BLITAR KAWENTAR - Grebeg Pancasila hingga kirab Gunungan Lima telah menjadi identitas budaya di Kota Blitar.
Salah satu event budaya yang selalu menyedot antusiasme ribuan warga dari berbagai penjuru wilayah di Blitar.
Tak sekedar upaya melestarikan tradisi lokal, tapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Jarum jam tepat menunjukkan pukul 08.00 WIB.
Baca Juga: Menepi Sejenak di Wisata Kaliganter Ponggok Blitar Sambil Belajar Sejarah
Cuaca cerah mewarnai langit dengan indah pagi itu.
Ratusan orang dengan berpakaian tradisional telah berbaris rapi di Alun-Alun Kota Blitar.
Sinar mentari pagi yang hangat dan angin sepoi-sepoi mengiringi prosesi upacara budaya Grebeg Pancasila pagi itu.
Lancar dan penuh khidmat.
Baca Juga: Tingkat Gemar Membaca di Kota Blitar Masih Rendah, Dinperpusip Tahun Ini Targetkan Lampaui 60 Persen
Upacara budaya tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni.
Yang menjadi ciri khas dari upacara budaya Grebeg Pancasila adalah keberadaan gunungan lima berisi berbagai hasil bumi.
Sayur mayur, buah-buahan dan lain sebagainya.
Gunungan lima tersebut menjadi ikon penting untuk kemudian dikirab dari Alun-alun Kota Blitar menuju kawasan Makam Bung Karno (MBK).
Keberadaan gunungan lima itu merupakan simbol lima sila dari Pancasila.
Sementara berbagai hasil bumi tersebut merupakan wujud syukur atas berkat berupa bahan pangan yang melimpah dari Tuhan yang Maha Esa.
Baca Juga: Buka Rekening Makin Fleksibel, BRImo Permudah Registrasi Nasabah di 15 Negara
Selain gunungan lima, perwakilan dari masing-masing kelurahan turut membawa tumpeng raksasa hasil bumi.
Seusai upacara, peserta kirab lanjut menuju MBK untuk mendoakan arwah Sang Proklamator Sukarno, sekaligus pencetus Pancasila sebagai dasar negara.
Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Pengguna LinkUMKM BRI Tembus 16,46 Juta Pelaku Usaha hingga April 2026
Di samping itu, juga bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang sudah membawa bangsa Indonesia merdeka.
“Grebeg Pancasila ini sudah menjadi tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kota Blitar. Kami dari pemerintah dan bersama masyarakat terus berupaya untuk nguru-uri atau melestarikan tradisi ini. Kegiatan ini penting sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada masyarakat khususnya generasi muda,” kata Plt Kepala Disbudpar Kota Blitar, Rike Rochmawati.
Bersama Wali Kota, wawali dan seluruh jajaran Forkopimda Kota Blitar, peserta kirab berjalan kaki ke MBK.
Gunungan-gunungan hasil bumi itu dipikul dan sebagian ada yang didorong.
Baca Juga: Tingkatkan Keamanan Lingkungan Tempat Tinggal, Polisi Ajak Warga Blitar Aktif Ronda Malam
Masyarakat antusias menyaksikan kirab di sepanjang pinggir ruas jalan yang dilewati.
Inilah momen yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat.
Baca Juga: Wisata Sejarah Candi Kali Cilik di Blitar Jadi Magnet Para Pelajar hingga Wisatawan Religi
Rebutan hasil bumi di gunungan tersebut.
Belum sampai finis, bahkan separo perjalanan, masyarakat sudah berebut gunungan yang dibawa peserta dari kelurahan. Ludes.
Baca Juga: Banyak Diisi Pemula, Cabor Barongsai Kota Blitar Matangkan Latihan Hadapi Piala Wali Kota Surabaya
Hingga tiba di finis hanya lima gunungan yang disisakan.
Lima gunungan spesial itu memang sengaja tidak boleh dibagikan ke masyarakat sebelum finis di MBK karena harus melewati prosesi upacara singkat dan doa yang dipimpin wali kota.
Setelah itu, barulah gunungan itu dilepas ke masyarakat.
Dalam sekejap, gunungan itu ludes jadi rebutan.
Baca Juga: Tepis Isu Ajudan Wakapolres Dianiaya, Berikut Klarifikasi Kapolres Blitar usai Viral di Medsos
Masyarakat antusias dan senang bisa berebut hingga berhasil mendapatkan.
“Alhamdulillah dapat terong, lombok, dan banyak ini. Seru,” ujar Dewi, warga Kelurahan Bendogerit yang ikut rebutan hasil bumi.
Baca Juga: Tepis Isu Ajudan Wakapolres Dianiaya, Berikut Klarifikasi Kapolres Blitar usai Viral di Medsos
Dewi mengaku tiap tahun mengikuti tradisi kirab gunungan Grebeg Pancasila.
Rebutan hasil bumi jadi momen yang ditunggu-tunggu.
“Dengan kegiatan ini masyarakat tambah guyub. Semoga Indonesia lebih baik lagi, ekonomi juga lebih baik, dan masyarakat sejahtera,” harapnya.
Warga lain, Yuli Setyowati, juga ikut berebut gunungan.
Perempuan yang sehari-hari berjualan di kawasan MBK itu rutin mengikuti Kirab Gunungan Lima.
Saat itu, dia berhasil mendapatkan hasil bumi.
“Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi.
Indonesia semakin makmur dan sejahtera,” tutur warga Kelurahan Tanggung.
Menurut mereka, dari hasil bumi yang berhasil diperoleh itu diharapkan membawa berkah.
Baik secara lahir maupun batin.
Sejumlah hasil bumi yang mereka dapat akan diolah untuk kebutuhan pangan meskipun hasilnya tidak banyak.
“Ini saya hanya dapat cabai. Mau saya buat sambal,” ujar Marsiana, warga Garum.
Baca Juga: Sensasi Berwisata Kuliner Ikan Segar di Pantai Tambakrejo Blitar
Sekadar untul diketahui, Grebeg Pancasila merupakan tradisi tahunan warga Kota Blitar yang digelar setiap 1 Juni untuk memperingati Hari Kelahiran Pancasila.
Tradisi ini digagas oleh para seniman dan tokoh budayawan Blitar atas keprihatinan masyarakat yang khawatir akan hilangnya sejarah Pancasila.
Maka itu digagaslah kegiatan arak-arakan gunungan hasil bumi dengan perpaduan simbol-simbol Pancasila untuk menanamkan nilai luhur Pancasila.(*)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda