Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Kisah Eksportir Koi asal Blitar Berhasil Jualan Ikan Hias Unggul hingga Eropa

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 1 Juni 2026 | 18:06 WIB
Kisah Nur Atim, Eksportir Koi dari Desa Kebonagung
Pelihara Ribuan Bibit, Sortir Puluhan yang Terbaik
Kisah Nur Atim, Eksportir Koi dari Desa Kebonagung Pelihara Ribuan Bibit, Sortir Puluhan yang Terbaik

BLITAR KAWENTAR - Perjalanan Nur Atim dalam budi daya Koi berawal dari perjuangan yang tidak mudah. 

Mengawali dengan memelihara gurami hingga harus merugi karena keadaan, kini beralih ke ikan hias, khususnya koi. 

Baca Juga: Umat Buddha di Kota Blitar Peringati Hari Raya Waisak, Ini Pesan dan Harapan Mereka untuk Bangsa Indonesia

Kolam-kolam berisi ribuan ikan koi tampak berjejer rapi di pekarangan rumah milik Nur Atim warga Desa Kebonagung, Kecamatan Wonodadi. 

Air kolam yang jernih memperlihatkan gerakan ikan koi berwarna merah, putih, dan hitam berenang tenang di bawah sinar matahari pagi.

Baca Juga: Musorkot KONI Kota Blitar Picu Polemik, Pemkot Minta Pencerahan BPK-Kejaksaan Terkait Kejelasan Hibah

Siapa sangka, dari tempat sederhana itu, ikan koi hasil budi dayanya kini mampu menembus pasar internasional hingga Brunei Darussalam dan Italia.

Kesuksesan yang diraih Nur Atim ternyata tidak datang secara instan.

Baca Juga: Dekat dengan Area Pasar Tradisional, Pemkot Blitar Siap Relokasi Tiga TK Negeri, Di Sini Lokasi Barunya

Sebelum dikenal sebagai eksportir ikan koi, dia pernah mengalami kerugian besar saat menekuni usaha budidaya ikan konsumsi. 

“Dulu saya sempat budi daya gurami sekitar dua tahun, tapi malah rugi besar,” ujarnya, saat ditemui di lokasi budi dayanya.

Baca Juga: Cerita Pejuang Literasi di Blitar Tumbuhkan Rasa Cinta Buku pada Anak

Dia mengaku harga ikan gurami di pasaran saat itu sulit stabil. 

Di sisi lain, biaya pakan terus mengalami kenaikan sehingga keuntungan yang diperoleh semakin kecil.

Baca Juga: Pemkot Blitar Buka Rekrutmen Pendamping Karya Mas, Sebulan Digaji Rp 3 Juta

Kondisi tersebut membuatnya harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di sektor perikanan.

Pada 2018, dia akhirnya memutuskan beralih ke budi daya ikan hias, khususnya koi.

Baca Juga: Belasan TK-SD di Kota Blitar Bakal Direhabilitasi Tahun Ini, Ini Sasarannya

Keputusan itu diambil setelah ia banyak belajar dari sesama pembudi daya ikan koi di Blitar. 

“Awalnya belajar dari teman-teman. Ternyata koi risikonya lebih kecil dibanding ikan konsumsi,” kata pria 45 tahun ini.

Baca Juga: Cuaca Bersahabat, Pabrik Gula RMI Blitar Percaya Diri Mampu Produksi Gula Capai 135 Ton sesuai Target

Menurutnya, ikan hias tetap memiliki nilai jual meskipun kualitasnya mengalami penurunan. 

Berbeda dengan ikan konsumsi yang sangat bergantung pada harga pasar dan biaya produksi harian.

Baca Juga: Jadi Atensi Serius, Ratusan Personel Gabungan Amankan Ibadah Hari Raya Waisak di Blitar

Kini, Nur Atim memiliki lima kolam besar untuk pembibitan dan pembesaran koi.

Dalam satu kolam, dia bisa menebar ribuan bibit ikan kecil. Namun, proses seleksi menjadi tahap paling menentukan.

Baca Juga: Penyakit Sifilis-HIV Jadi Temuan Paling Dominan saat Donor Darah di Blitar, Ini Penjelasan PMI

Dari ribuan bibit yang dipelihara, hanya puluhan ikan dengan kualitas terbaik yang dipertahankan hingga siap dijual. 

Seleksi dilakukan berdasarkan bentuk tubuh, pola warna, hingga karakter gerakan ikan.

Baca Juga: Hadapi Cuaca Panas Ekstrem, Dinkes Kabupaten Blitar Mulai Perkuat Pemantauan Warga Rentan

“Biasanya dari ribuan bibit itu nanti diseleksi terus. Yang benar-benar bagus mungkin tinggal sekitar 50 ekor,” jelasnya.

Dia menuturkan, proses pembibitan membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Baca Juga: Wali Kota Blitar Sebut Tarif Parkir Rp 5 Ribu Tak Rasional, Begini Katanya

Sementara untuk menghasilkan koi berkualitas kontes diperlukan waktu hingga satu tahun tujuh bulan tergantung kapasitas kolam dan perawatan.

Jenis koi yang dibudidayakan Nur Atim di antaranya varietas Gonsake dan Kohaku.

Baca Juga: Ai Ogura Moto2 Jadi Harapan Baru Jepang, Kiprahnya di Kelas Menengah Grand Prix Masih Mengundang Decak Kagum

Kedua jenis tersebut dikenal memiliki corak warna khas dan cukup diminati pasar luar negeri. 

Untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual, Nur Atim juga rutin mengikuti kontes ikan koi di berbagai daerah.

Baca Juga: Ai Ogura Moto2 Masih Jadi Sorotan, Gelar Juara Dunia Ini Disebut Mengubah Masa Depan Pembalap Jepang di MotoGP

Menurutnya, kemenangan dalam kontes mampu mendongkrak harga ikan secara signifikan. 

“Kalau ikan pernah menang kontes, harganya bisa naik berkali-kali lipat,” ujarnya.

Baca Juga: Ai Ogura Moto2 Kembali Dibahas, Perjalanan Pembalap Jepang Ini dari Talenta Muda hingga Jadi Ancaman di Panggung Dunia

Harga koi miliknya kini bervariasi mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta per ekor tergantung kualitas dan prestasi yang dimiliki ikan tersebut. 

Bahkan dalam satu kali mengikuti kontes, omzet yang diperoleh bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Baca Juga: Marc Marquez Puji Ducati Habis-Habisan, Ungkap Keunggulan yang Membuatnya Optimistis Menatap MotoGP 2026

Meski telah merasakan hasil dari usahanya, Nur Atim mengaku tetap menjalani usaha budidaya koi dengan penuh kesabaran. 

Baginya, ketekunan menjadi modal utama untuk bertahan di tengah persaingan pasar ikan hias yang terus berkembang.

Baca Juga: Marc Marquez Puji Ducati Setelah Tes Terbaru, Sebut Ada Perubahan Besar yang Bisa Jadi Penentu Gelar MotoGP 2026

“Yang penting sabar dan tekun. Dari situ, rezeki akan mengikuti,” pungkasnya sambil tersenyum.(*/c1/sub)

Editor : Riftanta Yuna Fellanda
#budi daya Koi #Eksportir Koi #Kecamatan Wonodadi #Kabupaten Blitar #ikan hias