BLITAR KAWENTAR - Berawal dari kepanikan melihat sayur eksotis hasil kebun suaminya tak laku di pasar, Silvia Eka justru menemukan jalan ninja menjadi pengusaha katering sehat.
Siapa sangka, sebuah insiden "salah posting" menu di media sosial yang awalnya dianggap kekeliruan, malah menjadi magnet bagi para pejuang diet dan pemburu kebugaran di Kota Blitar.
Baca Juga: Lagi, Jemaah asal Blitar Wafat di Tanah Suci Bertambah, Ini Identitasnya
Di sebuah dapur di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, warna ungu kol dan hijau zukini tak lagi tampak asing.
Sayuran yang dulunya kerap dipandang sebelah mata oleh pembeli di pasar itu, kini duduk manis di dalam kotak bento, bersanding dengan nasi merah dan potongan ayam panggang yang menggugah selera.
Silvia Eka, perempuan di balik dapur tersebut, adalah sosok yang berhasil mengubah kegagalan pasar menjadi solusi kesehatan.
Kisahnya dimulai dari pipa-pipa hidroponik milik suaminya yang saban hari memproduksi sayuran eksotis.
Sayangnya, lidah warga lokal kala itu belum akrab dengan jenis sayuran yang mereka tanam.
"Sayang kalau busuk. Karena tidak semua orang tahu cara mengolah zukini atau kol ungu, akhirnya tidak laku di pasar atau peminatnya kurang," kenang perempuan 30 tahun itu.
Keresahan di tahun 2019 itulah yang kemudian melahirkan ide.
Jika warga tak mau membeli sayur mentahnya, maka Silvia akan membawanya langsung ke meja makan dalam bentuk hidangan siap santap.
Berawal dari salad, usaha itu perlahan berevolusi menjadi katering bento sehat pada 2022.
Namun, jalan menuju sukses tidak selalu linier.
Silvia sempat tertawa mengenang sebuah "kesalahan" yang justru mendatangkan berkah.
Di awal promosi, dia secara tidak sengaja mengunggah foto bento dengan tiga jenis karbohidrat sekaligus seperti nasi merah, mashed potato, dan makaroni.
"Harusnya katering diet itu karbonya satu macam. Tapi karena salah posting itu, orang malah tertarik. Mereka suka lihat tampilannya yang ramai dan unik. Dari sana, pesanan justru banjir," ungkapnya.
Kini, Silvia bak komandan bagi para pejuang diet di Blitar.
Prinsipnya tidak ada penggorengan.
Semua menu diolah dengan teknik kukus, rebus, atau panggang.
Baca Juga: SK KONI Provinsi Jawa Timur Beredar, M Samanhudi Anwar Pimpin KONI Kota Blitar Masa Bakti 2026-2030
Untuk mengakali stigma bahwa makanan sehat itu hambar, Silvia melakukan olah rasa.
Dia mengganti garam dapur dengan garam himalaya dan menggunakan daun stevia sebagai pemanis alami.
Meski mengusung konsep sehat, Silvia tetap memahami karakter lidah lokal.
Dia tak tega menghapus sambal dari daftar menu.
"Orang Blitar kalau tidak ada pedasnya, rasanya kurang mantap. Jadi sambal tetap ada, tapi takaran garamnya sangat saya jaga," tuturnya.
Menariknya, pelanggan katering Silvia tidak melulu mereka yang ingin langsing.
Ada anak muda yang dengan telaten memesankan menu mingguan untuk orang tua mereka demi menjaga kadar gula darah.
Ada pula para pegiat gym yang mengejar asupan protein bersih dari rebusan putih telur.
Baca Juga: 9 Rekomendasi HP Kamera 4K Terbaik dan Murah 2026: Kualitas Profesional Tanpa Harus Menguras Kantong
Dengan harga Rp 25 ribu per porsi, atau Rp 30 ribu jika ingin ditambah jus murni, Silvia membuktikan bahwa hidup sehat tidak harus mahal, apalagi menyiksa.
“Sayur-sayur yang dulu dianggap aneh kini justru menjadi primadona yang dicari setiap pagi,” pungkasnya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi HP Kamera 2 Jutaan Terbaik Mei 2026, Anti-Burem dengan Spek Gahar!
Lewat sekotak bento, Silvia tak hanya menyelamatkan hasil panen suaminya, tapi juga sedang menularkan napas panjang kesehatan bagi warga Bumi Bung Karno. (*/c1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda