kini, mimpinya sederhana.
Dia ingin semakin banyak anak di Kabupaten Blitar tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan buku.
Sebab menurutnya, membangun budaya membaca tidak bisa dilakukan seorang diri.
“Kita butuh satu kampung, satu komunitas, untuk mendidik seorang anak. Saya hanya ingin menjadi bagian kecil dari proses itu,” pungkasnya. (jar/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda