BLITAR KAWENTAR - Efek domino penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai memicu keluhan di tingkat bawah.
Sektor transportasi informal seperti pengemudi ojek online (ojol) di wilayah Blitar Raya menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak.
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Pengendara di Blitar Berbondong-bondong Borong Pertalite
Hal itu paling dirasakan di tengah ketidakpastian pendapatan harian dan bayang-bayang inflasi.
Bahkan, kondisi ini diperparah dengan masih terjadinya kelangkaan pasokan BBM bersubsidi jenis Pertalite di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Blitar.
Baca Juga: Kabar Gembira, Pemkot Blitar Siap Cairkan Gaji ke-13 di Tanggal Ini
“Kadang ada SPBU di Blitar yang Pertalite-nya kosong karena masih menunggu pasokan pengisian. Maka dari itu, saya terpaksa harus memakai Pertamax,” keluh salah satu pengemudi ojol asal Desa Tumpang, Kecamatan Talun, Saiful Arifin.
Dia mengaku penyesuaian harga ini langsung mempertebal beban operasional yang harus dipikulnya setiap hari.
Meskipun dia jarang sekali menggunakan Pertamax, kondisi di lapangan sering kali memaksanya dan teman ojol lain untuk membeli Pertamax.
Kejadian kosongnya stok Pertalite di beberapa SPBU wilayah Blitar menjadi jebakan tersendiri.
Saat indikator bahan bakar motornya sudah menipis dan antrean Pertalite habis, tidak ada pilihan lain selain merogoh kocek lebih dalam untuk mengisi tangki dengan Pertamax agar bisa tetap menarik penumpang.
"Pendapatan saat ini sangat tidak menentu. Di saat seperti ini, kadang kehabisan Pertalite di SPBU Blitar membuat saya terpaksa beli Pertamax. Hal itu yang kami khawatirkan, dan jelas kami merasa keberatan," ungkapnya.
Beban psikologis dan finansial para pengemudi ojol kian berlipat seiring fluktuasi makroekonomi nasional.
Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS belakangan ini dinilai mulai merembes ke sektor domestik melalui kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar lokal.
Menyikapi situasi yang kian menjepit masyarakat kecil, Saiful berharap pemerintah pusat maupun daerah menaruh perhatian lebih pada stabilitas pasokan BBM subsidi di daerah.
Kebijakan yang diambil diharapkan tidak melulu menekan ruang gerak sektor informal yang menjadi bantalan ekonomi masyarakat bawah.
"Harapan saya, pemerintah bisa lebih memberikan keringanan atau kepastian harga BBM bagi kalangan menengah ke bawah seperti kami para ojol. Biaya operasional naik di saat pendapatan tidak menentu ini sangat membebani keluarga," pungkasnya.(jar/c1/ady)
Editor : Riftanta Yuna Fellanda