BLITAR KAWENTAR - Perjalanan Nur Atim dalam budi daya Koi berawal dari perjuangan yang tidak mudah.
Mengawali dengan memelihara gurami hingga harus merugi karena keadaan, kini beralih ke ikan hias, khususnya koi.
Kolam-kolam berisi ribuan ikan koi tampak berjejer rapi di pekarangan rumah milik Nur Atim warga Desa Kebonagung, Kecamatan Wonodadi.
Air kolam yang jernih memperlihatkan gerakan ikan koi berwarna merah, putih, dan hitam berenang tenang di bawah sinar matahari pagi.
Siapa sangka, dari tempat sederhana itu, ikan koi hasil budi dayanya kini mampu menembus pasar internasional hingga Brunei Darussalam dan Italia.
Kesuksesan yang diraih Nur Atim ternyata tidak datang secara instan.
Sebelum dikenal sebagai eksportir ikan koi, dia pernah mengalami kerugian besar saat menekuni usaha budidaya ikan konsumsi.
“Dulu saya sempat budi daya gurami sekitar dua tahun, tapi malah rugi besar,” ujarnya, saat ditemui di lokasi budi dayanya.
Baca Juga: Cerita Pejuang Literasi di Blitar Tumbuhkan Rasa Cinta Buku pada Anak
Dia mengaku harga ikan gurami di pasaran saat itu sulit stabil.
Di sisi lain, biaya pakan terus mengalami kenaikan sehingga keuntungan yang diperoleh semakin kecil.
Baca Juga: Pemkot Blitar Buka Rekrutmen Pendamping Karya Mas, Sebulan Digaji Rp 3 Juta
Kondisi tersebut membuatnya harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di sektor perikanan.
Pada 2018, dia akhirnya memutuskan beralih ke budi daya ikan hias, khususnya koi.
Baca Juga: Belasan TK-SD di Kota Blitar Bakal Direhabilitasi Tahun Ini, Ini Sasarannya
Keputusan itu diambil setelah ia banyak belajar dari sesama pembudi daya ikan koi di Blitar.
“Awalnya belajar dari teman-teman. Ternyata koi risikonya lebih kecil dibanding ikan konsumsi,” kata pria 45 tahun ini.
Menurutnya, ikan hias tetap memiliki nilai jual meskipun kualitasnya mengalami penurunan.
Berbeda dengan ikan konsumsi yang sangat bergantung pada harga pasar dan biaya produksi harian.
Baca Juga: Jadi Atensi Serius, Ratusan Personel Gabungan Amankan Ibadah Hari Raya Waisak di Blitar
Kini, Nur Atim memiliki lima kolam besar untuk pembibitan dan pembesaran koi.
Dalam satu kolam, dia bisa menebar ribuan bibit ikan kecil. Namun, proses seleksi menjadi tahap paling menentukan.
Baca Juga: Penyakit Sifilis-HIV Jadi Temuan Paling Dominan saat Donor Darah di Blitar, Ini Penjelasan PMI
Dari ribuan bibit yang dipelihara, hanya puluhan ikan dengan kualitas terbaik yang dipertahankan hingga siap dijual.
Seleksi dilakukan berdasarkan bentuk tubuh, pola warna, hingga karakter gerakan ikan.
Baca Juga: Hadapi Cuaca Panas Ekstrem, Dinkes Kabupaten Blitar Mulai Perkuat Pemantauan Warga Rentan
“Biasanya dari ribuan bibit itu nanti diseleksi terus. Yang benar-benar bagus mungkin tinggal sekitar 50 ekor,” jelasnya.
Dia menuturkan, proses pembibitan membutuhkan waktu sekitar dua bulan.
Baca Juga: Wali Kota Blitar Sebut Tarif Parkir Rp 5 Ribu Tak Rasional, Begini Katanya
Sementara untuk menghasilkan koi berkualitas kontes diperlukan waktu hingga satu tahun tujuh bulan tergantung kapasitas kolam dan perawatan.
Jenis koi yang dibudidayakan Nur Atim di antaranya varietas Gonsake dan Kohaku.
Kedua jenis tersebut dikenal memiliki corak warna khas dan cukup diminati pasar luar negeri.
Untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual, Nur Atim juga rutin mengikuti kontes ikan koi di berbagai daerah.
Menurutnya, kemenangan dalam kontes mampu mendongkrak harga ikan secara signifikan.
“Kalau ikan pernah menang kontes, harganya bisa naik berkali-kali lipat,” ujarnya.
Harga koi miliknya kini bervariasi mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta per ekor tergantung kualitas dan prestasi yang dimiliki ikan tersebut.
Bahkan dalam satu kali mengikuti kontes, omzet yang diperoleh bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Meski telah merasakan hasil dari usahanya, Nur Atim mengaku tetap menjalani usaha budidaya koi dengan penuh kesabaran.
Baginya, ketekunan menjadi modal utama untuk bertahan di tengah persaingan pasar ikan hias yang terus berkembang.
“Yang penting sabar dan tekun. Dari situ, rezeki akan mengikuti,” pungkasnya sambil tersenyum.(*/c1/sub)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda