BLITAR KAWENTAR - Hidup tidak selalu berjalan mulus sesuai harapan.
Hal itu dirasakan Nugroho, 60, warga Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.
Baca Juga: Perkuat Pendidikan Vokasi, MPM Honda Jatim Resmikan TUK Astra Honda di SMK Islam 1 Blitar
Pria yang akrab disapa Koko itu pernah mengalami kebangkrutan saat menekuni usaha peternakan telur puyuh.
Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah, dan justru menjadi pemantik semangat.
Koko memulai usaha di bidang peternakan telur puyuh sejak 2007 silam.
Saat itu, dia berharap usaha tersebut bisa menjadi sumber penghasilan utama untuk menghidupi keluarga.
Setiap hari, dia benar-benar memfokuskan pikiran dan waktu untuk mengelola dan mengurus ternak, mulai dari pemberian pakan hingga menjaga kualitas produksi telur.
Sayangnya, usaha yang dirintis dengan penuh harapan itu tidak berjalan sesuai rencana.
Baca Juga: Cukupi Stok Darah di Blitar, PMI Intensifkan Donor Darah di Sekolah-sekolah
Harga telur puyuh di pasaran terus mengalami tekanan dan turun drastis, sementara biaya produksi terutama harga pakan ternak justru terus meningkat tajam.
“Waktu itu harga telur di pasaran rendah, sedangkan biaya pakan dan perawatan terus naik. Akhirnya saya tidak bisa mempertahankan usaha ini,” kenangnya.
Dia menuturkan, kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh semakin menipis.
Hingga akhirnya, Koko harus menutup usaha peternakan yang telah dijalankannya.
Baca Juga: Siap-siap, Sekolah Rakyat di Kota Blitar Bakal Diisi Siswa Titipan dari Sini
Kerugian dan tidak sebandingnya antara laba dan ongkos produksi membuatnya harus berhenti.
“Ya, saya rugi terus. Ongkos dan biaya operasional naik terus, terpaksa saya berhenti,” akunya.
Meski sempat terjatuh, Koko memilih bangkit. Pada 2010, dia mencoba peruntungan di bidang kuliner dengan berjualan bakso dan es campur.
Usaha tersebut dijalankannya selama kurang lebih satu dekade.
Baca Juga: Dispendik Kota Blitar Mulai Lakukan Antisipasi Kendala Teknis Jelang OSN 2026
“Prinsip saya yang penting tetap bergerak. Kalau usaha satu tidak jalan, cari usaha lain yang bisa dikerjakan,” ungkapnya.
Setelah berjualan bakso dan es campur hingga 2020, Koko kembali melihat peluang baru.
Baca Juga: Lagi, Jemaah asal Blitar Wafat di Tanah Suci Bertambah, Ini Identitasnya
Yaitu, pada 2022 mulai mencoba menekuni usaha tahu tek.
Ternyata usaha itu punya peluang cukup besar karena semua kalangan menyukai kuliner ini.
Hingga kini, usaha tersebut menjadi sumber penghasilannya sehari-hari keluarganya.
“Sejak 2022, saya melihat peluang di kuliner tahu tek ini. Ternyata cukup lancar dan bisa berjalan hingga kini,” bebernya.
Koko mengakui setiap usaha pasti memiliki tantangan dan risikonya sendiri.
Karena itu, seseorang tidak boleh takut memulai kembali meski pernah mengalami kegagalan.
“Kalau gagal, jangan berhenti. Cari peluang lain dan terus berusaha. Terpenting harus tetap bergerak. Jangan diam diri, apalagi putus asa,” pesannya. (*/c1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda