Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Tradisi Grebeg Pancasila yang Terus Dilestarikan di Kota Blitar: Ini Bukan Sekedar Menjaga Kearifan Lokal

M. Subchan Abdullah • Senin, 8 Juni 2026 | 13:00 WIB
Tradisi Grebeg Pancasila yang Terus Lestari di Bumi Bung Karno
Antusias Rebutan Hasil Bumi, Berharap Indonesia Lebih Baik
Tradisi Grebeg Pancasila yang Terus Lestari di Bumi Bung Karno Antusias Rebutan Hasil Bumi, Berharap Indonesia Lebih Baik

BLITAR KAWENTAR - Grebeg Pancasila hingga kirab Gunungan Lima telah menjadi identitas budaya di Kota Blitar.

Salah satu event budaya yang selalu menyedot antusiasme ribuan warga dari berbagai penjuru wilayah di Blitar.

Baca Juga: Dorong Pengembangan Wisata Edukasi Berbasis Masyarakat, BRI Peduli Salurkan Bantuan untuk Desa Ketapanrame

Tak sekedar upaya melestarikan tradisi lokal, tapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Jarum jam tepat menunjukkan pukul 08.00 WIB.

Baca Juga: Menepi Sejenak di Wisata Kaliganter Ponggok Blitar Sambil Belajar Sejarah

Cuaca cerah mewarnai langit dengan indah pagi itu. 

Ratusan orang dengan berpakaian tradisional telah berbaris rapi di Alun-Alun Kota Blitar.

Baca Juga: Kota Blitar Catatkan Realisasi Investasi Ratusan Miliar di Periode Triwulan Pertama, Ini Sektor yang Mendominasi

Sinar mentari pagi yang hangat dan angin sepoi-sepoi mengiringi prosesi upacara budaya Grebeg Pancasila pagi itu. 

Lancar dan penuh khidmat.

Baca Juga: Tingkat Gemar Membaca di Kota Blitar Masih Rendah, Dinperpusip Tahun Ini Targetkan Lampaui 60 Persen

Upacara budaya tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni.

Yang menjadi ciri khas dari upacara budaya Grebeg Pancasila adalah keberadaan gunungan lima berisi berbagai hasil bumi.

Baca Juga: Wawali Mbak Elim Ditunjuk Jadi Pengurus KONI Kota Blitar, Wali Kota Mulai Kaji Aturan Rangkap Jabatan

Sayur mayur, buah-buahan dan lain sebagainya. 

Gunungan lima tersebut menjadi ikon penting untuk kemudian dikirab dari Alun-alun Kota Blitar menuju kawasan Makam Bung Karno (MBK).

Baca Juga: Langganan Podium Lomba Trail Run Nasional, Pelari Perempuan Blitar Ini Bagikan Tips Jitu Taklukkan Jalur Terjal

Keberadaan gunungan lima itu merupakan simbol lima sila dari Pancasila. 

Sementara berbagai hasil bumi tersebut merupakan wujud syukur atas berkat berupa bahan pangan yang melimpah dari Tuhan yang Maha Esa.

Baca Juga: Buka Rekening Makin Fleksibel, BRImo Permudah Registrasi Nasabah di 15 Negara

Selain gunungan lima, perwakilan dari masing-masing kelurahan turut membawa tumpeng raksasa hasil bumi.

Seusai upacara, peserta kirab lanjut menuju MBK untuk mendoakan arwah Sang Proklamator Sukarno, sekaligus pencetus Pancasila sebagai dasar negara.

Baca Juga: Dorong UMKM Naik Kelas, Pengguna LinkUMKM BRI Tembus 16,46 Juta Pelaku Usaha hingga April 2026

Di samping itu, juga bentuk penghormatan atas jasa-jasanya yang sudah membawa bangsa Indonesia merdeka.

“Grebeg Pancasila ini sudah menjadi tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kota Blitar. Kami dari pemerintah dan bersama masyarakat terus berupaya untuk nguru-uri atau melestarikan tradisi ini. Kegiatan ini penting sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada masyarakat khususnya generasi muda,” kata Plt Kepala Disbudpar Kota Blitar, Rike Rochmawati.

Baca Juga: Limbah Rumah Tangga Tak Terkelola dengan Baik, Dinkes Kabupaten Blitar Ingatkan Bahaya Pencemaran Lingkungan

Bersama Wali Kota, wawali dan seluruh jajaran Forkopimda Kota Blitar, peserta kirab berjalan kaki ke MBK. 

Gunungan-gunungan hasil bumi itu dipikul dan sebagian ada yang didorong.

Baca Juga: Tingkatkan Keamanan Lingkungan Tempat Tinggal, Polisi Ajak Warga Blitar Aktif Ronda Malam

Masyarakat antusias menyaksikan kirab di sepanjang pinggir ruas jalan yang dilewati.

Inilah momen yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat.

Baca Juga: Wisata Sejarah Candi Kali Cilik di Blitar Jadi Magnet Para Pelajar hingga Wisatawan Religi

Rebutan hasil bumi di gunungan tersebut. 

Belum sampai finis, bahkan separo perjalanan, masyarakat sudah berebut gunungan yang dibawa peserta dari kelurahan. Ludes.

Baca Juga: Banyak Diisi Pemula, Cabor Barongsai Kota Blitar Matangkan Latihan Hadapi Piala Wali Kota Surabaya

Hingga tiba di finis hanya lima gunungan yang disisakan. 

Lima gunungan spesial itu memang sengaja tidak boleh dibagikan ke masyarakat sebelum finis di MBK karena harus melewati prosesi upacara singkat dan doa yang dipimpin wali kota.

Baca Juga: Perluas Pembinaan Atlet Kriket di Blitar, PCI Siapkan Piala Bupati sekaligus Persiapan Porprov Jatim 2027

Setelah itu, barulah gunungan itu dilepas ke masyarakat.

Dalam sekejap, gunungan itu ludes jadi rebutan.

Baca Juga: Tepis Isu Ajudan Wakapolres Dianiaya, Berikut Klarifikasi Kapolres Blitar usai Viral di Medsos

Masyarakat antusias dan senang bisa berebut hingga berhasil mendapatkan. 

“Alhamdulillah dapat terong, lombok, dan banyak ini. Seru,” ujar Dewi, warga Kelurahan Bendogerit yang ikut rebutan hasil bumi.

Baca Juga: Tepis Isu Ajudan Wakapolres Dianiaya, Berikut Klarifikasi Kapolres Blitar usai Viral di Medsos

Dewi mengaku tiap tahun mengikuti tradisi kirab gunungan Grebeg Pancasila. 

Rebutan hasil bumi jadi momen yang ditunggu-tunggu.

Baca Juga: Momentum Harlah Bung Karno, Pelaku Ekonomi Kerakyatan asal Blitar Serukan Kembali ke Trisakti di Tengah Guncangan Ekonomi

“Dengan kegiatan ini masyarakat tambah guyub. Semoga Indonesia lebih baik lagi, ekonomi juga lebih baik, dan masyarakat sejahtera,” harapnya.

Warga lain, Yuli Setyowati, juga ikut berebut gunungan.

Baca Juga: Momen Harlah Bung Karno, Ketua DPD II HIP-BK Kota Blitar: Sosok Pemikirannya Penting Bagi Generasi Masa Kini

Perempuan yang sehari-hari berjualan di kawasan MBK itu rutin mengikuti Kirab Gunungan Lima. 

Saat itu, dia berhasil mendapatkan hasil bumi.

Baca Juga: Founding Forum Diskusi Kelas Bung Karno: Manifesto Sosio-Tekno Berdikari Bung Karno Bagi Generasi Masa Depan Indonesia

“Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi. 

Indonesia semakin makmur dan sejahtera,” tutur warga Kelurahan Tanggung.

Baca Juga: Founding Forum Diskusi Kelas Bung Karno: Manifesto Sosio-Tekno Berdikari Bung Karno Bagi Generasi Masa Depan Indonesia

Menurut mereka, dari hasil bumi yang berhasil diperoleh itu diharapkan membawa berkah. 

Baik secara lahir maupun batin.

Baca Juga: Dari Pakaian, Buku, hingga Tanam 29.000 Pohon, PNM Perluas Makna Pemberdayaan di Masyarakat Akar Rumput

Sejumlah hasil bumi yang mereka dapat akan diolah untuk kebutuhan pangan meskipun hasilnya tidak banyak. 

“Ini saya hanya dapat cabai. Mau saya buat sambal,” ujar Marsiana, warga Garum.

Baca Juga: ⁠Sensasi Berwisata Kuliner Ikan Segar di Pantai Tambakrejo Blitar

Sekadar untul diketahui, Grebeg Pancasila merupakan tradisi tahunan warga Kota Blitar yang digelar setiap 1 Juni untuk memperingati Hari Kelahiran Pancasila. 

Tradisi ini digagas oleh para seniman dan tokoh budayawan Blitar atas keprihatinan masyarakat yang khawatir akan hilangnya sejarah Pancasila.

Baca Juga: ⁠Destinasi Kuliner Legendaris Mbok Sini di Blitar Ajak Pengunjung Nostalgia di Rumah Nenek, Di Sini Lokasinya

Maka itu digagaslah kegiatan arak-arakan gunungan hasil bumi dengan perpaduan simbol-simbol Pancasila untuk menanamkan nilai luhur Pancasila.(*)

Editor : Riftanta Yuna Fellanda
#kirab gunungan Lima #Budaya Lokal Blitar #hari lahir pancasila #grebeg pancasila #Kota Blitar